Donald Trump Ancam Tarif ke Eropa Demi Greenland, Sekutu NATO Murka

Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 20 January 2026 Waktu baca 5 menit

Ketegangan antara Amerika Serikat dan negara-negara Eropa terkait isu Greenland semakin meningkat. Para pemimpin Eropa baru-baru ini menanggapi keras ancaman Presiden AS Donald Trump yang berencana mengenakan tarif tambahan terhadap Eropa apabila mereka menolak rencananya untuk mengambil alih Greenland. Eropa menilai tekanan tersebut sebagai langkah yang keliru dan tidak dapat diterima.

 

Trump sebelumnya mengumumkan pada Sabtu (17/1/2026) bahwa delapan negara sekutu Eropa akan dikenai tarif baru, dimulai sebesar 10% pada 1 Februari 2026 dan meningkat menjadi 25% pada 1 Juni 2026, apabila tidak tercapai kesepakatan yang memungkinkan Washington membeli Greenland, wilayah semi-otonom yang berada di bawah Kerajaan Denmark.

 

Melalui platform Truth Social, Trump menyatakan bahwa seluruh barang dari delapan anggota NATO yang masuk ke AS akan dikenai tarif lebih tinggi hingga tercapai kesepakatan penuh terkait akuisisi Greenland. Negara-negara yang disebutkan meliputi Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Inggris, Belanda, dan Finlandia.

 

Ancaman tersebut segera menuai reaksi. Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menegaskan bahwa mengenakan tarif terhadap sesama sekutu demi alasan keamanan kolektif NATO merupakan tindakan yang sepenuhnya salah. Presiden Prancis Emmanuel Macron juga mengecam langkah AS dan menegaskan bahwa Eropa akan merespons secara bersatu dan terkoordinasi untuk menjaga kedaulatan kawasan.

 

Pimpinan Uni Eropa, Ursula von der Leyen dan Antonio Costa, turut menyatakan solidaritas penuh terhadap Denmark dan masyarakat Greenland. Uni Eropa pun berkomitmen melanjutkan dialog, meskipun pertemuan sebelumnya antara Denmark, Greenland, dan pejabat tinggi AS belum menghasilkan terobosan.

 

Menteri Luar Negeri Denmark Lars Lokke Rasmussen mengaku terkejut dengan ancaman tarif tersebut, terutama setelah pertemuan yang dinilainya konstruktif dengan Wakil Presiden AS JD Vance dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio. Menyikapi eskalasi ini, Uni Eropa menggelar pertemuan darurat pada Minggu sore waktu London.

 

Presiden Finlandia Alexander Stubb menyerukan ketenangan dan kelanjutan dialog, seraya memperingatkan bahwa tarif tambahan akan merugikan semua pihak dan merusak hubungan transatlantik. Ia menekankan bahwa persoalan antarsekutu seharusnya diselesaikan melalui perundingan, bukan tekanan ekonomi.

 

Sementara itu, Denmark dan negara-negara Eropa terus berupaya menahan ambisi Trump atas Greenland, terutama setelah ia menyatakan tidak menutup kemungkinan penggunaan kekuatan militer demi menguasai pulau kaya sumber daya tersebut. Trump beralasan bahwa Greenland penting bagi keamanan nasional AS untuk mencegah pengaruh Rusia dan China, klaim yang ditolak oleh Beijing dan Moskow.

 

Greenland sendiri telah berulang kali menolak pendekatan AS. Meski sebagian besar penduduknya mendukung kemerdekaan dari Denmark, mayoritas warga tidak menginginkan bergabung dengan Amerika Serikat. Sikap tersebut kembali ditegaskan dalam aksi unjuk rasa di Nuuk, di mana para demonstran menyuarakan pesan bahwa Greenland tidak untuk dijual.

Sumber: cnbcindonesia.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.