India Geser RI Jadi Pasar Saham Paling Tak Disukai di Asia, Ada Apa?

Berita Terkini - Diposting pada 22 August 2026 Waktu baca 5 menit

India Geser RI Jadi Pasar Saham Paling Tak Disukai di Asia, Ada Apa?

India kini berada di posisi yang sebelumnya ditempati Indonesia: menjadi pasar saham yang paling tidak disukai pengelola dana global di Asia.

Survei terbaru Bank of America menunjukkan 32% responden secara neto berada dalam posisi underweight terhadap saham India. Artinya, secara agregat lebih banyak pengelola dana yang mengalokasikan porsi investasi India di bawah bobot acuan mereka dibandingkan yang mengambil posisi overweight.

India sekaligus menggantikan Indonesia sebagai pasar dengan sentimen terlemah dalam survei tersebut.

Survei dilakukan pada 7–13 Agustus 2026 dan melibatkan 98 panelis dengan total aset kelolaan sekitar US$272 miliar. Taiwan dan Jepang menjadi kawasan yang paling disukai responden.

 

Kenapa Investor Kurang Suka India?

Masalah utama ternyata bukan semata-mata laba perusahaan atau kondisi ekonomi tradisional.

Menurut survei BofA, kekhawatiran terbesar pengelola dana adalah minimnya eksposur yang jelas terhadap tema artificial intelligence atau AI di pasar saham India.

Ini menjadi penting karena dalam beberapa tahun terakhir, arus dana global sangat kuat mengalir ke perusahaan yang terhubung dengan AI, semikonduktor, pusat data, memori, dan perangkat keras teknologi.

Taiwan menjadi contoh paling jelas. Pasar sahamnya memiliki eksposur langsung ke rantai pasok chip dan perangkat keras AI, sehingga mendapat perhatian jauh lebih besar dalam portofolio investor global. Dalam survei BofA, Taiwan tetap menjadi salah satu pasar yang paling disukai.

India memiliki industri teknologi yang besar, tetapi pasar sahamnya lebih dikenal melalui perusahaan jasa IT, keuangan, konsumsi, energi, dan industri daripada produsen chip serta perangkat keras AI yang menjadi pusat reli teknologi global.

 

Pertumbuhan Ekonomi Ikut Jadi Kekhawatiran

Setelah persoalan AI, lemahnya momentum pertumbuhan menjadi risiko berikutnya yang disoroti investor.

India merupakan salah satu negara importir energi terbesar. Karena itu, kenaikan harga minyak memiliki dampak yang relatif besar terhadap biaya impor, inflasi, nilai tukar rupee, dan daya beli masyarakat.

Konflik di Timur Tengah sepanjang 2026 memperbesar persoalan tersebut.

Pada 18 Agustus, harga minyak kembali berada sekitar US$91 per barel setelah ketegangan AS–Iran meningkat. Kondisi tersebut kembali menekan saham India dan menjadi salah satu faktor Nifty 50 mencatat enam hari penurunan berturut-turut.

Ketergantungan India terhadap impor minyak membuat guncangan energi lebih cepat masuk ke perekonomiannya dibandingkan beberapa negara Asia lain yang memiliki posisi perdagangan energi lebih seimbang.

 

Valuasi Masih Dianggap Mahal

Investor juga menyoroti valuasi.

Meski harga saham India telah terkoreksi cukup dalam pada 2026, sebagian pengelola dana masih menganggap valuasinya relatif mahal dibandingkan prospek pertumbuhan dan pasar Asia lainnya.

Selain itu, kurangnya reformasi juga muncul sebagai faktor yang mengurangi minat terhadap India dalam survei BofA.

Kombinasi tersebut menciptakan kondisi yang tidak sederhana:

harga sudah turun, tetapi investor belum merasa valuasinya cukup murah untuk menutup berbagai risiko.

 

Nifty dan Sensex Masih Merah Tahun Ini

Sentimen negatif juga sejalan dengan performa indeks.

Reuters mencatat hingga 19 Agustus 2026, Nifty 50 turun sekitar 7,9% secara year-to-date, sementara Sensex terkoreksi sekitar 9,8%.

Performa tersebut tertinggal jauh dari sejumlah pasar saham Asia, termasuk Taiwan dan Korea Selatan.

Bloomberg juga mencatat Nifty 50 masih menjadi pasar utama Asia dengan performa terburuk kedua pada tahun ini meskipun indeks telah pulih sekitar 8% dari posisi terendah Maret.

Jika tren tersebut bertahan sampai akhir tahun, Nifty berisiko menghentikan rangkaian kenaikan tahunan yang telah berlangsung selama satu dekade.

 

Tapi Ada yang Aneh: Laba Emiten Justru Melesat

Yang membuat cerita India menarik adalah fundamental perusahaan justru menunjukkan perbaikan.

Reuters mencatat laba perusahaan yang tergabung dalam Nifty 50 tumbuh rata-rata 18% dibandingkan tahun sebelumnya pada kuartal yang berakhir Juni 2026.

Itu merupakan pertumbuhan tercepat dalam 10 kuartal.

Angka tersebut juga melampaui ekspektasi Motilal Oswal Financial Services sekitar 10%.

Sebanyak 19 sektor mencatat kinerja melampaui perkiraan dan rasio revisi naik terhadap revisi turun membaik menjadi 1,5. Sektor logam, ritel, perhiasan, barang konsumsi, serta sejumlah lembaga keuangan menjadi kontributor penting.

