Saham News
4 Anak Michael Hartono Warisi Saham Rp52 T per Orang
/index.php
Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 14 August 2026 Waktu baca 5 menit
Indonesia tidak hanya memiliki pasar investasi emas yang besar. Dari sisi hulu, negara ini juga menyimpan sumber daya mineral yang sangat besar, memiliki perusahaan tambang emas berskala global, fasilitas pemurnian baru, hingga layanan bank emas yang mulai membangun jembatan antara tambang dan sektor keuangan.
Data tersebut membuat emas mulai dipandang bukan hanya sebagai komoditas tambang atau instrumen investasi masyarakat, tetapi sebagai sebuah ekosistem ekonomi.
Salah satu angka yang sering menimbulkan salah pengertian adalah besarnya cadangan emas Indonesia.
Neraca Sumber Daya dan Cadangan Mineral dan Batubara Indonesia 2025 yang diterbitkan Badan Geologi menggunakan data sampai Desember 2024. Dokumen tersebut mencatat sumber daya bijih emas primer sekitar 17,2 miliar ton dan cadangan bijih emas primer sekitar 3,46 miliar ton.
Namun, 3,46 miliar ton tersebut bukan berarti Indonesia memiliki 3,46 miliar ton emas murni.
Kandungan logam emas di dalam bijih jauh lebih kecil.
Data yang sama mencatat sumber daya logam emas primer sekitar 12.364 ton dan cadangan logam emas sekitar 3.444 ton.
Perbedaan antara ore dan kandungan logam ini penting agar besarnya kekayaan mineral Indonesia tidak ditampilkan secara berlebihan.
Potensi geologi tersebut kemudian diterjemahkan menjadi produksi tambang.
Kemenko Perekonomian pada Juli 2026 mengutip estimasi United States Geological Survey bahwa Indonesia menghasilkan sekitar 90 ton emas pada 2025, setara sekitar 2,7% produksi emas dunia.
Estimasi cadangannya mencapai sekitar 3.600 ton atau sekitar 5,5% dari cadangan emas global.
Angka itu menunjukkan posisi Indonesia cukup penting di rantai pasok emas dunia.
Namun, pekerjaan besarnya bukan hanya menggali lebih banyak emas. Pemerintah ingin semakin banyak nilai tambah dari komoditas tersebut tetap berada di dalam negeri.
Salah satu perubahan terbesar terjadi di Gresik.
Precious Metal Refinery milik PT Freeport Indonesia memiliki kapasitas pemurnian sekitar 50 ton emas dan 200 ton perak per tahun. Fasilitas tersebut memungkinkan lumpur anoda dari pengolahan tembaga dimurnikan menjadi emas batangan di Indonesia.
Pada Februari 2025, Freeport melakukan pengiriman perdana 125 kilogram emas batangan berkadar 99,99% kepada ANTAM.
Freeport dan ANTAM sebelumnya juga menyepakati jual-beli sekitar 30 ton emas per tahun selama lima tahun, sehingga secara keseluruhan kontrak dapat mencakup 150 ton emas.
Rantai yang sebelumnya dapat melibatkan pemrosesan di luar negeri kini semakin banyak berlangsung di dalam Indonesia.
Ini merupakan contoh konkret hilirisasi: hasil tambang tidak berhenti sebagai konsentrat, tetapi diproses menjadi logam murni dan kemudian produk investasi atau industri.
Di sisi hilir, ANTAM memainkan peran berbeda.
Perusahaan memiliki jaringan produk Logam Mulia yang telah lama digunakan masyarakat sebagai instrumen investasi, sekaligus fasilitas refinery.
Data yang dipaparkan ANTAM dalam pembahasan industri bullion sebelumnya menyebut kapasitas refinery emasnya sekitar 150 ton per tahun.
Dengan masuknya pasokan emas domestik dari Freeport, kebutuhan ANTAM terhadap bahan baku impor secara teoritis dapat berkurang.
Kolaborasi tersebut membuat rantai nilai menjadi semakin terintegrasi:
tambang → smelter → refinery → produk emas → bullion bank → investor/industri.
