Berita Terkini
Kim Jong Un Awasi Uji Coba Sistem Roket Serangan Baru, Ancaman Regional Meningkat
/index.php
Berita Terkini - Diposting pada 28 January 2026 Waktu baca 5 menit
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menggelar pembicaraan via telepon dengan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS) di tengah meningkatnya ketegangan kawasan, menyusul kehadiran kapal induk Amerika Serikat dan kekhawatiran akan pecahnya konflik baru yang melibatkan Iran, Israel, maupun Washington. Komunikasi tersebut berlangsung setelah Amerika Serikat mengerahkan kapal induk USS Abraham Lincoln ke kawasan Timur Tengah. Dalam beberapa pekan terakhir, Washington memberi sinyal tengah mempertimbangkan opsi serangan terhadap Iran, menyusul tindakan keras Teheran terhadap aksi demonstrasi antipemerintah yang dilaporkan menelan ribuan korban jiwa.
Presiden AS Donald Trump juga secara terbuka melontarkan ancaman penggunaan kekuatan militer, meskipun ia menyatakan harapannya agar langkah tersebut tidak perlu direalisasikan.
Dalam percakapan yang berlangsung pada Selasa (27/1/2026), Pezeshkian mengecam apa yang ia sebut sebagai ancaman dari Amerika Serikat. Berdasarkan pernyataan resmi kantor kepresidenan Iran, Pezeshkian menegaskan bahwa tekanan tersebut bertujuan merusak stabilitas kawasan dan hanya akan memicu ketidakamanan yang lebih luas.
Pezeshkian juga menyinggung berbagai bentuk tekanan dan permusuhan terbaru terhadap Iran, termasuk tekanan ekonomi dan campur tangan pihak luar, seraya menegaskan bahwa langkah-langkah tersebut tidak berhasil melemahkan ketahanan maupun kesadaran rakyat Iran, demikian disampaikan dalam pernyataan yang dikutip Al Jazeera.
Dalam pernyataan yang sama, Mohammed bin Salman menyambut positif dialog tersebut dan kembali menegaskan komitmen Arab Saudi untuk menjaga stabilitas, keamanan, dan pembangunan kawasan. Ia menekankan pentingnya persatuan antarnegara Islam serta menegaskan bahwa Riyadh menolak segala bentuk agresi atau eskalasi terhadap Iran. MBS juga menyatakan kesiapan Arab Saudi untuk berkontribusi dalam upaya menciptakan perdamaian dan keamanan regional.
Kontak langsung antara Teheran dan Riyadh ini terjadi setelah Trump berulang kali mengancam akan melancarkan serangan terhadap Iran di tengah gelombang penindakan berdarah terhadap demonstrasi antipemerintah sepanjang bulan ini. Pekan lalu, Trump mengklaim telah mengirimkan sebuah armada ke arah Iran, meski kembali menegaskan harapannya agar kekuatan militer tersebut tidak perlu digunakan.
Seiring meningkatnya kekhawatiran akan pecahnya perang baru, seorang pejabat senior Garda Revolusi Iran (IRGC) pada Selasa turut menyampaikan peringatan keras kepada negara-negara tetangga Iran. Wakil politik angkatan laut IRGC, Mohammad Akbarzadeh, menyatakan bahwa negara-negara tetangga adalah sahabat Iran, namun jika wilayah darat, udara, atau perairan mereka digunakan untuk menyerang Iran, maka mereka akan diperlakukan sebagai pihak yang bermusuhan.
Ketegangan regional sendiri telah memburuk sejak Juni lalu, ketika Israel melancarkan serangan ke Iran yang menargetkan pejabat militer senior, ilmuwan nuklir, serta fasilitas nuklir. Amerika Serikat kemudian ikut terlibat dalam konflik selama 12 hari tersebut dengan melancarkan serangan udara terhadap tiga lokasi nuklir Iran.
Konflik itu terjadi menjelang rencana perundingan antara AS dan Iran terkait program nuklir Teheran. Namun, sejak pecahnya perang tersebut, proses dialog belum kembali dilanjutkan.
Trump secara konsisten menuntut Iran membongkar program nuklirnya dan menghentikan aktivitas pengayaan uranium. Pada Senin, seorang pejabat AS menyatakan bahwa Washington masih membuka peluang dialog dengan Teheran. Ia menyebut Iran telah memahami syarat-syarat yang diajukan Amerika Serikat.
Meski demikian, peluang tercapainya kesepakatan dinilai sangat kecil. Direktur Proyek Iran di International Crisis Group, Ali Vaez, mengatakan bahwa kemungkinan Iran memenuhi tuntutan AS hampir tidak ada. Menurutnya, para pemimpin Iran meyakini bahwa kompromi di bawah tekanan justru akan memicu tekanan yang lebih besar.
Sementara Amerika Serikat terus memperkuat kehadiran militernya di kawasan, Iran menegaskan akan memberikan respons jika diserang. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, memperingatkan bahwa dampak serangan terhadap Iran tidak akan terbatas pada satu negara saja. Ia menegaskan bahwa setiap gangguan terhadap keamanan kawasan akan berdampak luas dan bersifat menular.
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.