Berita Terkini
Kim Jong Un Awasi Uji Coba Sistem Roket Serangan Baru, Ancaman Regional Meningkat
/index.php
Saham News - Diposting pada 28 January 2026 Waktu baca 5 menit
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) jatuh tajam 5,2% setelah 40 menit perdagangan Sesi I pagi ini. Panic selling bahkan sempat menekan IHSG hingga turun 6,53% ke level 8.393 pada pembukaan perdagangan hari ini, Rabu (28/1/2026).
Tingkat ini menjadi titik terendah hari ini, sementara level tertinggi tercatat di 8.596. Sebanyak 22 miliar saham diperdagangkan dengan nilai transaksi mencapai Rp16 triliun, mayoritas berasal dari aksi jual.
Sebanyak 638 saham melemah, 41 saham menguat, dan 32 saham stagnan. Saham-saham konglomerat terpantau anjlok cukup dalam sehingga menjadi top movers pagi ini.
Beberapa saham yang terkunci di Auto Reject Bawah (ARB) antara lain DSSA turun 15%, BUVA ambles 15%, dan PTRO jatuh 14,8%. Saham lain yang terdalam di zona ARB adalah COIN (-14,9%), ENRG (-14,9%), UANG (-14,6%), VKTR (-14,6%), BUMI (-14,5%), dan GOLF (-13,8%).
Berdasarkan data Bloomberg, IHSG mencatat penurunan terdalam di kawasan ASEAN dan Asia. Kejatuhan ini dipicu langsung oleh pengumuman terbaru MSCI yang menyoroti transparansi dan keandalan data free float saham Indonesia.
Meskipun ada perbaikan minor pada sistem BEI, investor global menilai masih terdapat masalah mendasar terkait keterbukaan kepemilikan saham dan potensi perdagangan terkoordinasi yang mengganggu pembentukan harga wajar.
Stockbit Sekuritas menyebut MSCI akan menerapkan perlakuan sementara untuk pasar saham Indonesia, termasuk membekukan kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) dan Number of Shares (NOS), menunda penambahan saham ke MSCI IMI, serta menahan perpindahan saham antar-segmen ukuran. Tujuannya untuk menekan turnover indeks dan risiko investabilitas sambil memberi waktu perbaikan transparansi.
Jika perbaikan tidak tercapai hingga Mei 2026, Indonesia berpotensi mengalami penurunan bobot dalam MSCI Emerging Markets Indexes atau bahkan direklasifikasi menjadi Frontier Market.
Henan Sekuritas menilai narasi “MSCI inclusion” sementara tidak relevan. Fokus investor akan kembali ke fundamental, arus kas, dan kualitas bisnis. Sementara HP Sekuritas menekankan, ini bukan isu jangka pendek, melainkan peringatan struktural; pasar Indonesia tetap menarik, namun seleksi saham menjadi kunci.
Sumber: bloombergtechnoz.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.