Harga Bitcoin Anjlok Tajam, Mengarah ke Zona 'Max Pain' yang Ditakuti

Crypto News - Diposting pada 21 November 2025 Waktu baca 5 menit

Pasar kripto merosot tajam dalam 24 jam terakhir. Harga Bitcoin (BTC) hari ini jatuh drastis ke titik terendah sejak April 2025 dan memasuki zona ‘Max Pain’, yakni area yang dianggap paling menyakitkan bagi pelaku pasar namun juga menawarkan peluang “diskon” terbesar.

 

Mengacu pada data Coinmarketcap per Jumat (21/11/2025) pukul 06.15 WIB, kapitalisasi pasar kripto global anjlok 2,2% menjadi US$ 3,01 triliun dalam sehari. Bitcoin (BTC), kripto dengan kapitalisasi pasar terbesar, anjlok 4,04% dalam 24 jam terakhir. Saat ini, harga Bitcoin berada di US$ 87.473 per koin atau sekitar Rp 1,46 miliar (kurs Rp 16.738).

 

Aset kripto lain juga mengalami penurunan tajam. Ethereum (ETH) turun 4,0% menjadi US$ 2.864, Binance Coin (BNB) melemah 2,45% menjadi US$ 875, Dogecoin (DOGE) turun 2,07% menjadi US$ 0,15, XRP merosot 3,83% menjadi US$ 2,02, dan Solana (SOL) terkoreksi 1,23% menjadi US$ 134.

 

Dilansir CNBC internasional, harga Bitcoin menyentuh level terendah dalam lebih dari enam bulan. Pelemahan ini terjadi karena investor mengurangi minat pada aset berisiko sambil menunggu peluang pemangkasan suku bunga The Fed bulan depan.

 

Bitcoin sempat turun hingga US$ 86.325,81—titik terendah sejak 21 April—sebelum kembali bergerak di kisaran US$ 87 ribu.

 

Tekanan makin besar setelah AS merilis data tenaga kerja yang sangat kuat. Ekonomi AS menambah 119 ribu pekerjaan pada September, jauh melebihi perkiraan ekonom Dow Jones sebesar 50 ribu.

 

Data tersebut memunculkan keraguan terhadap peluang The Fed menurunkan suku bunga pada Desember. Menurut alat FedWatch CME Group, probabilitas pemangkasan kini turun ke sekitar 40%.

 

Menariknya, kejatuhan Bitcoin juga menyeret pasar saham, meski Nvidia baru merilis laporan kinerja yang kuat. Banyak investor agresif yang memiliki eksposur besar pada saham berbasis kecerdasan buatan (AI) juga memegang posisi besar di Bitcoin, sehingga pergerakan keduanya cenderung berkorelasi.

 

Secara teknikal, tekanan jual pada Bitcoin sudah terjadi sejak awal Oktober, dipicu oleh gelombang likuidasi paksa (cascading liquidations) pada posisi leverage tinggi yang mendorong penurunan beruntun.

 

Zona ‘Max Pain’

CoinTelegraph melaporkan bahwa tekanan jual terhadap Bitcoin semakin dalam. Aset kripto terbesar ini ambles hingga sekitar US$ 86 ribu, mendekati wilayah yang disebut analis sebagai zona ‘max pain’—wilayah yang paling menyakitkan bagi pasar tetapi menawarkan potensi “diskon” paling besar.

 

Kepala riset Bitwise Eropa, André Dragosch, menjelaskan bahwa zona max pain Bitcoin berada di antara dua level penting: US$ 84 ribu sebagai cost basis ETF Bitcoin BlackRock (IBIT), dan US$ 73 ribu sebagai cost basis MicroStrategy.

 

Dragosch menilai titik dasar dari siklus penurunan ini kemungkinan terbentuk di antara kedua level tersebut. Ia menyebut area itu sebagai harga “fire-sale”, di mana posisi pasar mengalami reset total.

 

Cost basis IBIT menggambarkan rata-rata harga pembelian Bitcoin oleh ETF tersebut. Ketika harga BTC mendekati level ini, sentimen pasar cenderung memburuk karena pemegang ETF mulai mempertimbangkan apakah penurunan lebih lanjut layak dihadapi atau menjadi alasan untuk keluar mencari likuiditas.

 

Situasi tersebut terlihat setelah IBIT mencatat outflow harian terbesar, yakni US$ 523 juta pada Selasa. Dalam sebulan terakhir, total arus keluar ETF Bitcoin mencapai US$ 3,3 miliar atau 3,5% dari total dana kelolaan.

 

MicroStrategy berada dalam kondisi yang lebih rentan. Nilai aset bersih (NAV) perusahaan turun di bawah 1, mencerminkan valuasi pasar yang lebih rendah daripada nilai Bitcoin yang mereka miliki—indikator klasik dari likuiditas ketat dan meningkatnya risiko pasar. Jika BTC kembali menguji US$ 73 ribu, tekanan jual diperkirakan bertambah, terutama jika situasi makro memburuk.

 

Secara makro, ketidakpastian meningkat menjelang rapat The Fed (FOMC) Desember. Data CryptoQuant menunjukkan bahwa penutupan sementara pemerintah AS sempat menunda rilis data tenaga kerja penting, mengurangi visibilitas The Fed terhadap kondisi ekonomi.

 

Ekspektasi pemangkasan suku bunga Desember turun menjadi 41,8% pada Kamis. Risalah FOMC terbaru menunjukkan komite terbelah antara inflasi yang bertahan di angka 3% dan risiko melonggarkan kebijakan terlalu cepat.

 

Jika The Fed memutuskan tidak memangkas suku bunga, kondisi likuiditas berpotensi tetap ketat—kondisi yang sebelumnya menyebabkan penurunan tajam Bitcoin pada awal November.

 

Di tengah sentimen yang rapuh, ada indikator positif: cadangan stablecoin di bursa mencapai rekor US$ 72 miliar, mencerminkan pola akumulasi serupa sebelum reli besar Bitcoin sepanjang 2025.

 

Tanpa pemangkasan suku bunga, analis memperkirakan Bitcoin bergerak di kisaran US$ 60 ribu–80 ribu hingga akhir tahun. Likuiditas diperkirakan menunggu kejelasan makro sebelum kembali mengalir ke aset berisiko seperti kripto.

Sumber: investor.id

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.

TAG :