Berita Terkini
Tak Perlu Sarjana! Jadi 'Tukang Parkir' Pesawat, Segini Gaji dan Syaratnya
/index.php
Saham News - Diposting pada 01 February 2026 Waktu baca 5 menit
Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat mengalami penghentian sementara perdagangan (trading halt) pada Kamis (29/1/2026), yang memicu kejatuhan harga saham secara luas. Banyak saham anjlok hingga dua digit dan menyentuh batas Auto Reject Bawah (ARB). Meski tekanan pasar sangat kuat, sejumlah emiten besar justru menunjukkan respons yang berbeda. Alih-alih ikut terbawa kepanikan, beberapa perusahaan memanfaatkan penurunan harga sebagai kesempatan untuk melakukan pembelian kembali saham (buyback).
Aksi buyback ini bukan sekadar langkah korporasi rutin, melainkan mencerminkan keyakinan manajemen terhadap kekuatan fundamental bisnis mereka. Secara umum, buyback memiliki dua tujuan utama. Pertama, menandakan bahwa manajemen menilai harga saham telah berada di level yang atraktif. Kedua, membantu meredam tekanan jual dengan menyerap sebagian suplai saham di pasar.
Dari sisi psikologis, langkah tersebut juga ditujukan untuk menenangkan investor, karena menunjukkan optimisme perusahaan terhadap prospek jangka panjang. Tercatat setidaknya tiga emiten yang bergerak cepat memanfaatkan koreksi tajam pasar ini.
UNTR
Saham PT United Tractors Tbk (UNTR) sudah lebih dulu tertekan sebelum trading halt IHSG, menyusul sengketa perizinan tambang emas Martabe di Tapanuli Selatan yang dikelola oleh anak usahanya, PT Agincourt Resources. Tak lama setelah itu, UNTR mengumumkan program buyback tanpa RUPS yang berlangsung dari 22 Januari hingga 15 April 2026, dengan dana sebesar Rp2 triliun yang bersumber dari kas internal perusahaan.
BBCA
PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), bank swasta terbesar di Indonesia, sempat turun menembus level 7.000 pada 28 Januari 2026. Setelah penutupan perdagangan di hari yang sama, manajemen mengumumkan rencana buyback senilai Rp5 triliun. Namun, pelaksanaan buyback tersebut masih menunggu persetujuan pemegang saham dalam RUPS pada 12 Maret 2026 dan direncanakan berlangsung selama kurang lebih satu tahun.
BBCA menjadi salah satu saham yang paling terdampak oleh kebijakan pengetatan free float MSCI, mengingat bobotnya yang besar dalam indeks. Evaluasi MSCI masih akan berlanjut hingga Mei 2026, sehingga volatilitas berpotensi berlanjut, meskipun rencana buyback diharapkan dapat membantu menstabilkan pergerakan harga.
RAJA
Emiten lain yang turut melakukan buyback adalah PT Rukun Raharja Tbk (RAJA), perusahaan yang terafiliasi dengan Happy Hapsoro. Manajemen menyiapkan dana sekitar Rp250 miliar untuk membeli kembali saham perseroan, yang sepenuhnya berasal dari kas internal dan tidak mengganggu operasional. Program buyback ini berlangsung selama tiga bulan, mulai 29 Januari hingga 28 April 2026.
Secara keseluruhan, langkah cepat dari ketiga emiten tersebut menunjukkan bahwa koreksi pasar kali ini juga membuka peluang strategis bagi perusahaan dengan fundamental kuat dan likuiditas yang solid. Bagi investor, buyback dapat dimaknai sebagai sinyal kepercayaan manajemen, meskipun tetap perlu dianalisis bersamaan dengan kondisi makroekonomi, arah kebijakan MSCI, serta dinamika pasar global yang masih sarat ketidakpastian.
Sumber: cnbcindonesia.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.