Rupiah Terus Tertekan, Dolar AS Tembus Rp16.935: Ada Apa dengan Pasar?

Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 20 January 2026 Waktu baca 5 menit

Nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat dan melanjutkan pelemahan pada penutupan perdagangan awal pekan, Senin (19/1/2026). Berdasarkan data Refinitiv, rupiah ditutup turun 0,33% ke posisi Rp16.935 per dolar AS, yang sekaligus menjadi level penutupan terendah dalam catatan terbaru. Padahal, pada awal perdagangan pagi hari, rupiah sempat menguat 0,15% ke level Rp16.850 per dolar AS.

 

Sepanjang sesi perdagangan, pergerakan rupiah berada di kisaran Rp16.850 hingga Rp16.945 per dolar AS, mencerminkan fluktuasi yang cukup tinggi di tengah tekanan pasar.

 

Di sisi lain, indeks dolar AS (DXY) pada pukul 15.00 WIB justru tercatat melemah 0,20% ke level 99,199. Pelemahan dolar AS di pasar global sejatinya berpotensi mendukung penguatan mata uang negara berkembang, namun rupiah kembali tidak mampu memanfaatkan peluang tersebut.

 

Tekanan terhadap dolar AS sendiri muncul akibat meningkatnya ketidakpastian kebijakan perdagangan Amerika Serikat. Pasar merespons pernyataan Presiden AS Donald Trump yang kembali mengancam akan mengenakan tarif tambahan terhadap sejumlah negara Eropa terkait isu Greenland.

 

Ancaman tersebut memicu kekhawatiran akan meningkatnya tensi perdagangan global dan berisiko memperburuk hubungan ekonomi antara AS dan mitra utamanya di Eropa. Sejumlah negara Uni Eropa pun memberikan respons keras, menilai langkah tersebut sebagai bentuk tekanan sepihak.

 

Situasi ini mendorong pelaku pasar bersikap lebih berhati-hati, mengurangi eksposur pada aset berisiko, serta meninjau ulang prospek dolar AS dalam jangka menengah.

 

Dari dalam negeri, pelemahan rupiah juga dipengaruhi oleh kembali terjadinya arus keluar modal asing dari pasar keuangan domestik. Bank Indonesia mencatat bahwa pada periode 12–14 Januari 2026, investor asing membukukan aksi jual bersih sebesar Rp7,71 triliun, sekaligus mengakhiri tren aliran dana masuk yang berlangsung selama empat pekan sebelumnya.

 

Tekanan arus keluar tersebut terutama berasal dari pasar Surat Berharga Negara (SBN) dan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Pada periode yang sama, investor asing melepas SBN senilai Rp8,15 triliun dan SRBI sebesar Rp2,64 triliun, sementara di pasar saham masih tercatat pembelian bersih sebesar Rp3,08 triliun.

Sumber: cnbcindonesia.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.