Disuntik Dana Rp10 Triliun, Saham DEWA Diproyeksi Melonjak ke 900 - 1.500

Saham News - Diposting pada 21 January 2026 Waktu baca 5 menit

Saham PT Darma Henwa Tbk (DEWA) diproyeksikan berpeluang menguat hingga level Rp900 per saham setelah perusahaan menandatangani perpanjangan kontrak pengelolaan dua tambang milik PT Arutmin Indonesia dengan nilai sekitar Rp10,5 triliun. Pada perdagangan Selasa (20/1/2026), saham DEWA sempat melonjak lebih dari 6% dan menyentuh level tertinggi Rp805 per saham. Namun, penguatan tersebut melemah pada sesi kedua sehingga saham akhirnya ditutup naik terbatas 1,99% di posisi Rp770 per saham.

 

Kenaikan saham DEWA didorong oleh sentimen positif dari perpanjangan kontrak dengan PT Arutmin Indonesia untuk Proyek Pertambangan Kintap dan Asam Asam, yang secara resmi ditandatangani pada 19 Januari 2026. Berdasarkan keterbukaan informasi, nilai proyek tersebut diperkirakan mencapai Rp10,5 triliun, dengan estimasi volume pengupasan tanah penutup (overburden) sebesar 252 juta bcm dan produksi batu bara sekitar 50 juta ton.

 

Kontrak tersebut bersifat life of mine atau berlaku sepanjang umur tambang, dengan lokasi proyek berada di Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan. Direktur dan Corporate Secretary DEWA, Mukson Arif Rosyidi, menjelaskan bahwa pada kontrak sebelumnya, proyek Asam Asam mencatatkan rata-rata produksi tahunan sebesar 17,3 juta bcm overburden dan 3,8 juta ton batu bara. Sementara di proyek Kintap, rata-rata produksi tahunan mencapai 25,3 juta bcm overburden dan 3,8 juta ton batu bara.

 

Mukson menyampaikan bahwa perpanjangan kontrak tersebut mencerminkan kepercayaan Arutmin terhadap DEWA sebagai mitra strategis jangka panjang. Ia juga menambahkan bahwa kontrak life of mine ini memberikan kepastian berkelanjutan bagi operasional perusahaan serta berdampak positif terhadap kinerja dan kondisi keuangan DEWA sebagai bagian dari Grup Bakrie.

 

Selain faktor tersebut, saham DEWA masih mendapat dorongan dari program pembelian kembali saham (buyback) yang berlangsung sejak 19 November 2025 hingga 19 Februari 2026, dengan alokasi dana maksimal Rp1,66 triliun atau setara 10% dari modal disetor. Namun, realisasi dana buyback diperkirakan lebih rendah, yakni sekitar Rp950 miliar. Hingga Selasa (20/1), dana yang telah digunakan baru mencapai Rp480 miliar, sehingga masih tersisa sekitar Rp470 miliar untuk buyback lanjutan.

 

Dengan sisa waktu buyback yang kurang dari satu bulan, saham DEWA diperkirakan masih berpotensi melanjutkan penguatan. Sejumlah analis memperkirakan harga saham DEWA dapat bergerak ke kisaran 820 dalam jangka pendek dan berpeluang menembus area 900 jika minat beli tetap kuat. BCA Sekuritas bahkan menetapkan target harga Rp1.100 per saham, sementara UOB Kay Hian Sekuritas memberikan target lebih agresif di level Rp1.500 per saham. Data Stockbit mencatat sebanyak 11 analis dari berbagai perusahaan sekuritas saat ini memberikan rekomendasi BUY untuk saham DEWA.

 

Meski demikian, terdapat sejumlah tantangan yang perlu diperhatikan. Saham DEWA memperoleh notasi L dari bursa akibat keterlambatan penyampaian laporan keuangan kuartal III/2025. Keterlambatan tersebut disebabkan oleh fokus perusahaan pada proses restrukturisasi internal, termasuk upaya menghapus akumulasi rugi dari tahun-tahun sebelumnya serta penilaian kembali atas aset lama yang sudah tidak produktif. Atas kondisi tersebut, DEWA berpotensi dikenakan denda sebesar Rp150 juta serta Surat Peringatan Ketiga (SP3).

 

Sumber: cnbcindonesia.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.