Perang Iran vs AS-Israel Memanas, Mengapa Harga Emas Dunia Justru Stabil?

Investasi Digital - Diposting pada 16 March 2026 Waktu baca 5 menit

Harga emas global tidak mengalami kenaikan yang signifikan meskipun konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran meningkat dalam beberapa minggu terakhir. Sebelumnya, pada 28 Februari, serangan yang dilakukan oleh AS dan Israel ke Teheran menewaskan Ayatollah Khamenei, yang kemudian dibalas Iran dengan meluncurkan rudal ke pangkalan militer Amerika di wilayah Arab serta menutup Selat Hormuz.

 

Padahal, menurut laporan CNBC International, secara historis logam mulia biasanya mengalami penguatan ketika terjadi ketegangan geopolitik karena investor menganggapnya sebagai aset safe haven. Setelah serangan AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari tersebut, harga emas sempat meningkat dari US$5.296 menjadi US$5.423 per troy ounce, tetapi kenaikan itu tidak berlangsung lama.

 

Gelombang aksi jual kemudian menekan harga emas turun lebih dari 6% menjadi US$5.085 pada 3 Maret. Dalam beberapa hari terakhir, harga emas bergerak relatif stabil pada kisaran US$5.050 hingga US$5.200 per troy ounce, dengan harga terakhir berada di sekitar US$5.175 per troy ounce.

 

CEO situs analisis logam mulia Metals Daily, Ross Norman, menjelaskan bahwa stagnasi harga emas dipengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk penguatan dolar Amerika Serikat serta kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS. Ia menilai kenaikan harga minyak akibat konflik juga berpotensi memperpanjang tekanan inflasi dan mendorong bank sentral untuk mempertahankan suku bunga pada tingkat tinggi.

 

Situasi tersebut dapat terjadi apabila jalur energi penting dunia seperti Selat Hormuz terganggu akibat konflik. Suku bunga yang tinggi biasanya membuat investor lebih tertarik pada aset yang memberikan imbal hasil seperti obligasi pemerintah dibandingkan logam mulia yang tidak menghasilkan bunga.

 

“Pergerakan harga emas dan perak saat ini tampak kurang bergairah, tetapi hal itu mungkin wajar setelah lonjakan besar yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir,” kata Norman, dikutip Senin (16/3/2026).

 

Ia juga menambahkan bahwa sebagian investor institusional mulai lebih berhati-hati dalam memegang emas karena volatilitas harga yang cukup tinggi dalam beberapa waktu terakhir.

 

Kepala riset di perusahaan investasi Al Ramz, Amer Halawi, mengatakan bahwa konflik geopolitik sering kali memicu aksi jual besar pada tahap awal. Menurutnya, ketika terjadi tekanan likuiditas di pasar, investor biasanya menjual berbagai aset terlebih dahulu sebelum kembali membeli aset yang dianggap aman.

 

“Jika terjadi krisis likuiditas, hampir semua aset akan dijual hingga para pelaku pasar dapat memahami situasinya dan kembali memusatkan investasi pada aset yang tepat,” ujarnya dalam program “Access Middle East”.

 

Ia menambahkan bahwa fenomena tersebut sering muncul pada tahap awal krisis dan merupakan pola yang sering terjadi secara tradisional.

 

“Secara tradisional, ketika pasar mengalami guncangan, bahkan emas pun bisa ikut dijual terlebih dahulu sebelum kemudian kembali menguat,” ujarnya.

 

Walaupun pergerakan harga emas terlihat relatif datar dalam jangka pendek, sejumlah bank investasi global tetap optimistis terhadap prospek jangka panjang logam mulia tersebut. Bank investasi JPMorgan Chase memperkirakan harga emas dapat mencapai US$6.300 per troy ounce pada akhir 2026.

 

Sementara itu, Deutsche Bank tetap mempertahankan proyeksi harga emas di level US$6.000 per troy ounce pada akhir tahun dalam laporan riset terbaru mereka. Para analis menilai bahwa ketidakpastian geopolitik global, inflasi yang masih tinggi, serta ketegangan di kawasan Timur Tengah dapat terus mendukung permintaan emas sebagai aset lindung nilai dalam jangka panjang.

Sumber: cnbcindonesia.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.