Program MBG Ramadan Disorot! Menu Telur Asin Dinilai Berisiko bagi Kesehatan

Berita Terkini - Diposting pada 01 February 2026 Waktu baca 5 menit

Ramadhan Tak Hentikan MBG, Pemerintah Ubah Skema, Dibawa Pulang ke Rumah (Ist)

Pakar gizi masyarakat dr. Tan Shot Yen memberikan tanggapan terkait rencana menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang akan dibagikan kepada penerima manfaat, termasuk siswa, selama bulan Ramadan.

 

Menurutnya, jika ditinjau dari aspek gizi, menu tersebut tidak mampu memenuhi kebutuhan nutrisi anak secara memadai.

 

“Tidak mungkin cukup,” ujar dr. Tan Shot Yen kepada Bloomberg Technoz pada Jumat (30/1).

 

Ia menambahkan, persoalan menjadi lebih serius apabila menu MBG Ramadan hanya berupa makanan kering ringan yang diklaim sebagai takjil pembuka puasa.

 

Dr. Tan juga mengkritisi rencana tetap menyertakan telur asin dalam menu MBG selama Ramadan. Ia merujuk pada kebutuhan natrium balita berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 28 Tahun 2019, yang menyebutkan kebutuhan natrium balita sekitar 800 mg per hari, sehingga batas 20% dari angka tersebut hanya sekitar 160 mg.

 

Sebagai perbandingan, satu butir telur asin rata-rata mengandung sekitar 2.500 mg garam.

 

“Masuk akal kah anak diberi telur asin?” katanya.

Untuk orang dewasa, kebutuhan garam harian berkisar 2.300 mg. Produk kemasan dengan kandungan natrium di bawah 5% per sajian (kurang dari 115 mg) masih tergolong aman, sedangkan yang melebihi 20% per sajian (lebih dari 460 mg) dikategorikan tinggi garam.

 

“Itu berarti produk tinggi garam. Coba cek keripik, biskuit, mi instan, dan camilan lainnya,” pesannya.

Ia juga mengingatkan pentingnya ketelitian dalam menghitung kandungan natrium.

 

“Perhitungannya harus benar. Produsen sering menyiasati label. Hitung natrium per takaran saji, bukan per kemasan atau per keping,” tegasnya.

 

Adapun contoh rekomendasi pola makan sehat untuk anak usia di atas lima tahun meliputi menu sarapan nasi merah, pepes ikan, sayur bayam, dan apel; bekal berupa pisang kepok kukus dan otak-otak dengan sambal kacang; makan siang nasi merah, ayam pop, daun singkong, dan jeruk; kudapan es kelapa tanpa gula serta ubi rebus; serta makan malam nasi merah, soto ayam, urap sayur, dan semangka.

 

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menegaskan bahwa program MBG tetap dilaksanakan selama Ramadan.

 

“Keputusan keempat adalah MBG tetap berjalan karena siswa yang berpuasa diberikan makanan kering,” ujarnya di Kantor Kemenko Pangan, Jakarta, Kamis (29/1).

 

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana menambahkan bahwa menu bagi siswa yang berpuasa akan disesuaikan dalam bentuk makanan kering.

 

Menu tersebut antara lain kurma, telur rebus, telur asin, telur pindang, buah, susu, dan abon.

 

“Contohnya untuk yang berpuasa: kurma, telur rebus atau telur asin atau telur pindang, buah, susu, abon,” jelas Dadan.

 

Ia juga menyebutkan bahwa bagi sekolah dengan mayoritas siswa tidak berpuasa, pelaksanaan MBG tetap berjalan seperti biasa tanpa perubahan. Mekanisme yang sama juga berlaku bagi penerima manfaat lainnya, termasuk balita, ibu hamil, dan ibu menyusui.

Sumber: bloombergtechnoz.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.