8 Negara Penguasa Tambang Dunia 2025, Seluruh Negara Adikuasa Masuk Daftar

Berita Terkini - Diposting pada 23 December 2025 Waktu baca 5 menit

Industri pertambangan memegang peran krusial dalam penyediaan bahan baku strategis yang dibutuhkan untuk pembangunan infrastruktur, pengembangan teknologi, produksi peralatan, kendaraan, hingga berbagai barang konsumsi di seluruh dunia. Penentuan lokasi eksplorasi dan pengembangan mineral sangat dipengaruhi oleh ketersediaan sumber daya alam serta kebijakan pertambangan yang diterapkan suatu negara.

 

Wilayah pertambangan unggulan dunia umumnya memiliki kondisi geologi yang kaya mineral serta dukungan pemerintah yang kondusif bagi industri tambang. Negara-negara dengan sektor pertambangan terdepan antara lain Australia, Cile, China, Rusia, Kanada, Brasil, Republik Demokratik Kongo (DRC), Afrika Selatan, dan Amerika Serikat. Meski demikian, banyak negara masih menghadapi kendala seperti instabilitas politik, korupsi, beban pajak tinggi, keterbatasan infrastruktur, serta dampak lingkungan yang menghambat pengelolaan sumber daya secara berkelanjutan.

 

8 Negara Penguasa Tambang Dunia pada 2025

1. Australia
Mengutip cruxinvestor, Australia menempati posisi teratas sebagai negara pertambangan paling dominan secara global. Negara ini merupakan produsen terbesar dunia untuk bauksit, bijih besi, dan litium, serta pemain utama dalam produksi batubara, aluminium, tembaga, emas, mangan, nikel, perak, uranium, dan seng.

 

Australia memiliki cadangan mineral yang sangat melimpah, termasuk sumber daya batubara coklat, timbal, nikel, rutil, tantalum, uranium, dan zirkon terbesar yang dapat dieksploitasi secara ekonomis. Selain itu, cadangan bauksit, tembaga, emas, bijih besi, litium, mangan, perak, dan seng juga sangat signifikan. Australia Barat saja menyimpan potensi mineral dengan nilai lebih dari A$1 triliun, sementara wilayah lain seperti Queensland, New South Wales, Northern Territory, South Australia, Tasmania, dan Victoria juga kaya sumber daya.

 

Kombinasi kebijakan pro-tambang, stabilitas pemerintahan, transparansi regulasi, keunggulan teknologi, serta kedekatan geografis dengan pasar Asia menjadikan Australia pemimpin global di sektor ini. Perusahaan besar seperti BHP, Rio Tinto, Fortescue Metals, Roy Hill, OZ Minerals, South32, Newcrest, dan Lynas Rare Earths beroperasi di negara tersebut, didukung oleh banyak perusahaan menengah dan junior eksplorasi.

 

2. Cile
Cile merupakan produsen tembaga terbesar di dunia sekaligus pemasok litium utama. Sektor pertambangan menyumbang lebih dari 14% terhadap PDB nasional. Negara ini menguasai sekitar separuh cadangan litium dunia dan seperempat cadangan tembaga global.

 

Codelco, perusahaan milik negara, adalah penambang tembaga terbesar secara global. Aktivitas tambang tembaga membentang dari Antofagasta di utara hingga kawasan sekitar Santiago. Selain itu, perusahaan besar lain seperti BHP (Escondida), Collahausi JV, Anglo American, dan Antofagasta Minerals juga berperan penting.

 

Litium Cile diekstraksi dari danau air asin di wilayah Atacama yang memiliki kadar litium tertinggi di dunia. SQM dan Albemarle menjadi produsen utama litium karbonat untuk baterai kendaraan listrik. Stabilitas politik, kebijakan investasi yang mendukung, serta infrastruktur unggul menjadikan Cile destinasi tambang yang sangat menarik.

 

3. China
China memimpin produksi unsur tanah jarang dunia dengan pangsa pasar lebih dari 60% dan mendominasi produksi garam, semen, fosfat, nitrogen, serta kalium. Negara ini juga menjadi produsen terbesar batubara, emas, antimon, magnesium, timah, seng, mangan, dan tungsten.

