Berita Terkini
Kim Jong Un Awasi Uji Coba Sistem Roket Serangan Baru, Ancaman Regional Meningkat
/index.php
Saham News - Diposting pada 29 December 2025 Waktu baca 5 menit
Pasar modal Indonesia menutup tahun 2025 dengan dinamika baru yang cukup mencolok. Dominasi saham perbankan konvensional berkapitalisasi besar dalam hal jumlah pemegang saham kini tidak lagi mutlak. Posisi teratas yang selama ini identik dengan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) resmi berpindah tangan ke emiten bank digital pendatang baru, PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA).
Berdasarkan estimasi data pemegang saham per Desember 2025, Superbank berhasil mencatatkan diri sebagai saham dengan basis investor terbesar di Bursa Efek Indonesia, yakni sekitar 696.000 investor.
Capaian tersebut menempatkan SUPA di atas BBRI yang kini berada di peringkat kedua dengan estimasi 652.000 investor. Pergeseran ini mencerminkan perubahan perilaku investor ritel yang semakin agresif memburu saham berbasis teknologi finansial serta emiten yang baru melaksanakan penawaran umum perdana (IPO).
Daftar sepuluh emiten dengan jumlah investor terbanyak per Desember 2025 menunjukkan kombinasi menarik antara saham-saham perbankan mapan dan emiten baru yang bersifat disruptif, menandakan perubahan struktur minat pasar.
Selain SUPA, perhatian pelaku pasar juga tertuju pada RLCO yang secara cepat menembus posisi empat besar dengan sekitar 515.000 investor. Pencapaian ini mendorong saham teknologi PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) turun ke peringkat kelima.
Masuknya dua saham IPO—SUPA dan RLCO—ke dalam lima besar emiten dengan investor terbanyak menjadi sinyal kuat bahwa minat investor ritel terhadap saham baru sepanjang 2025 sangat tinggi, bahkan melampaui ketertarikan pada saham teknologi yang telah lebih dahulu tercatat.
Di sisi lain, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) tetap mempertahankan posisinya di peringkat ketiga dengan sekitar 570.000 investor, mencerminkan kekuatan basis investor jangka panjang yang relatif solid dan konsisten.
Pertumbuhan jumlah investor tersebut berjalan seiring dengan kuatnya peran investor domestik dalam aktivitas perdagangan harian. Berdasarkan Statistik Harian BEI per 24 Desember 2025, investor dalam negeri mendominasi transaksi pasar.
Data menunjukkan bahwa investor domestik menyumbang sekitar 77% dari total nilai perdagangan harian, sementara investor asing hanya berkontribusi sekitar 23%. Kondisi ini menegaskan bahwa likuiditas pasar saham Indonesia saat ini sangat bergantung pada partisipasi aktif investor lokal.
Peran besar investor ritel juga tercermin dari data broker teraktif. Perusahaan sekuritas yang mengandalkan platform digital dan aplikasi mobile terlihat mendominasi frekuensi transaksi.
Stockbit Sekuritas Digital (XL) menempati posisi teratas sebagai broker dengan frekuensi transaksi tertinggi, yakni mencapai 1.573.360 kali atau sekitar 31,22% dari total transaksi bursa. Angka ini jauh melampaui Mirae Asset Sekuritas (YP) di posisi kedua dengan 421.211 transaksi (8,36%) serta Ajaib Sekuritas (XC) di peringkat ketiga dengan 374.768 transaksi (7,44%).
Dominasi Stockbit yang mencakup hampir sepertiga total frekuensi perdagangan menjadi indikasi kuat bahwa lonjakan investor pada saham seperti SUPA didorong oleh kemudahan akses investasi berbasis digital.
Besarnya basis investor ritel pada saham Superbank juga tercermin dari tingginya likuiditas di pasar reguler. Saham SUPA tercatat sebagai salah satu saham teraktif berdasarkan frekuensi transaksi, menempati posisi ketiga dengan sekitar 95.530 transaksi dalam satu hari perdagangan, hanya berada di bawah saham BUMI dan INET.
Tingginya frekuensi transaksi ini merupakan ciri khas saham yang banyak diperdagangkan oleh investor ritel individu.
Di sisi lain, di tengah maraknya aktivitas trading ritel, investor asing justru tercatat melakukan akumulasi pada saham-saham berkapitalisasi besar. Data perdagangan menunjukkan adanya pembelian bersih (net buy) investor asing senilai sekitar Rp2,44 triliun pada hari tersebut.
Kondisi ini mencerminkan adanya perbedaan strategi di pasar, di mana investor ritel cenderung aktif memperdagangkan saham-saham baru dan lapis kedua, sementara investor institusi asing memanfaatkan momentum untuk membangun posisi jangka menengah hingga panjang.
Sumber: cnbcindonesia.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.