Berita Terkini
Kim Jong Un Awasi Uji Coba Sistem Roket Serangan Baru, Ancaman Regional Meningkat
/index.php
Berita Terkini - Diposting pada 29 December 2025 Waktu baca 5 menit
Jumlah miliarder di Rusia mencapai titik tertinggi sepanjang sejarah di tengah konflik berkepanjangan dengan Ukraina. Namun di balik lonjakan kekayaan tersebut, para orang superkaya Rusia justru mengalami kemunduran drastis dalam pengaruh politik mereka. Oligarki yang dahulu dikenal sangat berkuasa kini sebagian besar memilih diam dan berbaris mendukung Kremlin. Harapan Barat bahwa sanksi ekonomi akan memicu perlawanan dari elite bisnis Rusia terbukti tidak terwujud.
Melalui kombinasi tekanan keras dan insentif ekonomi, Presiden Vladimir Putin berhasil memastikan para miliarder tetap berada dalam lingkar kekuasaannya.
Mantan miliarder sektor perbankan, Oleg Tinkov, memahami betul pola kerja Kremlin. Sehari setelah ia menyebut perang Ukraina sebagai tindakan “gila” melalui unggahan di Instagram, para eksekutif perusahaannya langsung dihubungi pihak berwenang. Mereka diberi ultimatum bahwa Tinkoff Bank—saat itu bank terbesar kedua di Rusia—akan diambil alih negara jika hubungan dengan sang pendiri tidak segera diputus.
“Saya tidak punya ruang untuk menawar. Situasinya seperti disandera, kami hanya bisa menerima apa yang ditawarkan,” ujar Tinkov, dikutip BBC, Minggu (28/12/2025).
Dalam hitungan hari, perusahaan yang terafiliasi dengan Vladimir Potanin—salah satu dari lima orang terkaya Rusia dan pemasok nikel untuk industri pertahanan—mengumumkan pembelian bank tersebut. Nilai transaksi hanya sekitar 3 persen dari harga sebenarnya. Akibatnya, Tinkov kehilangan hampir US$9 miliar dari total kekayaannya dan akhirnya meninggalkan Rusia.
Kondisi ini sangat kontras dengan era sebelum Putin berkuasa. Setelah runtuhnya Uni Soviet, sejumlah warga Rusia mendadak menjadi sangat kaya dengan mengambil alih perusahaan-perusahaan milik negara dan memanfaatkan peluang kapitalisme yang baru tumbuh.
Boris Berezovsky pernah menjadi salah satu oligarki paling berpengaruh dan bahkan mengklaim berjasa dalam mengantarkan Putin ke kursi presiden pada tahun 2000. Namun kemudian ia mengaku menyesali peran tersebut. Tak lama setelah itu, Berezovsky ditemukan meninggal secara misterius saat hidup di pengasingan di Inggris. Sejak saat itu, kekuatan politik oligarki Rusia praktis berakhir.
Sejak awal masa jabatannya, Putin secara sistematis mengikis pengaruh politik para oligarki. Mereka yang berani menentang garis Kremlin menerima hukuman berat, seperti Mikhail Khodorkovsky—mantan orang terkaya Rusia—yang dipenjara selama satu dekade setelah mendukung gerakan pro-demokrasi.
Beberapa jam setelah memerintahkan invasi besar-besaran ke Ukraina pada 24 Februari 2022, Putin mengumpulkan para miliarder Rusia di Kremlin. Meski kebijakan tersebut jelas berdampak pada kekayaan mereka, para pengusaha itu nyaris tidak memiliki pilihan.
“Saya berharap dalam kondisi baru ini kita tetap bisa bekerja sama seperti sebelumnya dan tetap efektif,” ujar Putin saat itu.
Seorang jurnalis menggambarkan suasana pertemuan tersebut dengan wajah-wajah pucat dan para miliarder yang tampak kelelahan.
Data Forbes menunjukkan bahwa dalam setahun hingga April 2022, jumlah miliarder Rusia turun dari 117 menjadi 83 akibat perang, sanksi, dan melemahnya nilai rubel. Secara kolektif, mereka kehilangan sekitar US$263 miliar atau sekitar 27 persen dari total kekayaan.
Namun, tahun-tahun berikutnya justru membawa keuntungan besar bagi mereka yang menjadi bagian dari ekonomi perang Putin. Belanja militer yang masif mendorong pertumbuhan ekonomi Rusia lebih dari 4 persen per tahun pada 2023 dan 2024, memberi manfaat luas bahkan bagi miliarder yang tidak terlibat langsung dalam kontrak pertahanan.
Pada 2024, lebih dari separuh miliarder Rusia terlibat langsung dalam pasokan militer atau memperoleh keuntungan dari invasi Ukraina, ungkap Giacomo Tognini dari Forbes Wealth. Ia menambahkan bahwa hampir semua pelaku bisnis besar di Rusia kini harus memiliki hubungan dengan Kremlin.
Tahun ini, Forbes mencatat jumlah miliarder Rusia mencapai rekor baru, yakni 140 orang, dengan total kekayaan sekitar US$580 miliar—hanya terpaut US$3 miliar dari rekor tertinggi sebelumnya.
Sambil memberi ruang bagi para loyalis untuk meraih keuntungan, Putin secara konsisten menghukum siapa pun yang menolak tunduk. Sejak invasi dimulai, hampir seluruh orang superkaya Rusia memilih bungkam. Mereka yang berani bersuara kerap terpaksa meninggalkan negara tersebut dan kehilangan sebagian besar asetnya.
Upaya Barat untuk memanfaatkan sanksi sebagai alat memecah loyalitas para miliarder juga dinilai gagal. Kekayaan mereka sebagian besar tetap utuh, dan pembangkangan hampir tidak terlihat.
“Barat justru melakukan segala hal yang membuat para miliarder Rusia tetap bersatu di bawah bendera Kremlin,” ujar Alexander Kolyandr dari Center for European Policy Analysis (CEPA) kepada BBC.
Menurutnya, penyitaan aset, pembekuan rekening, dan sanksi internasional justru membantu Putin mengonsolidasikan para miliarder, kekayaan, dan sumber daya mereka demi menopang ekonomi perang Rusia.
Giacomo Tognini menambahkan bahwa pada 2024 saja, muncul 11 miliarder baru di Rusia melalui mekanisme ini. Penarikan perusahaan asing pasca-invasi menciptakan kekosongan pasar yang kemudian diisi oleh pengusaha pro-Kremlin, yang diberi kesempatan membeli aset strategis dengan harga murah. Kondisi tersebut melahirkan kelompok loyalis ekonomi baru yang semakin memperkuat cengkeraman kekuasaan Putin, sebagaimana dijelaskan Alexandra Prokopenko dari Carnegie Russia Eurasia Center.
Sumber: cnbcindonesia.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.