Bisnis | Ekonomi
Dolar AS Melemah, Rupiah & Dolar Taiwan Jadi Jawara Asia
/index.php
Saham News - Diposting pada 15 August 2026 Waktu baca 5 menit
Investor asing kembali melakukan aksi jual di pasar saham Indonesia pada akhir perdagangan pekan ini. Namun, ada satu hal yang menarik: ketika dana asing keluar dalam jumlah besar, Indeks Harga Saham Gabungan justru berhasil ditutup menguat.
Berdasarkan data BEI dalam materi yang menjadi dasar artikel ini, investor asing membukukan net sell Rp1 triliun pada Jumat, 14 Agustus 2026.
Aksi tersebut melanjutkan jual bersih sekitar Rp1,41 triliun sehari sebelumnya. Secara kumulatif, net sell asing sejak awal 2026 disebut telah mencapai sekitar Rp71,83 triliun.
Tekanan jual asing dalam brief terkonsentrasi pada beberapa saham.
PT Chandra Asri Pacific Tbk atau TPIA mencatat net sell asing terbesar, yakni sekitar Rp265,45 miliar.
Posisi berikutnya ditempati PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk atau CUAN dengan jual bersih asing sekitar Rp127,89 miliar.
PT Indosat Tbk atau ISAT berada di urutan berikutnya dengan net sell sekitar Rp84,88 miliar.
Meski demikian, pola tersebut menunjukkan satu hal penting: angka net sell pasar secara keseluruhan tidak selalu berarti investor asing menjual semua saham secara merata. Tekanan dapat terkonsentrasi pada sejumlah emiten tertentu, sementara saham lain justru mengalami pembelian.
Yang membuat perdagangan Jumat menjadi menarik adalah arah IHSG yang berlawanan dengan aliran dana asing.
Berdasarkan materi, IHSG ditutup naik 1,59% menjadi 6.401,89.
Sepanjang perdagangan, indeks bergerak antara 6.267,41 dan 6.401,89. Sebanyak 354 saham menguat, 277 saham melemah, dan 332 saham stagnan.
Secara mekanis, kondisi IHSG naik saat asing net sell bukan hal yang mustahil.
Investor domestik dapat menyerap penjualan investor asing. Selain itu, IHSG merupakan indeks berbobot kapitalisasi, sehingga kenaikan sejumlah saham berkapitalisasi besar dapat lebih kuat pengaruhnya dibandingkan tekanan jual pada emiten lainnya.
Artinya, net sell asing dan arah IHSG tidak harus selalu bergerak sama.
Salah satu sentimen yang muncul pada perdagangan Jumat adalah pidato ekonomi dan RAPBN 2027 Presiden Prabowo Subianto.
Pemerintah menetapkan asumsi pertumbuhan ekonomi 6% pada 2027, tertinggi dalam lebih dari satu dekade apabila terealisasi. RAPBN 2027 juga menggunakan asumsi inflasi sekitar 2,5%, nilai tukar rata-rata Rp17.500 per dolar AS, serta yield SBN tenor 10 tahun sekitar 6,9%.
Belanja negara dirancang Rp4.097,2 triliun dengan pendapatan Rp3.426 triliun. Pemerintah menargetkan defisit sekitar 2,4% terhadap PDB, lebih rendah dibanding outlook 2026 sebesar 2,85%.
Kombinasi target pertumbuhan yang lebih tinggi dengan defisit yang tetap dijaga dapat dibaca pasar sebagai upaya pemerintah mempercepat ekonomi tanpa melepas disiplin fiskal.
Namun, target tetap berbeda dari realisasi.
Reuters mencatat ekonom Permata Bank Faisal Rachman memperkirakan pertumbuhan 2027 hanya sekitar 5,2%, sehingga defisit aktual berpotensi lebih lebar di kisaran 2,7%–2,9% PDB apabila penerimaan tidak sesuai target.
Pertumbuhan 6% tidak dirancang hanya bergantung pada konsumsi rumah tangga.
