Bareskrim Polri Pantau Saham, Apa Dampaknya bagi Investor?

Saham News - Diposting pada 07 March 2025 Waktu baca 5 menit

Kasubdit 5 Bareskrim Polri Kombes M Irwan Susanto (tengah) memberikan penjelasan dalam acara Bisnis Indonesia Forum (BIF) dengan tema ‘Menakar Konsekuensi Inkonstitusional Bersyarat KUHD Pasal 251 bagi Industri Asuransi’ di Jakarta, Rabu (5/3/2025). J

Bareskrim Polri Pantau Pergerakan IHSG, Ada Sinyal Kegentingan?

Penurunan tajam Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tidak hanya menarik perhatian pemerintah dan investor, tetapi juga aparat penegak hukum. Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri kini mulai memantau pergerakan harga saham di Indonesia.

 

Hal ini diungkapkan oleh Kasubdit 5 Bareskrim Polri, Kombes M Irwan Susanto, dalam acara Bisnis Indonesia Forum bertajuk “Menakar Konsekuensi Inkonstitusional Bersyarat KUHD Pasal 251 bagi Industri Asuransi”, yang digelar di Jakarta, Rabu (5/3/2025).

 

Dalam kesempatan tersebut, Irwan menyinggung sejumlah kasus besar di sektor asuransi, seperti gagal bayar Jiwasraya dan Wanaartha Life. Ia menilai bahwa kasus-kasus di sektor finansial ini tidak hanya merugikan konsumen, tetapi juga berdampak buruk pada stabilitas perekonomian nasional.

 

Lebih lanjut, Irwan menegaskan bahwa Bareskrim Polri turut memantau pergerakan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) sebagai bagian dari dukungan terhadap kebijakan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.

“Sebagai bagian dari Ditipideksus, kami memiliki peran dalam penyidikan pasar modal. Dengan adanya peluncuran [Danantara] oleh Presiden Prabowo, kami juga turut mengawasi pergerakan saham dan berkoordinasi dengan OJK,” ujar Irwan.

 

Ia juga menambahkan bahwa Bareskrim Polri akan menganalisis dampak pergerakan IHSG terhadap ekonomi nasional dan mencari solusi agar kenaikan saham bisa berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi.

“Sejauh ini, belum ditemukan adanya unsur pidana dalam pergerakan pasar modal. Fluktuasi harga saham lebih dipengaruhi oleh mekanisme pasar, faktor eksternal, serta kebijakan luar negeri,” tambahnya.

 

Irwan menegaskan bahwa pengawasan ini bertujuan untuk menjaga ekosistem investasi, khususnya di sektor asuransi, agar tetap stabil dan mampu memberikan kepastian bagi para nasabah.


 

Reaksi CELIOS: Perlukah Bareskrim Ikut Campur?

Di sisi lain, Direktur Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, justru mempertanyakan langkah Bareskrim dalam memantau pergerakan IHSG.

“Ada urgensi apa sampai Bareskrim ikut mengawasi pasar modal? Apakah ini menandakan adanya situasi genting?” ujarnya kepada Bisnis, Kamis (6/11/2025).

 

Menurutnya, anjloknya IHSG lebih disebabkan oleh capital outflow atau keluarnya dana asing akibat tekanan ekonomi global, bukan karena kasus penipuan atau fraud. Bhima juga menyoroti buruknya tata kelola Danantara, yang dinilai telah merusak kepercayaan investor terhadap saham BUMN.

“Pernyataan Bareskrim ini justru memperkeruh suasana dan menjadi sentimen negatif bagi pasar. OJK sudah cukup sebagai pengawas pasar modal,” tegasnya.


 

IHSG Mulai Bangkit, Aliran Dana Asing Masih Keluar

Meskipun mengalami tekanan dalam beberapa pekan terakhir, IHSG dibuka menguat pada perdagangan Kamis (6/3/2025). Data RTI Infokom menunjukkan IHSG berada di level 6.531,39 pada pukul 09.00 WIB dan terus bergerak ke zona hijau.

 

Kapitalisasi pasar naik menjadi Rp11.416 triliun, dengan saham BBRI, ADRO, dan PTRO menjadi pendorong utama kenaikan IHSG. Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) mencatat transaksi tertinggi senilai Rp330 miliar, naik 2,86% ke level Rp3.950 per saham.

 

Namun, di tengah kenaikan IHSG, Bank Indonesia (BI) melaporkan adanya aliran modal asing keluar sebesar Rp10,33 triliun selama periode 24—28 Februari 2025. Investor asing tercatat melakukan aksi jual besar-besaran, terutama di pasar saham, yang sudah berlangsung selama enam pekan berturut-turut.

“Nonresiden mencatat jual neto senilai Rp10,33 triliun, terdiri dari Rp7,31 triliun di pasar saham, Rp1,24 triliun di pasar SBN, dan Rp1,78 triliun di Sekuritas Rupiah Bank Indonesia,” kata Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso.

 

Tren ini menunjukkan bahwa arus modal asing terus bergerak keluar, yang dapat mempengaruhi stabilitas pasar keuangan Indonesia dalam jangka panjang.


Temukan berita dan artikel lainnya di Google Berita

Sumber: bisnis.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.