5 Saham Raksasa Indonesia Ambruk Bersamaan, 'Benteng' Pasar Kini Mulai Runtuh?

Saham News - Diposting pada 08 June 2026 Waktu baca 5 menit

Di tengah gejolak yang melanda pasar saham, investor umumnya mencari perlindungan pada saham-saham yang dikategorikan sebagai defensif.

 

Kelompok saham ini sering dianggap lebih mampu bertahan saat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada dalam tekanan karena umumnya berasal dari perusahaan besar yang memiliki fundamental kuat, model bisnis yang relatif stabil, serta peran strategis dalam perekonomian nasional.

 

Namun, tekanan pasar yang terjadi pada hari ini memperlihatkan bahwa tidak ada satu pun saham yang benar-benar kebal terhadap koreksi.

 

IHSG mengalami penurunan yang semakin dalam hingga mencapai level 5.348,95 atau turun 245,82 poin, setara pelemahan 4,39% pada perdagangan pagi Senin (8/6/2026).

 

Aksi jual berlangsung secara luas di hampir seluruh pasar. Sebanyak 606 saham tercatat melemah, hanya 57 saham yang berhasil menguat, sedangkan 296 saham tidak mengalami perubahan harga. Nilai transaksi mencapai Rp2,85 triliun dengan volume perdagangan sebesar 3,77 miliar saham serta frekuensi transaksi sebanyak 279 ribu kali.

 

Penurunan lebih dari 4% yang terjadi hanya dalam waktu sekitar 10 menit sejak perdagangan dibuka menunjukkan tekanan jual yang sangat agresif. Kondisi ini sekaligus mencerminkan bahwa kepanikan masih menjadi sentimen dominan di pasar pada pagi hari.

 

Pelemahan tajam tersebut menyebabkan kinerja IHSG secara year-to-date (ytd) telah terkoreksi sekitar 37%. Tekanan yang besar ini kemudian turut menyeret saham-saham berkapitalisasi besar yang selama ini sering dipandang sebagai saham defensif.

 

Saham defensif pada umumnya mengacu pada saham perusahaan yang mampu mempertahankan kinerja relatif stabil meskipun kondisi ekonomi sedang mengalami tekanan. Karakteristik tersebut biasanya dimiliki oleh emiten yang memiliki permintaan produk atau jasa yang konsisten, arus kas yang kuat, serta kemampuan membagikan dividen secara berkelanjutan.

 

Beberapa saham berkapitalisasi besar seperti Bank Central Asia (BBCA), Bank Rakyat Indonesia (BBRI), Bank Mandiri (BMRI), Telkom Indonesia (TLKM), dan Astra International (ASII) selama ini sering menjadi pilihan investor ketika pasar mengalami volatilitas tinggi.

 

Saham-saham tersebut dikenal memiliki tingkat likuiditas yang tinggi, skala bisnis yang besar, dan menjadi komponen utama dalam portofolio investor institusi maupun ritel. Oleh sebab itu, saham-saham tersebut kerap dianggap sebagai salah satu instrumen pertahanan ketika tekanan pasar meningkat.

 

Kelima saham tersebut bahkan sering disebut sebagai “benteng” pasar modal Indonesia. Hal ini bukan hanya karena kinerja perusahaan yang konsisten, tetapi juga karena perusahaan-perusahaan tersebut merepresentasikan sektor-sektor penting dalam perekonomian nasional.

 

Sebagaimana diketahui, sekitar 75% aktivitas ekonomi Indonesia ditopang oleh sektor perbankan sehingga peran industri perbankan sangat dominan. Sementara itu, Telkom Indonesia menjadi simbol kekuatan industri telekomunikasi nasional, sedangkan Astra International telah dikenal sebagai pemimpin industri otomotif Indonesia selama puluhan tahun.

 

Meskipun demikian, saham-saham yang selama ini dianggap defensif tersebut justru ikut mengalami tekanan yang cukup besar sejak awal tahun.