Dalam pembahasan RAPBN sebelumnya, pemerintah dan DPR menyepakati bahwa percepatan ekonomi 2027 akan ditopang oleh penguatan konsumsi, peningkatan investasi, perbaikan iklim usaha, penguatan industri nasional, dan transformasi struktural.
Pemerintah juga menempatkan hilirisasi dan industrialisasi sebagai salah satu kelompok prioritas fiskal bersama ketahanan pangan, energi, pendidikan, kesehatan, infrastruktur, ekonomi kerakyatan, dan pengentasan kemiskinan.
Karena itu, target pertumbuhan 6% akan semakin kredibel bagi pasar apabila diikuti pertumbuhan investasi, kredit, produktivitas industri, dan laba perusahaan.
Di sinilah terdapat perbedaan antara sentimen jangka pendek dan keputusan portofolio investor global.
Investor asing tidak hanya menilai target pertumbuhan Indonesia. Mereka juga memperhitungkan nilai tukar rupiah, yield obligasi, risiko geopolitik, kebijakan Federal Reserve, kondisi fiskal, serta valuasi saham.
Reuters mencatat kebijakan fiskal Indonesia masih menjadi perhatian investor setelah pelemahan rupiah dan arus modal keluar dalam beberapa bulan terakhir. Kekhawatiran juga sebelumnya mencakup independensi bank sentral dan transparansi pasar saham.
Dengan kata lain, respons positif IHSG terhadap pidato ekonomi tidak otomatis membuat investor asing langsung kembali membeli saham.
Mereka dapat tetap mengurangi posisi pada emiten tertentu sambil menunggu bukti bahwa target pertumbuhan, stabilitas fiskal, dan reformasi ekonomi benar-benar terealisasi.
Istilah “asing keluar Rp1 triliun” perlu dibaca secara hati-hati.
Net sell menunjukkan bahwa nilai penjualan asing lebih besar Rp1 triliun dibandingkan nilai pembeliannya pada periode tersebut.
Itu bukan berarti seluruh aset asing senilai Rp1 triliun ditarik keluar dari sistem keuangan Indonesia.
Investor dapat menjual TPIA, CUAN, atau ISAT tetapi membeli saham lain. Mereka juga dapat memindahkan dana dari saham ke obligasi pemerintah atau instrumen rupiah lainnya.
Karena itu, foreign flow sebaiknya dibaca melalui beberapa horizon sekaligus:
harian → mingguan → bulanan → year-to-date.
Satu sesi net sell besar dapat menjadi sinyal kehati-hatian, tetapi belum cukup untuk menyimpulkan adanya eksodus investor asing.
Pasar perlu melihat apakah net sell asing berlanjut setelah IHSG menembus kembali area 6.400.
Jika asing tetap menjual sementara investor domestik mempertahankan pembelian, indeks masih dapat bertahan. Namun, tekanan dapat meningkat apabila foreign outflow mulai bersamaan dengan aksi jual domestik.
Beberapa faktor yang layak dicermati adalah pergerakan rupiah, yield SBN, kebijakan The Fed, realisasi ekonomi domestik, serta perubahan kepemilikan asing di saham-saham big caps.
Investor juga perlu melihat apakah penguatan IHSG semakin luas atau hanya ditopang oleh sedikit saham dengan bobot besar.
Berdasarkan materi perdagangan Jumat, investor asing mencatat net sell sekitar Rp1 triliun, dengan TPIA, CUAN, dan ISAT menjadi tiga saham yang paling banyak dilepas.
Namun, IHSG justru disebut menguat 1,59% ke level 6.401,89.
Pergerakan berlawanan tersebut menunjukkan bahwa arus asing bukan satu-satunya penggerak pasar saham Indonesia.
Sentimen RAPBN 2027, target pertumbuhan 6%, pembelian investor domestik, dan pergerakan saham berkapitalisasi besar dapat membuat indeks tetap naik meski investor asing melakukan jual bersih.
Yang lebih penting sekarang bukan hanya melihat net sell satu hari, tetapi apakah tren tersebut berlanjut dan apakah target ekonomi pemerintah mulai diterjemahkan menjadi pertumbuhan investasi, kredit, produktivitas, dan laba emiten.
Sumber: bisnis.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.