Berita Terkini
Tak Perlu Sarjana! Jadi 'Tukang Parkir' Pesawat, Segini Gaji dan Syaratnya
/index.php
Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 01 February 2026 Waktu baca 5 menit
Sebagian besar mata uang Asia bergerak melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan pagi Jumat (30/1/2026), seiring dengan penguatan greenback di pasar global. Berdasarkan data Refinitiv hingga pukul 09.50 WIB, hampir seluruh mata uang Asia tercatat berada di zona merah akibat menguatnya dolar AS, dengan won Korea Selatan mencatatkan penurunan terdalam.
Won Korea terdepresiasi 0,53% ke level KRW 1.439,1 per dolar AS. Pelemahan serupa dialami yen Jepang yang turun 0,52% ke posisi JPY 153,88 per dolar AS. Selanjutnya, baht Thailand melemah 0,45% ke THB 31,36 per dolar AS, diikuti ringgit Malaysia yang turun 0,41% ke MYR 3,941 per dolar AS.
Rupiah juga belum mampu menahan tekanan dolar AS dan tercatat melemah 0,30% ke level Rp16.796 per dolar AS, melanjutkan tren penurunan dari sesi sebelumnya. Dolar Singapura dan dolar Taiwan turut terkoreksi masing-masing 0,23% dan 0,17% ke posisi SGD 1,26 per dolar AS dan TWD 31,4 per dolar AS.
Pelemahan ringan juga terjadi pada rupee India, peso Filipina, serta yuan China. Di tengah dominasi pelemahan tersebut, dong Vietnam justru mencatat penguatan 0,08% ke level VND 25.930 per dolar AS.
Tekanan terhadap mata uang Asia ini sejalan dengan penguatan dolar AS secara global, tercermin dari kenaikan indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kinerja greenback terhadap enam mata uang utama dunia. DXY tercatat naik 0,37% ke level 96,642.
Penguatan dolar AS terjadi setelah Presiden AS Donald Trump menyatakan akan segera mengumumkan calon ketua Federal Reserve berikutnya, di tengah harapan pasar bahwa pemerintah AS dapat menghindari penutupan pemerintahan (government shutdown). Pasar juga merespons laporan yang menyebut mantan Gubernur The Fed Kevin Warsh sebagai salah satu kandidat kuat, usai pertemuannya dengan Trump di Gedung Putih.
Sejumlah pelaku pasar menilai Warsh sebagai figur yang relatif independen, sehingga berpotensi meredam kekhawatiran investor. Selain itu, menjelang akhir pekan, investor cenderung mengurangi eksposur menyusul volatilitas pergerakan dolar sepanjang pekan ini.
Di sisi lain, sentimen global masih dipengaruhi ketidakpastian geopolitik dan kebijakan tarif AS, termasuk langkah eksekutif terhadap negara pemasok minyak ke Kuba serta spekulasi meningkatnya ketegangan dengan Iran yang sempat mendorong harga minyak. Namun, dukungan Trump terhadap kesepakatan anggaran guna mencegah government shutdown turut memberikan dorongan tambahan bagi penguatan dolar AS.
Sumber: cnbcindonesia.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.