Berikut adalah pergerakan saham-saham defensif tersebut:

Emiten Kode Saham Harga Awal 2026 Harga Terkini Perubahan
PT Bank Central Asia Tbk BBCA 8.025 4.970 -38,1%
PT Bank Rakyat Indonesia Tbk BBRI 3.640 2.660 -26,9%
PT Bank Mandiri Tbk BMRI 5.075 3.780 -25,5%
PT Telkom Indonesia Tbk TLKM 3.470 2.500 -28,0%
PT Astra International Tbk ASII 6.800 4.440 -34,7%

*Harga terkini per Senin (8/6/2026) pukul 10.44 WIB.

Seluruh saham defensif yang diamati mencatatkan penurunan yang cukup signifikan sejak awal tahun. BBCA menjadi saham dengan koreksi terdalam setelah turun 38,1% dari Rp8.025 per saham menjadi Rp4.970 per saham.

 

Tekanan yang besar juga dialami oleh ASII yang terkoreksi 34,7% hingga berada di level Rp4.440 per saham. Di sisi lain, TLKM melemah 28,0%, disusul BBRI yang turun 26,9%, serta BMRI yang terkoreksi sebesar 25,5%.

 

Tekanan yang terjadi pada saham-saham defensif tersebut bukan sekadar koreksi biasa. Beberapa di antaranya bahkan telah kembali ke posisi terendah dalam beberapa tahun terakhir.

 

BBCA, yang selama ini dikenal sebagai salah satu saham paling defensif di Bursa Efek Indonesia, kini berada pada level terendah sejak 26 Mei 2020 atau ketika pandemi Covid-19 mengguncang perekonomian global. Situasi serupa juga terjadi pada BBRI yang saat ini diperdagangkan pada level terendah sejak 28 Mei 2020.

 

Sementara itu, BMRI berada pada posisi terendah sejak 19 Juli 2022. Pada periode tersebut, pasar saham global masih menghadapi tekanan besar akibat konflik antara Rusia dan Ukraina di kawasan Eropa.

 

Tekanan juga menjalar ke saham defensif di luar sektor perbankan. TLKM kini berada pada level terendah sejak April 2025, sedangkan ASII berada di posisi terendah sejak 26 Juni 2025.

 

Pelemahan saham-saham defensif tersebut juga tidak terlepas dari derasnya aksi jual yang dilakukan investor asing. Berdasarkan data Indo Premier Sekuritas, sejak awal tahun hingga perdagangan Jumat (5/6/2026), investor asing telah mencatatkan penjualan bersih (net sell) pada saham BBCA sebesar Rp32,44 triliun.

 

Tekanan jual dari investor asing juga terjadi pada saham perbankan besar lainnya. BBRI mencatat net sell asing sebesar Rp9,68 triliun, sementara BMRI mengalami net sell yang lebih besar yakni sekitar Rp10,8 triliun.

 

Di luar sektor perbankan, TLKM juga masih mencatatkan net sell asing sebesar Rp254 miliar sejak awal tahun. Adapun dari lima saham defensif yang diamati, hanya ASII yang masih mencatatkan aliran dana masuk asing (foreign inflow) dengan nilai beli bersih sebesar Rp1,88 triliun.

 

Data foreign flow sejak awal tahun hingga Jumat (5/6/2026) menunjukkan BBCA mencatat net sell Rp32.443 miliar, BBRI Rp9.681 miliar, BMRI Rp10.899 miliar, TLKM Rp254 miliar, sedangkan ASII membukukan net buy sebesar Rp1.888 miliar.

 

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa koreksi yang terjadi pada saham-saham defensif kali ini mencerminkan tekanan pasar yang berlangsung secara merata.

 

Pelemahan tidak hanya terjadi pada saham lapis kedua maupun saham dengan tingkat volatilitas tinggi, tetapi juga menimpa saham-saham berkapitalisasi besar yang selama ini dianggap lebih tangguh menghadapi gejolak pasar.

 

Situasi ini menjadi pengingat bahwa status sebagai saham defensif tidak berarti terbebas dari risiko.

Walaupun saham defensif umumnya memiliki karakter bisnis yang lebih stabil dibandingkan saham lainnya, harga sahamnya tetap berpotensi mengalami penurunan ketika tekanan jual meningkat, sentimen investor memburuk, atau terjadi arus keluar dana dari saham-saham berkapitalisasi besar.

Sumber: cnbcindonesia.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.

TAG :