Teknologi Terkini
Elon Musk Bangun Pabrik Chip Rp300 Triliun, Buat Apa?
/index.php
Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 10 August 2026 Waktu baca 5 menit
Investasi dengan imbal hasil mendekati 7% per tahun tidak hanya tersedia melalui saham atau instrumen berisiko tinggi.
Surat Berharga Negara atau SBN Ritel yang diterbitkan pemerintah juga dapat menawarkan kupon pada kisaran tersebut. Salah satu contoh terbaru adalah ORI030T6 yang memberikan kupon tetap 7,00% per tahun, sedangkan ORI030T3 menawarkan 6,90%.
Keunggulan lainnya terletak pada perpajakan. Penghasilan bunga atau imbalan obligasi, termasuk sukuk, dikenakan PPh final 10% bagi wajib pajak dalam negeri. Tarif tersebut lebih rendah dibandingkan pajak final bunga deposito yang secara umum sebesar 20% untuk deposito di atas batas pengecualian yang berlaku.
Kombinasi kupon dan pajak tersebut membuat SBN kembali menjadi perhatian menjelang penerbitan Sukuk Ritel seri SR025.
Dalam materi Seminar Manfaat Sukuk Negara pada Senin, 10 Agustus 2026 yang menjadi dasar artikel ini, Direktur Pembiayaan Syariah DJPPR Kementerian Keuangan Deni Ridwan membandingkan potensi imbal hasil SBN dengan simpanan deposito.
Deni menggunakan kisaran bunga deposito sekitar 2%–3% sebagai ilustrasi, sedangkan kupon SBN disebut dapat mencapai sekitar 7%.
Perbandingan tersebut perlu dibaca dengan konteks yang tepat. Bunga deposito tidak sama di setiap bank, tenor, maupun nominal penempatan. Demikian pula kupon SBN tidak selalu berada di level 7%.
Data resmi terbaru menunjukkan ORI030T3 memberikan kupon tetap 6,90% dan ORI030T6 sebesar 7,00% per tahun. Jadi, level 7% memang tersedia pada salah satu SBN Ritel 2026, tetapi bukan berarti seluruh seri memberikan tingkat yang sama.
Sebelumnya, Sukuk Ritel SR024 menawarkan imbalan tetap 5,55% untuk tenor tiga tahun dan 5,90% untuk tenor lima tahun. Sukuk Tabungan ST016 menawarkan tingkat minimal 6,05% dan 6,25%.
Perbedaan pajak menjadi salah satu daya tarik SBN.
Peraturan Pemerintah Nomor 91 Tahun 2021 menetapkan PPh final atas penghasilan berupa bunga obligasi sebesar 10% bagi wajib pajak dalam negeri dan bentuk usaha tetap. Definisi obligasi dalam aturan tersebut juga mencakup surat utang negara serta sukuk.
Sementara itu, bunga deposito dan tabungan secara umum dikenakan PPh final 20% dari jumlah bruto untuk wajib pajak dalam negeri. Terdapat pengecualian tertentu, termasuk simpanan yang tidak melebihi Rp7,5 juta dan memenuhi ketentuan yang berlaku.
Artinya, apabila dua instrumen memberikan tingkat imbal hasil bruto yang sama, investor SBN dapat menerima hasil bersih lebih besar karena potongan pajaknya lebih rendah.
Sebagai ilustrasi sederhana, kupon 7% setelah pajak 10% menghasilkan tingkat bersih sekitar 6,3% per tahun sebelum memperhitungkan harga transaksi atau biaya lain.
Sementara bunga deposito 3% setelah pajak 20% menghasilkan sekitar 2,4% bersih per tahun, dengan asumsi deposito tersebut memang dikenakan tarif pajak penuh.
Ilustrasi ini bukan berarti seluruh SBN selalu lebih menguntungkan daripada seluruh deposito. Tingkat bunga, tenor, kebutuhan likuiditas, dan risiko harga perlu tetap dibandingkan.
Perbedaan penting lainnya adalah siapa penerbit instrumen tersebut.
SBN diterbitkan oleh Pemerintah Republik Indonesia. Untuk Surat Berharga Syariah Negara atau SBSN, Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2008 secara tegas mewajibkan pemerintah membayar imbalan dan nilai nominal SBSN sesuai akad penerbitannya. Dana untuk memenuhi kewajiban tersebut disediakan dalam APBN sampai kewajiban berakhir.
Karena itulah SBN Ritel sering digolongkan sebagai instrumen dengan risiko gagal bayar relatif sangat rendah dibandingkan surat utang perusahaan.
Namun, “dijamin pemerintah” bukan berarti investasinya bebas dari semua risiko.
SBN yang dapat diperdagangkan seperti ORI dan Sukuk Ritel memiliki risiko perubahan harga apabila dijual sebelum jatuh tempo. Harga di pasar sekunder dapat berada di atas atau di bawah nilai pembelian.
Investor yang menyimpan sampai jatuh tempo berbeda posisinya dengan investor yang membutuhkan dana dan menjual lebih cepat.
Setelah ORI030 selesai ditawarkan pada Juli, pemerintah dijadwalkan melanjutkan penerbitan SBN Ritel melalui Sukuk Ritel seri SR025.
Kalender indikatif 2026 menempatkan masa penawaran SR025 pada 21 Agustus hingga 16 September 2026. Jadwal tersebut masih bersifat tentatif dan dapat berubah mengikuti keputusan pemerintah.
