Teknologi Terkini
Elon Musk Bangun Pabrik Chip Rp300 Triliun, Buat Apa?
/index.php
Saham News - Diposting pada 10 August 2026 Waktu baca 5 menit
Perdagangan saham Indonesia memasuki Senin, 10 Agustus 2026 dengan sentimen yang relatif positif setelah IHSG menguat pada akhir pekan lalu dan investor asing kembali mencatatkan pembelian bersih.
Berdasarkan materi rekomendasi yang menjadi dasar artikel ini, lima saham masuk dalam radar perdagangan hari ini, yaitu CUAN, BREN, MDKA, BBRI, dan ARCI.
Masing-masing saham memiliki area beli, target harga, serta batas kerugian. Level tersebut perlu dibaca sebagai skenario perdagangan, bukan jaminan bahwa harga akan bergerak menuju target.
Berdasarkan data dalam brief, Indeks Harga Saham Gabungan ditutup naik 1,04% ke level 6.409,65 pada Jumat, 7 Agustus 2026.
Penguatan indeks disebut mendapat dukungan dari sejumlah saham berkapitalisasi besar. BBRI menguat 2,96%, DCII naik 2,77%, sedangkan TLKM bertambah 2,26%.
Di sisi lain, MAPI terkoreksi 5,03%, SMMA turun 1,99%, dan EMAS melemah 1,32%.
Investor asing dalam materi tersebut tercatat membukukan net buy Rp917,23 miliar di pasar reguler dan sekitar Rp1,27 triliun di seluruh pasar.
Dari sebelas sektor, sepuluh sektor disebut berakhir menguat. Infrastruktur memimpin dengan kenaikan 2,17%, sedangkan consumer cyclicals melemah 0,69%.
Pasar saham Amerika Serikat menutup perdagangan Jumat dalam zona hijau.
S&P 500 naik 0,62% ke 7.757,64 dan mencetak rekor penutupan. Nasdaq Composite menguat 1,30% menjadi 26.690,62, sementara Dow Jones bertambah sekitar 0,28% ke 54.036,93.
Penguatan terjadi setelah laporan pasar tenaga kerja Amerika Serikat lebih lemah dari perkiraan. Kondisi tersebut mengurangi kekhawatiran bahwa Federal Reserve harus menaikkan suku bunga dalam waktu dekat.
Sentimen Wall Street dapat membantu pasar Asia saat pembukaan. Namun, arah IHSG tetap akan dipengaruhi arus dana asing, rupiah, harga komoditas, serta pergerakan saham-saham berkapitalisasi besar.
Materi sumber menyebut FTSE Russell akan mengevaluasi status pembekuan Indonesia pada 10–14 Agustus 2026, mengumumkan hasilnya pada 21 Agustus, dan menerapkannya pada 18 September.
FTSE Russell sebelumnya menunda review saham Indonesia karena ketidakpastian mengenai free float dan tingkat kemudahan saham untuk diperdagangkan. Kebijakan tersebut membatasi penambahan emiten baru dan sejumlah perubahan bobot indeks.
Pada Mei 2026, informasi yang tersedia menunjukkan FTSE masih menunda full index re-ranking, kenaikan free float, dan penambahan IPO Indonesia hingga setidaknya review September 2026 sambil mengevaluasi perbaikan transparansi pasar.
FTSE sendiri menyatakan terus memantau reformasi pasar modal Indonesia dan dampaknya terhadap perlakuan indeks.
Karena itu, bagian FTSE lebih aman ditulis sebagai sentimen yang masih dipantau pasar, bukan sebagai agenda 21 Agustus yang sudah pasti.
PT Abadi Lestari Indonesia Tbk atau RLCO menjalankan strategi diversifikasi ekspor untuk mengurangi ketergantungan terhadap satu pasar.
Rencana ekspansi tersebut sebenarnya telah disampaikan sejak IPO perusahaan. RLCO menargetkan Vietnam, Thailand, dan Amerika Serikat sebagai pasar baru setelah sebelumnya memiliki eksposur ke China dan Hong Kong.
Perusahaan sebelumnya menyebut Vietnam sebagai pasar baru pertama, disusul Thailand dan Amerika Serikat.
Materi terbaru menyebut sekitar 90% penjualan ekspor masih berasal dari China serta pengembangan produk berbasis protein melalui Marinova ditargetkan mulai berkontribusi pada kuartal I-2027.
Materi juga mencatat pendapatan semester I-2026 Rp272 miliar dan laba bersih Rp20,37 miliar.
PT Singaraja Putra Tbk atau SINI sedang mengembangkan dua proyek batu bara melalui PT Pesona Bara Cakrawala atau PBC dan PT Cakrawala Bara Persada atau CBP.
Informasi terkait skala dua proyek tersebut telah tercantum dalam keterbukaan yang dirangkum sejumlah sumber pasar.
PBC memiliki estimasi produksi batu bara sekitar 42 juta ton dengan potensi pendapatan sekitar US$2,604 miliar sepanjang umur tambang. CBP memiliki proyeksi produksi 8 juta ton dengan potensi pendapatan sekitar US$656 juta.
Jika digabungkan, potensi pendapatan kedua proyek tersebut mencapai sekitar US$3,26 miliar. Nilai itu merupakan proyeksi kumulatif sepanjang umur proyek, bukan pendapatan tahunan.
PBC diproyeksikan mulai beroperasi komersial pada kuartal IV-2026. Untuk CBP, sumber yang tersedia menyebut target kuartal IV-2027, berbeda dengan brief yang menyebut semester II-2027.
