Berita Terkini
Kim Jong Un Awasi Uji Coba Sistem Roket Serangan Baru, Ancaman Regional Meningkat
/index.php
Saham News - Diposting pada 28 January 2026 Waktu baca 5 menit
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kejatuhan tajam pada pembukaan perdagangan pagi ini, Rabu (28/1/2026). Indeks langsung merosot 6,8% ke posisi 8.369,48. Sepuluh menit setelah perdagangan dimulai, tekanan jual sedikit mereda sehingga penurunan menyempit menjadi sekitar 4,55%.
Meski demikian, mayoritas saham masih bergerak di zona negatif. Tercatat 632 saham melemah, 274 stagnan, dan hanya 49 saham yang menguat. Sejumlah saham unggulan yang selama ini menopang IHSG turut tertekan, bahkan beberapa menyentuh batas auto reject bawah (ARB). Saham seperti Bukit Uluwatu Villa (BUVA), Rukun Raharja (RAJA), Darma Henwa (DEWA), Petrosea (PTRO), Dian Swastatika Sentosa (DSSA), Barito Pacific (BRPT), hingga Bumi Resources (BUMI) masuk dalam daftar ARB pagi ini.
Mengacu pada data Refinitiv, seluruh sektor perdagangan tercatat berada di wilayah merah. Sektor properti menjadi yang paling tertekan dengan penurunan 6,29%, disusul sektor energi yang turun 5,5% dan teknologi yang melemah 3,66%.
Saham-saham dengan kontribusi pelemahan terbesar terhadap indeks antara lain DSSA, Barito Renewables Energy (BREN), Bank Central Asia (BBCA), Bayan Resources (BYAN), serta Bank Rakyat Indonesia (BBRI). DSSA menekan IHSG sebesar 65,56 poin, BREN 55,16 poin, BBCA 45,39 poin, BYAN 39,05 poin, dan BBRI 31,8 poin. Selain itu, DCI Indonesia (DCII), BRPT, dan BUMI juga tercatat sebagai bagian dari sepuluh saham pemberat utama IHSG pagi ini.
Anjloknya IHSG terjadi sebagai respons pasar terhadap pengumuman Morgan Stanley Capital International (MSCI) terkait evaluasi free float saham Indonesia dalam MSCI Global Standard Indexes. Dalam pernyataannya, MSCI menyoroti masih adanya kekhawatiran investor global mengenai transparansi struktur kepemilikan saham di Indonesia, meskipun Bursa Efek Indonesia (BEI) telah menunjukkan perbaikan terbatas pada data free float.
MSCI menyebut sebagian pelaku pasar internasional mendukung penggunaan laporan Monthly Holding Composition Report dari Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) sebagai referensi tambahan. Namun demikian, banyak investor menilai klasifikasi pemegang saham versi KSEI belum cukup kuat untuk mendukung penilaian free float dan kelayakan investasi.
Menurut MSCI, persoalan utama tetap terletak pada rendahnya transparansi kepemilikan saham serta potensi praktik perdagangan terkoordinasi yang dapat mengganggu mekanisme pembentukan harga yang wajar. Oleh karena itu, MSCI menilai dibutuhkan data kepemilikan yang lebih detail dan dapat dipercaya, termasuk pemantauan tingkat konsentrasi kepemilikan saham, guna menghasilkan penilaian free float yang lebih solid.
Sejalan dengan kondisi tersebut, MSCI memutuskan menerapkan perlakuan sementara terhadap sekuritas Indonesia yang berlaku efektif segera. Kebijakan ini bertujuan mengurangi risiko perputaran indeks dan risiko investabilitas sambil menunggu perbaikan transparansi dari otoritas pasar.
Dalam kebijakan interim tersebut, MSCI akan membekukan seluruh kenaikan Foreign Inclusion Factor (FIF) serta jumlah saham atau Number of Shares (NOS) yang berasal dari peninjauan indeks maupun aksi korporasi. Selain itu, tidak ada penambahan saham Indonesia ke dalam MSCI Investable Market Indexes (IMI) dan migrasi naik antarsegmen ukuran, termasuk dari Small Cap ke Standard, juga ditangguhkan.
Situasi ini membuka kemungkinan penurunan bobot saham Indonesia dalam MSCI Emerging Markets Indexes. Bahkan, MSCI juga menyampaikan peluang reklasifikasi Indonesia dari pasar berkembang menjadi pasar frontier, dengan tetap melalui proses konsultasi dengan pelaku pasar.
Investment Analyst Infovesta Kapital Advisori, Ekky Topan, menilai pengumuman MSCI tersebut berpotensi meningkatkan volatilitas pasar dan memicu arus keluar dana asing, terutama pada saham-saham yang sensitif terhadap pergerakan dana berbasis indeks. Ia menambahkan bahwa selama ini sejumlah saham domestik sempat menguat karena ekspektasi masuk ke dalam indeks MSCI, sehingga investor lokal cenderung sangat reaktif terhadap isu-isu terkait MSCI. Menurutnya, kondisi hari ini mencerminkan terjadinya aksi panic selling.
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.