SR025 dirancang dalam dua tenor:
SR025T3: tenor tiga tahun.
SR025T5: tenor lima tahun.
Informasi awal dari mitra distribusi menyebut keduanya menggunakan skema imbalan tetap atau fixed rate, dapat diperdagangkan di pasar sekunder, dan memiliki minimum pembelian satu unit atau Rp1 juta. Imbalan dibayarkan setiap tanggal 10 setiap bulan.
Namun, hingga 10 Agustus 2026, besaran kupon SR025 belum diumumkan. Halaman produk mitra distribusi masih menampilkan kolom tingkat imbalan tanpa angka.
Karena itu, investor sebaiknya tidak mengasumsikan SR025 akan otomatis memberikan kupon 7%.
ORI merupakan Surat Utang Negara konvensional, sedangkan Sukuk Ritel merupakan Surat Berharga Syariah Negara yang diterbitkan berdasarkan prinsip syariah.
Pada Sukuk Negara, pembayaran yang diterima investor disebut imbalan dan penerbitannya menggunakan akad serta underlying asset yang memenuhi struktur syariah.
Meski mekanismenya berbeda, produk ritel seperti ORI dan SR sama-sama dapat menawarkan imbalan tetap dan diperdagangkan di pasar sekunder setelah melewati masa minimum kepemilikan sesuai ketentuan masing-masing seri. SR025 juga dipersiapkan sebagai Sukuk Ritel tradable.
Untuk investor yang mengutamakan prinsip syariah, SR dapat menjadi alternatif terhadap obligasi negara konvensional.
Tidak cukup hanya melihat angka kupon.
Investor perlu membandingkan imbal hasil bersih setelah pajak, jangka waktu investasi, akses terhadap dana, risiko harga pasar sekunder, serta tujuan keuangan.
Deposito memiliki karakter yang berbeda. Dana ditempatkan di bank untuk tenor tertentu dan pencairan sebelum waktunya dapat mengikuti ketentuan atau penalti bank.
Sukuk Ritel dapat diperdagangkan setelah masa minimum kepemilikan, tetapi harga jualnya mengikuti kondisi pasar. Investor bisa memperoleh capital gain apabila harga naik, tetapi juga bisa mengalami capital loss jika menjual saat harga berada di bawah nilai pembelian.
Karena itu, tingkat kupon yang lebih tinggi tidak otomatis membuat satu instrumen menjadi pilihan terbaik untuk semua orang.
Jika investor menempatkan Rp100 juta pada instrumen dengan kupon 7% per tahun, kupon bruto setahun secara sederhana setara Rp7 juta.
Setelah PPh final 10%, nilai bersihnya sekitar Rp6,3 juta per tahun atau rata-rata ekuivalen Rp525.000 per bulan.
Angka tersebut hanya ilustrasi matematis. Pembayaran kupon aktual mengikuti ketentuan seri, jumlah hari perhitungan, jadwal pembayaran, dan mekanisme resmi pemerintah.
Sebagai pembanding, deposito Rp100 juta dengan bunga 3% menghasilkan bunga bruto Rp3 juta per tahun. Setelah pajak 20%, nilai bersihnya sekitar Rp2,4 juta.
Perbedaannya cukup besar dalam ilustrasi tersebut, tetapi suku bunga deposito dan kupon SBN saat investor membeli dapat berubah.
Ada tiga hal yang perlu dibedakan.
Pertama, 7% bukan janji keuntungan dari seluruh produk SBN. Angka tersebut merupakan tingkat yang memang diberikan oleh seri tertentu, seperti ORI030T6.
Kedua, SR025 belum memiliki kupon resmi per 10 Agustus 2026. Investor perlu menunggu pengumuman pemerintah menjelang pembukaan penawaran.
Ketiga, kupon bukan satu-satunya sumber risiko dan keuntungan. Untuk instrumen tradable, harga di pasar sekunder dapat berubah.
Investor sebaiknya menentukan terlebih dahulu apakah tujuan investasinya mencari arus kas bulanan, menyimpan dana hingga jatuh tempo, melakukan diversifikasi, atau mempertahankan likuiditas.
SBN Ritel memang dapat menawarkan kupon hingga 7% per tahun. ORI030T6 menjadi contoh terbaru dengan kupon tetap 7,00%, sedangkan pajak atas bunga atau imbalan obligasi hanya 10%.
Kombinasi tersebut dapat membuat hasil bersih SBN lebih menarik dibandingkan deposito dengan bunga lebih rendah dan pajak 20%.
Namun, perbandingan harus dilakukan berdasarkan produk dan kondisi yang sama. Tidak semua SBN memberikan kupon 7%, bunga deposito berbeda antarbank, dan SBN tradable memiliki risiko perubahan harga jika dijual sebelum jatuh tempo.
Bagi investor yang menunggu produk berikutnya, SR025 dijadwalkan ditawarkan mulai 21 Agustus hingga 16 September 2026 dengan pilihan tenor tiga dan lima tahun. Besaran imbalannya masih menunggu pengumuman resmi pemerintah.
Disclaimer: Artikel ini disusun untuk tujuan informasi dan edukasi. Pembahasan SBN, Sukuk Ritel, deposito, dan tingkat imbal hasil bukan rekomendasi personal untuk membeli produk investasi tertentu. Investor perlu mempertimbangkan tujuan keuangan, likuiditas, tenor, dan profil risiko sebelum berinvestasi.
Sumber: cnbcindonesia.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.