 

Selain keunggulan produksi, China memiliki cadangan besar barit, fluorspar, grafit, molibdenum, fosfat, stronsium, dan timbal. Namun, sektor ini masih menghadapi tantangan serius seperti penambangan ilegal, persoalan keselamatan, polusi, penurunan kualitas bijih, serta praktik tidak etis.

 

Industri pertambangan China didominasi perusahaan milik negara seperti Shenhua Group, China Coal Energy, Aluminum Corporation of China, Jiangxi Copper, Zijin Mining, dan China Northern Rare Earth Group. Pemerintah mendorong konsolidasi industri guna meningkatkan efisiensi, keselamatan, dan pengendalian emisi.

 

4. Rusia
Rusia memiliki cadangan mineral kelas dunia yang mencakup emas, bijih besi, aluminium, nikel, tembaga, batubara, minyak, gas alam, serta sumber daya hutan yang tersebar luas di 12 zona waktu.

 

Negara ini bersaing dengan Australia sebagai produsen emas terbesar kedua setelah China, serta termasuk tiga besar produsen nikel, platinum, dan paladium. Perusahaan besar seperti Norilsk Nickel, Rusal, Polyus, dan Severstal memimpin sektor ini. Namun, kendala tata kelola, keterbatasan infrastruktur di wilayah terpencil, biaya tinggi, isu keselamatan, serta sanksi internasional sejak 2022 menghambat pertumbuhan industri.

 

5. Kanada
Kanada merupakan kekuatan besar di sektor pertambangan global dengan nilai produksi mineral sekitar USD100 miliar pada 2022, mencakup lebih dari 60 jenis mineral dan logam. Negara ini termasuk lima besar produsen dunia untuk kalium, uranium, kobalt, aluminium, dan logam strategis lainnya.

 

Cadangan mineral Kanada meliputi emas, perak, nikel, tembaga, kobalt, grafit, litium, serta logam tanah jarang. Infrastruktur yang maju, stabilitas politik, risiko rendah, dan praktik lingkungan yang baik menjadikan Kanada tujuan investasi utama. Perusahaan besar seperti Barrick Gold, Nutrien, Teck Resources, Hudbay Minerals, dan Cameco beroperasi secara aktif.

 

6. Republik Demokratik Kongo (DRC)
Meski memiliki kekayaan mineral luar biasa, DRC menghadapi tantangan besar seperti korupsi, konflik bersenjata, kurangnya transparansi, infrastruktur yang lemah, serta maraknya penambangan ilegal.

 

DRC menguasai lebih dari 70% cadangan kobalt dunia, serta memiliki cadangan besar berlian, tembaga, emas, timah, tantalum, dan tungsten. Industri ini menyerap ratusan ribu tenaga kerja. Perusahaan seperti Glencore, China Molybdenum, Chemaf, dan Umicore beroperasi di negara tersebut, meski masalah tata kelola masih menghambat pengembangan berkelanjutan.

 

7. Brasil
Brasil memiliki cadangan niobium terbesar dunia, bauksit terbesar ketiga, serta bijih besi terbesar ketiga secara global. Negara ini juga menjadi produsen penting emas, timah, litium, dan nikel.

 

Namun, birokrasi yang rumit, pajak tinggi, infrastruktur terbatas, serta penambangan ilegal menghambat optimalisasi sektor ini. Wilayah Carajás di Pará menjadi pusat tambang utama dengan Vale sebagai pemain terbesar. Pemerintah tengah mendorong reformasi perizinan dan peningkatan infrastruktur untuk menarik investasi yang lebih bertanggung jawab.

 

8. Amerika Serikat
Amerika Serikat memiliki cadangan mineral yang beragam dan merupakan produsen utama tembaga, emas, molibdenum, logam tanah jarang, serta mineral industri lainnya. Kontribusi sektor tambang terhadap PDB mencapai sekitar US$110 miliar pada 2022.

 

Negara bagian utama pertambangan meliputi Arizona, Nevada, Alaska, dan Montana. Namun, regulasi ketat, biaya tinggi, dan penolakan publik menjadi hambatan. AS masih bergantung pada impor mineral penting seperti kobalt, litium, dan grafit. Perusahaan besar seperti Freeport McMoRan, Newmont, dan Albemarle menjadi tulang punggung industri ini.

Sumber: SINDO

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.