Ekonomi Negara Maju Tetangga RI Resesi: Apa Dampaknya bagi Indonesia?

Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 02 January 2025 Waktu baca 5 menit

Illustrasi Kota

DIGIVESTASI - Selandia Baru menutup tahun 2024 dengan catatan suram. Pada 19 Desember 2024, negara itu secara resmi mengumumkan telah memasuki resesi. Kondisi ini terjadi ketika produk domestik bruto (PDB) suatu negara mengalami penyusutan selama dua kuartal berturut-turut atau lebih.

 

Di Selandia Baru, perekonomian mengalami penurunan tajam, yang turut mengakibatkan pelemahan mata uang. Pemerintah dan pihak oposisi terlibat saling menyalahkan atas situasi tersebut.

 

PDB Selandia Baru dilaporkan turun 1% pada kuartal III-2024 dibandingkan dengan kuartal sebelumnya, melampaui prediksi kontraksi sebesar 0,2% yang disampaikan oleh para analis. Penurunan ini merupakan yang kedua secara beruntun, setelah kontraksi 1,1% pada kuartal II-2024.

 

Kiwibank dalam laporannya menyebutkan bahwa pelemahan ekonomi negara tersebut berdampak pada sebagian besar sektor industri. Meskipun demikian, revisi data pertumbuhan di awal tahun memberikan sedikit penyeimbang pada tren penurunan. Selandia Baru bahkan mencatatkan kemerosotan selama enam bulan terakhir tanpa jeda, situasi yang tidak terjadi bahkan selama pandemi Covid-19.

 

Prospek ekonomi diperkirakan masih suram hingga akhir tahun. Namun, Kiwibank optimistis kuartal IV-2024 mungkin menjadi akhir dari tren penurunan ini. Laporan tersebut memproyeksikan pemotongan suku bunga sebesar satu persen dapat memberikan dampak positif di masa mendatang.

 

Sektor-sektor yang mengalami tekanan penurunan signifikan meliputi manufaktur (-2,6% dibandingkan +1,3% pada kuartal II), layanan bisnis (-1,5% dibandingkan -0,7%), dan konstruksi (-2,8% dibandingkan -1,6%), berdasarkan data Trading Economic.

 

Menteri Keuangan Nicola Willis mengonfirmasi bahwa perekonomian telah mengalami kontraksi total selama delapan kuartal terakhir. Meski demikian, ia optimistis kondisi akan membaik pada tahun 2025. Di sisi lain, oposisi Partai Buruh menuding resesi ini sebagai akibat dari kebijakan penghematan dan pemotongan anggaran oleh Willis. Mereka bahkan meragukan langkah-langkah tersebut dapat memperbaiki situasi.

 

Argentina, salah satu negara lain yang sebelumnya mengalami resesi, juga menghadapi tantangan besar. Pada kuartal I-2024, ekonomi Argentina tercatat mengalami kontraksi 5,1% dibandingkan kuartal sebelumnya, menyusul kontraksi 1,9% pada kuartal IV-2023. Secara tahunan, PDB Argentina menyusut 2,1% pada kuartal III-2024, melanjutkan kontraksi selama enam kuartal berturut-turut.

 

Resesi Argentina kian memperburuk situasi di negara tersebut, yang telah dilanda gejolak sejak pengesahan paket reformasi ekonomi oleh Presiden Javier Milei pada Desember 2023.


Temukan berita dan artikel lainnya di Google Berita

Sumber: cnbcindonesia.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.