Data progres hauling road 83,74% serta pembebasan lahan PBC 45% dan CBP 15% juga belum dapat dikonfirmasi secara independen.
PT Eastparc Hotel Tbk atau EAST membukukan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp16,96 miliar pada semester I-2026.
Jumlah tersebut meningkat sekitar 34,3% dari Rp12,62 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya. Pendapatan tercatat sekitar Rp44,78 miliar.
Pertumbuhan laba ditopang oleh efisiensi beban, termasuk turunnya beban pokok dan beban usaha.
Materi sumber kemudian menyebut EAST membagikan dividen interim II sebesar Rp2 per saham atau sekitar Rp8,25 miliar dengan cum date 10 Agustus dan pembayaran 28 Agustus 2026.
Namun, halaman aksi korporasi resmi EAST yang terindeks saat pencarian dilakukan baru mencantumkan Pengumuman Dividen Interim I 2026 dan belum menampilkan Dividen Interim II 2026.
Berikut level perdagangan berdasarkan materi rekomendasi yang diberikan.
Area beli: Rp725–Rp735
Target harga: Rp750–Rp765
Stop loss: Rp690
Dari batas atas area beli Rp735 menuju target pertama Rp750, potensi pergerakannya sekitar 2,0%. Target kedua Rp765 memberikan jarak sekitar 4,1%.
Sementara itu, jarak dari Rp735 menuju Rp690 sekitar 6,1%.
Level ini menunjukkan investor perlu disiplin terhadap harga masuk karena membeli jauh di atas area rekomendasi akan semakin mempersempit perbandingan potensi hasil terhadap risiko.
Area beli: Rp3.480–Rp3.510
Target harga: Rp3.590–Rp3.680
Stop loss: Rp3.320
Dari Rp3.510 menuju target atas Rp3.680 terdapat potensi pergerakan sekitar 4,8%, sedangkan jarak ke stop loss sekitar 5,4%.
BREN merupakan saham yang dapat mengalami volatilitas tinggi. Investor perlu mencermati volume serta kondisi pasar sebelum menggunakan level teknikal tersebut.
Area beli: Rp2.910–Rp2.930
Target harga: Rp2.970–Rp3.000
Stop loss: Rp2.760
Target pertama dari Rp2.930 hanya sekitar 1,4%, sedangkan target kedua sekitar 2,4%.
Sebaliknya, jarak menuju batas Rp2.760 mencapai sekitar 5,8%. Hal ini membuat disiplin terhadap area beli menjadi penting.
Area beli: Rp3.100–Rp3.120
Target harga: Rp3.160–Rp3.220
Stop loss: Rp2.970
Dari batas atas area beli, target pertama menawarkan jarak sekitar 1,3%, sedangkan target kedua sekitar 3,2%.
BBRI juga menjadi salah satu saham yang disebut mendukung kenaikan IHSG pada perdagangan Jumat berdasarkan materi pasar.
Area beli: Rp1.225–Rp1.235
Target harga: Rp1.250–Rp1.265
Stop loss: Rp1.155
Dari Rp1.235 menuju target atas Rp1.265, potensi pergerakannya sekitar 2,4%. Sementara jarak menuju stop loss sekitar 6,5%.
Komposisi tersebut kembali menunjukkan pentingnya tidak mengejar harga apabila saham telah bergerak jauh di atas area beli.
Apabila angka net buy Rp1,27 triliun pada Jumat terkonfirmasi, kembalinya pembelian asing menjadi sentimen positif bagi pasar.
Namun, satu hari pembelian tidak cukup untuk memastikan tren baru.
Investor perlu melihat apakah dana asing terus masuk dalam beberapa sesi berikutnya, khususnya pada saham-saham berkapitalisasi besar.
Arus asing juga perlu dibaca bersama rupiah, pasar obligasi, kondisi Wall Street, dan sentimen indeks global seperti MSCI maupun FTSE.
Lima saham dalam daftar memiliki target naik, tetapi tidak ada target yang dapat dipastikan tercapai.
Level teknikal dibuat berdasarkan kondisi pasar saat analisis diterbitkan. Apabila saham membuka perdagangan jauh di atas area beli, risiko dan potensi hasilnya sudah berubah.
Hal yang perlu diperhatikan antara lain:
Harga aktual dibandingkan area beli.
Volume dan likuiditas perdagangan.
Arah IHSG.
Arus dana asing.
Pergerakan harga komoditas.
Keterbukaan informasi emiten.
Batas kerugian yang mampu ditanggung.
Investor juga tidak perlu membeli seluruh saham yang masuk daftar. Rekomendasi pasar adalah bahan analisis, bukan daftar belanja.
CUAN, BREN, MDKA, BBRI, dan ARCI menjadi lima saham dalam radar perdagangan berdasarkan materi rekomendasi untuk 10 Agustus 2026.
IHSG memasuki pekan baru setelah menguat pada Jumat, sementara Wall Street juga memberikan sentimen positif. Namun, agenda FTSE Indonesia masih membutuhkan klarifikasi karena sumber terbaru menunjukkan full re-ranking tetap tertunda hingga review September.
Investor sebaiknya menggunakan area beli, target, dan stop loss sebagai satu paket manajemen risiko—bukan hanya melihat potensi kenaikannya.
Disclaimer: Artikel ini bersifat informatif dan edukatif. Analisis dan level harga di dalamnya bukan rekomendasi personal, jaminan keuntungan, maupun ajakan untuk membeli atau menjual saham tertentu. Setiap keputusan investasi perlu disesuaikan dengan tujuan keuangan dan profil risiko masing-masing.
Sumber: cnbcindonesia.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.