Bitcoin Terancam Anjlok Lagi? Analis Prediksi Harga Bisa Tembus di Bawah Rp1 Miliar!

Crypto News - Diposting pada 01 December 2025 Waktu baca 5 menit

Bitcoin sedang mencoba bangkit kembali setelah mengalami penurunan belakangan ini, namun seorang analis memperingatkan bahwa aset kripto terbesar tersebut mungkin menghadapi koreksi lanjutan hingga Desember. Mike McGlone, analis senior dari Bloomberg Intelligence, memprediksi bahwa harga Bitcoin berpotensi merosot kembali ke sekitar US$50.000 atau sekitar Rp830 juta.

 

Prediksi ini didorong oleh berbagai faktor makroekonomi yang masih berlangsung. McGlone menegaskan bahwa pelemahan Bitcoin terhadap emas semakin cepat, menunjukkan perubahan struktural menuju aset-aset defensif.

 

“Dengan emas menembus rekor baru dan menarik arus dana sebagai instrumen safe haven, performa Bitcoin yang semakin lemah dibandingkan logam mulia tersebut menambah tekanan ke bawah. Hal ini meningkatkan peluang harga kembali menguji level pivot jangka panjang di US$50.000 atau Rp830 juta, bahkan bisa turun lebih dalam bila tren saat ini berlanjut,” jelasnya, dikutip dari Finbold, Minggu, 30 November 2025.

 

Salah satu aspek yang menjadi sorotan adalah rendahnya volatilitas pasar saham dan rotasi risiko secara umum. McGlone menilai bahwa meski pasar ekuitas tampak tenang, kondisi tersebut kerap menyamarkan potensi kerentanan yang lebih besar. Secara historis, indeks S&P 500 sering mengikuti pergerakan Bitcoin ketika mata uang digital itu jatuh di bawah rata-rata pergerakan 50 minggunya.

 

Saat ini, baik Bitcoin maupun S&P 500 sama-sama berada di bawah garis tren kunci tersebut, mengindikasikan meningkatnya risiko di berbagai kelas aset utama. Catatan sebelumnya memperlihatkan bahwa pada penurunan besar tahun 2018, pandemi 2020, dan pasar bearish 2022, pasar saham menyusul pelemahan Bitcoin.

 

Situasi serupa bisa kembali menyeret saham turun. Tekanan tambahan juga muncul dari “pasokan tanpa batas” berbagai mata uang kripto lain yang terus mengurangi pangsa pasar Bitcoin, menggerus dominasinya ketika kondisi pasar sedang melemah.

 

Jika digabungkan dengan karakteristik reversion to the mean dan likuiditas yang semakin ketat, keadaan ini menyerupai fase deflasi sebelumnya di mana Bitcoin mengalami koreksi besar.

 

Saat ini, Bitcoin baru saja berhasil melewati level resistensi US$90.000 atau sekitar Rp1,5 miliar, yang kini menjadi area yang rentan ditembus kembali. Saat laporan ini dibuat, Bitcoin diperdagangkan di US$91.415 atau Rp1,51 miliar, naik hampir 1% dalam sehari terakhir dan menguat 6% sepanjang pekan.

 

Meski demikian, struktur teknikal Bitcoin masih cenderung bearish. Rata-rata pergerakan 50 hari berada di US$103.001 atau Rp1,7 miliar, sementara rata-rata pergerakan 200 hari berada di US$104.439 atau Rp1,73 miliar, sehingga posisi harga sekarang masih jauh di bawah kedua indikator utama tersebut.

 

Indeks kekuatan relatif (RSI) 14 hari berada di level 40,50, yang meski masih tergolong netral, menunjukkan kecenderungan melemah. Walaupun belum memasuki area jenuh jual, RSI mengindikasikan bahwa minat beli belum cukup untuk mengubah pola bearish yang terbentuk.

 

McGlone memperingatkan investor bahwa meskipun terdapat kenaikan jangka pendek, potensi penurunan lebih dalam tetap besar, terutama menjelang penutupan tahun. Ia menyebut fenomena ini sebagai “Christmas Grinch,” yaitu risiko bahwa harga Bitcoin dapat kembali jatuh ke US$50.000 atau Rp830 juta sebelum tahun berganti jika tekanan pasar tidak mereda.

Sumber: viva.co.id

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.