Selain Freeport, tambang Batu Hijau milik AMMAN menjadi salah satu sumber emas besar Indonesia.
AMMAN mencatat produksi emas 2024 mencapai 802.749 ounces, atau sekitar 25 ton, yang merupakan rekor produksi di Batu Hijau pada tahun tersebut.
Pada 2025, produksinya turun karena siklus tambang dan kegiatan pengupasan batuan. Panduan perusahaan saat itu sekitar 90.000 ounces emas.
Pemerintah sebelumnya memperkirakan kombinasi fasilitas pemurnian Freeport dan AMMAN dapat menghasilkan sekitar 60–70 ton emas per tahun ketika berjalan optimal.
Ini menunjukkan mengapa angka produksi perusahaan perlu dibaca berdasarkan tahun dan kondisi operasi. Produksi emas tidak selalu sama setiap tahun karena kadar bijih, fase tambang, dan volume pengolahan berubah.
Bagian yang membuat ekosistem emas Indonesia berbeda dibanding beberapa tahun lalu adalah hadirnya kegiatan usaha bullion.
Bullion bank Indonesia diresmikan pada 26 Februari 2025 setelah OJK memberikan izin kegiatan usaha bullion kepada Pegadaian dan Bank Syariah Indonesia.
Layanan tersebut memungkinkan emas tidak sekadar dibeli, disimpan di rumah, lalu dijual kembali.
Ekosistem bullion dapat mencakup penitipan, perdagangan, pembiayaan, deposito emas, hingga layanan lain berbasis emas sesuai izin masing-masing lembaga.
Dengan mekanisme tersebut, stok emas masyarakat secara teori dapat menjadi bagian dari sistem keuangan yang lebih produktif.
Data BSI menunjukkan permintaan masyarakat terhadap layanan emas berkembang cukup cepat.
Setahun setelah peluncuran bullion bank, BSI melaporkan total emas kelolaan sekitar 22,5 ton.
Hingga Juni 2026, jumlah nasabah bullion BSI disebut mencapai sekitar 1,3 juta orang, naik 700% secara tahunan, dan volume emas yang diperdagangkan sepanjang periode tersebut mencapai 8,06 ton.
Data perusahaan tersebut menunjukkan bahwa sisi hilir keuangan mulai berkembang bersamaan dengan peningkatan kapasitas produksi dan pemurnian di sektor pertambangan.
Tantangannya adalah menghubungkan keduanya sehingga emas domestik dapat berputar lebih banyak di dalam negeri.
Materi awal menyebut cadangan emas Indonesia 78,6 ton berdasarkan data World Gold Council lama.
Angka tersebut perlu diperbarui.
World Gold Council mencatat Bank Indonesia termasuk bank sentral yang menambah cadangan emas pada kuartal I-2026, dengan pembelian sekitar 2 ton.
Bank Indonesia sendiri melaporkan nilai komponen emas dalam cadangan devisa sebesar sekitar US$11,29 miliar pada Juni 2026. Total cadangan devisa pada periode tersebut mencapai US$145,6 miliar.
Karena itu, penggunaan angka 78,6 ton dan peringkat ke-40 dunia dari data 2020 sudah tidak tepat untuk menggambarkan posisi terkini.
Secara global, emas kembali mendapatkan perhatian bank sentral. Survei World Gold Council 2026 menunjukkan 45% bank sentral yang disurvei berencana meningkatkan kepemilikan emas dalam 12 bulan berikutnya.
Pasar domestik tidak hanya terdiri dari pembeli emas batangan.
Emas digunakan untuk perhiasan, investasi masyarakat, layanan bullion, hingga kebutuhan industri.
Materi Mindialogue yang diberikan menyebut kebutuhan emas domestik sekitar 190–200 ton per tahun, dengan permintaan berasal dari industri perhiasan, masyarakat melalui Pegadaian dan BSI, pedagang emas digital, serta emas batangan.
