Ekonomi RI Terpuruk, Benarkah Kita di Ambang Krisis Besar?

Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 15 May 2025 Waktu baca 5 menit

ILLUSTRASI

Kondisi ekonomi nasional menunjukkan pelemahan pada awal tahun ini. Situasinya semakin menantang karena secara global terjadi ketegangan perdagangan internasional yang dipicu oleh kebijakan tarif yang diberlakukan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

 

Muncul pertanyaan: apakah perlambatan ini akan membawa Indonesia menuju resesi?

"Tidak perlu khawatir akan terjadinya resesi," ujar Chatib Basri, anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN), dalam Kuliah Umum yang ia sampaikan di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI), dikutip Kamis (15/5/2025).

 

Optimisme Chatib tidak didasarkan pada kekuatan fundamental ekonomi Indonesia dalam menghadapi perlambatan ekonomi global akibat perang dagang, melainkan lebih karena "keberuntungan" yang datang dari minimnya keterkaitan ekonomi Indonesia dengan sistem global.

 

“Kenapa? Karena dua hal: respons kebijakan yang tepat dan keberuntungan. Sebenarnya ini bukan sesuatu yang dirancang, tetapi terjadi karena kita memang tidak terlalu kompetitif,” jelas Chatib.

 

Ia menambahkan bahwa karena Indonesia tidak cukup mampu bersaing dan memiliki tingkat integrasi yang rendah dengan ekonomi global, maka dampak perang dagang internasional terhadap perekonomian dalam negeri menjadi terbatas.

 

Chatib mencontohkan, rendahnya tingkat integrasi Indonesia ke dalam ekonomi global terlihat dari kecilnya porsi ekspor terhadap produk domestik bruto (PDB) jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga seperti Vietnam, Singapura, dan Thailand.

 

Rasio ekspor terhadap PDB Singapura bisa mencapai 180%, Vietnam 79%, dan Thailand sekitar 60%. Sementara itu, Indonesia hanya memiliki rasio sekitar 25%.

 

“Itulah mengapa kalian tidak perlu terkejut jika pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini lebih tinggi dibandingkan Vietnam dan Singapura. Sederhananya karena kontribusi ekspor terhadap PDB kita jauh lebih kecil,” ujar Chatib.

 

Dana Moneter Internasional (IMF) juga menyampaikan pandangan yang sejalan dengan Chatib. Dalam proyeksi ekonomi global terbarunya yang tertuang dalam World Economic Outlook (WEO) edisi April 2025, IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan menurun ke level 4,7% pada tahun 2025 hingga 2026.

 

Proyeksi ini merupakan revisi ke bawah dari perkiraan sebelumnya dalam WEO edisi Januari 2025, di mana IMF sempat memproyeksikan ekonomi Indonesia akan tumbuh 5,1% pada 2025 dan 2026.

 

Namun, IMF juga memprediksi bahwa Vietnam akan mengalami perlambatan ekonomi yang lebih dalam dibanding Indonesia akibat dampak perang dagang. Pertumbuhan ekonomi Vietnam diperkirakan hanya akan mencapai 5,2% pada 2025, turun dari realisasi 7,1% pada 2024.

 

Tekanan dari kebijakan tarif Amerika Serikat diperkirakan akan terus memperburuk perlambatan ekonomi Vietnam hingga 2026, dengan pertumbuhan yang turun menjadi 4%, jauh di bawah Indonesia.

 

Meski demikian, penting untuk dicatat bahwa ketika pemulihan ekonomi global mulai terjadi, Indonesia kemungkinan akan mengalami proses pemulihan yang lebih lambat dibanding negara-negara dengan keterkaitan tinggi terhadap ekonomi global. Hal ini karena ekspor, yang merupakan salah satu komponen penting dalam PDB, tidak akan terdorong signifikan oleh pemulihan tersebut.

Sumber: cnbcindonesia.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.