Berita Terkini
Kim Jong Un Awasi Uji Coba Sistem Roket Serangan Baru, Ancaman Regional Meningkat
/index.php
Saham News - Diposting pada 29 December 2025 Waktu baca 5 menit
Investor kawakan Warren Buffett menyampaikan pesan kewaspadaan kepada pelaku pasar saham menjelang masa pensiunnya dari jabatan CEO Berkshire Hathaway.
Isyarat kehati-hatian tersebut tercermin dari strategi investasinya dalam beberapa tahun terakhir, khususnya melalui aksi pelepasan saham dalam jumlah besar.
Buffett mengumumkan pengunduran dirinya sebagai CEO Berkshire Hathaway pada Mei lalu dan dijadwalkan efektif pada akhir 2025. Greg Abel telah lama dipersiapkan sebagai penerus, meskipun jadwal transisi kepemimpinan sebelumnya belum pernah ditetapkan secara rinci.
Dalam rapat umum pemegang saham pada Mei, Buffett menegaskan bahwa ia tidak akan mengubah gaya pengelolaan Berkshire hingga masa tugasnya berakhir.
Pernyataan itu mencakup pengelolaan portofolio saham perusahaan yang saat ini bernilai lebih dari 300 miliar dolar AS.
Walaupun tetap setia pada prinsip investasi jangka panjang, langkah Buffett justru memunculkan sinyal kehati-hatian terhadap kondisi pasar saham menjelang 2026.
Mengutip The Motley Fool, Minggu (28/12/2025), selama lebih dari enam dekade memimpin Berkshire Hathaway sejak 1965, Buffett membangun portofolio saham raksasa dengan memanfaatkan dana premi dari bisnis asuransi.
Saat ini, nilai portofolio saham Berkshire Hathaway diperkirakan mencapai sekitar 315 miliar dolar AS.
Angka tersebut diyakini bisa menembus 500 miliar dolar AS apabila Buffett tidak melakukan penjualan saham secara agresif dalam tiga tahun terakhir.
Tercatat, Berkshire Hathaway telah melakukan penjualan saham selama 12 kuartal berturut-turut dengan total penjualan bersih mendekati 184 miliar dolar AS.
Sejumlah kepemilikan utama dipangkas signifikan. Buffett mengurangi kepemilikan saham Apple hingga 73 persen, melepas 44 persen saham Bank of America, serta menjual 26 persen saham Chevron. Selain itu, puluhan saham lainnya sepenuhnya dikeluarkan dari portofolio.
Sebaliknya, penambahan saham relatif terbatas dan umumnya berupa peningkatan investasi ratusan juta dolar AS pada kepemilikan yang sudah ada.
Saham baru terbesar yang masuk portofolio Berkshire meliputi Chubb, Alphabet, dan Sirius XM. Selain itu, kepemilikan saham Occidental Petroleum juga ditingkatkan sebesar 36 persen.
Kesenjangan besar antara nilai penjualan dan pembelian saham mencerminkan pandangan Buffett bahwa valuasi pasar sudah berada di level tinggi.
Saham Apple kini diperdagangkan pada sekitar 33 kali estimasi laba ke depan, relatif stabil sejak pertengahan 2024, bersamaan dengan meningkatnya aksi jual Buffett.
Padahal, Buffett mulai mengoleksi saham Apple saat valuasinya masih berada di kisaran 10 kali estimasi laba.
Sementara itu, rasio harga terhadap nilai buku berwujud Bank of America mendekati angka dua, level yang jarang terlihat sejak krisis keuangan global.
Kenaikan valuasi juga tampak secara luas di pasar. Indeks S&P 500 saat ini diperdagangkan di sekitar 22 kali estimasi laba ke depan, tingkat yang jarang terjadi sejak awal 2000-an.
Rasio CAPE (cyclically adjusted price-to-earnings) bahkan menyentuh level 40 untuk kedua kalinya dalam sejarah.
Indikator valuasi favorit Buffett, yakni perbandingan kapitalisasi pasar total terhadap PDB atau Buffett Indicator, juga berada jauh di atas 200 persen. Level ini sebelumnya telah diperingatkan Buffett sebagai sinyal risiko sejak awal milenium.
Rangkaian langkah tersebut menjadi peringatan bagi investor untuk lebih berhati-hati menyikapi pasar saham pada 2026.
Dari strategi tersebut, terdapat tiga pelajaran penting bagi investor.
Pertama, investor tidak perlu ragu merealisasikan keuntungan. Membiarkan saham unggulan terus tumbuh sah dilakukan selama tesis investasi tetap kuat. Namun, konsentrasi berlebihan pada satu saham meningkatkan risiko, terutama ketika valuasi sudah tinggi.
Kondisi ini sempat dialami Berkshire Hathaway saat saham Apple menyumbang hampir separuh nilai portofolio. Meski telah dipangkas hampir 75 persen, Apple masih mewakili sekitar 20 persen nilai portofolio.
Kedua, menjaga porsi kas menjadi krusial saat valuasi pasar meningkat. Posisi kas Berkshire kini melampaui 50 persen dari aset investasinya. Meski memiliki biaya peluang, kas memberikan perlindungan saat pasar terkoreksi sekaligus fleksibilitas untuk memanfaatkan peluang baru.
Ketiga, mempertahankan saham dengan keyakinan tinggi. Buffett tetap memegang saham American Express dan Coca-Cola sejak era 1990-an tanpa menjual satu lembar pun selama lebih dari 30 tahun, termasuk saat gelembung dot-com dan krisis keuangan global.
Keputusan tersebut didasari keyakinan kuat terhadap keunggulan kompetitif dan prospek jangka panjang bisnis perusahaan.
Sumber: kompas.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.