Data lain yang dipaparkan ANTAM sebelumnya menunjukkan pasar emas Indonesia bahkan dapat lebih luas apabila ekspor, merek selain ANTAM, dan sumber pasokan informal turut dihitung. ANTAM memperkirakan total supply dan demand ekosistem yang dihitungnya mencapai sekitar 410 ton dengan definisi pasar yang lebih luas.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa angka “kebutuhan emas nasional” sangat bergantung pada cakupan yang digunakan.
Pemerintah juga melihat peluang memperluas hilirisasi emas ke sektor teknologi.
Secara global, elektronik merupakan sekitar 80% penggunaan emas untuk sektor teknologi. World Gold Council menyebut sebagian besar jenis chip semikonduktor menggunakan emas, baik sebagai pelapis maupun dalam bentuk bonding wire tipis.
Pada kuartal I-2026, permintaan emas global di sektor elektronik mencapai sekitar 69 ton, naik 3% secara tahunan, dengan pembangunan infrastruktur AI menjadi salah satu pendorongnya.
Ini mendukung pandangan bahwa peluang hilirisasi emas Indonesia tidak perlu berhenti di perhiasan dan bullion.
Jika Indonesia dapat membangun industri elektronik, semikonduktor, komponen otomotif, data center, dan perangkat berteknologi tinggi yang menggunakan emas, nilai tambah per gram emas dapat jauh lebih tinggi dibandingkan hanya menjual logam mentah.
Dalam materi Mindialogue 2026, Deputi Kemenko Perekonomian Elen Setiadi disebut memperkirakan kapitalisasi ekosistem emas Indonesia dapat mencapai sekitar Rp1.800 triliun, terutama jika pengembangan bullion dan penguatan cadangan emas berjalan bersama.
Namun, angka tersebut belum ditemukan bersama metodologi perhitungannya dalam publikasi resmi yang dapat diakses.
Potensinya memang besar, tetapi besarnya nilai ekonomi akan bergantung pada harga emas, volume produksi, emas yang beredar di masyarakat, cadangan institusi, kapasitas refinery, serta seberapa besar transaksi bullion dan industri hilir yang berhasil dikembangkan.
Indonesia sudah memiliki banyak potongan penting.
Negara ini memiliki cadangan tambang besar, Freeport dan AMMAN sebagai produsen utama, ANTAM sebagai refinery dan merek emas ritel, serta Pegadaian dan BSI sebagai pengembang layanan bullion.
Tetapi memiliki seluruh potongan tersebut belum berarti ekosistemnya otomatis efisien.
Pemerintah masih perlu memastikan sumber emas legal dapat ditelusuri, pasokan tambang rakyat masuk ke rantai resmi, refinery memiliki utilisasi yang sehat, industri memperoleh bahan baku, dan kegiatan bullion berlangsung dengan tata kelola yang kuat.
Kemenko Perekonomian sendiri menyatakan pengembangan bullion diarahkan untuk memperkuat seluruh rantai nilai emas dari hulu sampai pemanfaatannya dalam layanan dan instrumen keuangan.
Kekuatan emas Indonesia tidak hanya berada di bawah tanah.
Data geologi menunjukkan cadangan logam emas primer sekitar 3.444 ton berdasarkan neraca per Desember 2024. Estimasi USGS yang dikutip pemerintah kemudian menempatkan cadangan Indonesia sekitar 3.600 ton dengan produksi sekitar 90 ton pada 2025.
Pada saat bersamaan, Indonesia memiliki fasilitas pemurnian Freeport berkapasitas sekitar 50 ton emas per tahun, refinery ANTAM, tambang AMMAN, dan industri bullion yang mulai tumbuh.
Potensi berikutnya berada pada kemampuan menghubungkan seluruh rantai tersebut.
Jika emas yang ditambang di Indonesia dapat semakin banyak dimurnikan, diperdagangkan, dibiayai, dijadikan cadangan, serta dipakai industri bernilai tambah tinggi di dalam negeri, kekayaan emas Indonesia tidak hanya menghasilkan nilai ketika ditambang—tetapi berkali-kali sepanjang rantai ekonominya.
Sumber: cnbcindonesia.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.