Dengan kata lain:

investor kurang menyukai pasar India, tetapi laba perusahaan India justru mulai membaik.

 

Asing Bahkan Sudah Masuk US$4 Miliar

Ada paradoks kedua.

Meskipun survei menunjukkan India menjadi pasar paling tidak disukai, Bloomberg mencatat dana global telah membeli lebih dari US$4 miliar saham India pada kuartal berjalan.

Nilainya bahkan merupakan yang terbesar di antara emerging market regional dalam periode tersebut.

Dana tersebut masuk setelah investor asing melakukan aksi jual besar pada paruh pertama tahun ini.

Pada pertengahan Agustus, Reuters mencatat akumulasi arus keluar investor asing dari saham India sepanjang 2026 telah mencapai sekitar US$25 miliar.

Artinya, posisi underweight dalam survei tidak berarti investor sama sekali tidak membeli India.

Investor dapat tetap memiliki eksposur dan melakukan pembelian taktis, tetapi porsinya masih lebih kecil dibanding bobot benchmark atau dibanding alokasi mereka ke pasar Asia lain.

 

Kenapa AI Menjadi Begitu Penting?

Perubahan pola investasi global membantu menjelaskan fenomena ini.

Investor institusi kini tidak hanya mencari negara dengan pertumbuhan PDB tinggi.

Mereka mencari pasar yang memiliki emiten listed yang dapat memberikan eksposur langsung terhadap tema investasi terbesar.

Saat tema AI, semikonduktor, data center, dan high-performance computing menjadi pusat perhatian, Taiwan memiliki keuntungan struktural karena banyak perusahaan teknologi penting diperdagangkan di bursanya.

India tidak memiliki kedalaman eksposur hardware AI yang sama.

Akibatnya, pertumbuhan ekonomi India yang secara struktural masih kuat belum tentu langsung diterjemahkan menjadi alokasi besar pada pasar sahamnya.

 

Harga Minyak Menjadi Titik Lemah India

Risiko energi semakin memperumit situasi.

Financial Times sebelumnya melaporkan lonjakan harga energi akibat konflik Iran telah mendorong investor asing keluar dari aset India secara agresif. Rupee sempat menghadapi tekanan besar dan imbal hasil obligasi meningkat.

Pada Agustus, harga minyak kembali meningkat karena upaya penyelesaian konflik AS–Iran belum menghasilkan kepastian.

Bagi India, minyak mahal dapat:

  • meningkatkan nilai impor;
  • memperbesar tekanan inflasi;
  • melemahkan rupee;
  • memperburuk transaksi berjalan;
  • serta mengurangi ruang konsumsi masyarakat.

Itulah sebabnya perubahan harga Brent dapat mempunyai pengaruh besar terhadap saham India.

 

Indonesia Justru Mulai Keluar dari Posisi Terbawah

Cerita Indonesia bergerak ke arah sebaliknya.

Dalam survei Juli, sekitar 32% fund manager secara neto underweight terhadap Indonesia.

Pada survei Agustus, angkanya membaik menjadi 27%.

Indonesia memang masih berada di zona net underweight. Jadi, hasil survei tersebut belum berarti pengelola dana sudah bullish secara keseluruhan terhadap IHSG.

Namun, arah sentimennya membaik.

IHSG Sudah Naik Lebih dari 20% dari Titik Terendah

Salah satu faktor yang mengubah persepsi adalah pemulihan pasar saham Indonesia.

Bloomberg mencatat IHSG telah menguat lebih dari 20% dari posisi terendah Juni 2026.

Sebelumnya, pasar Indonesia mengalami tekanan sangat berat.

PEFINDO mencatat hingga akhir Juni 2026 IHSG masih terkoreksi sekitar 34,74% sejak awal tahun, terdampak ketidakpastian global, depresiasi rupiah, capital outflow, dan kekhawatiran terhadap status Indonesia dalam indeks MSCI.

Bank Indonesia kemudian melakukan sejumlah kebijakan untuk membantu stabilisasi rupiah. Bersamaan dengan itu, tekanan ekstrem di pasar saham mulai berkurang.

 

Risiko MSCI Belum Benar-Benar Hilang

Namun, ada satu detail yang perlu diluruskan.

Kekhawatiran Indonesia diturunkan menjadi frontier market oleh MSCI memang mereda dibanding awal tahun, tetapi belum sepenuhnya selesai.

Pada Juni, MSCI memperpanjang peninjauan status Indonesia hingga November 2026. MSCI masih menyoroti masalah transparansi struktur kepemilikan, free float, serta dugaan aktivitas perdagangan terkoordinasi.

Jadi, peningkatan sentimen Indonesia lebih tepat disebut:

pasar mulai menilai risiko downgrade lebih terkendali dibanding sebelumnya, bukan bahwa ancamannya telah resmi dicabut.

 

Taiwan dan Jepang Masih Jadi Favorit

Di ujung lain survei, Taiwan dan Jepang menjadi pasar yang paling disukai investor.

Keunggulan Taiwan cukup mudah dijelaskan.

Dalam salah satu laporan mengenai survei tersebut, sekitar 55% responden overweight terhadap Taiwan, dengan semikonduktor dan hardware menjadi sektor favorit utama.

Taiwan mendapat manfaat langsung dari investasi global pada AI dan pusat data.

Jepang memiliki cerita yang berbeda, mulai dari reformasi tata kelola perusahaan, kenaikan return kepada pemegang saham, hingga basis industri dan teknologi yang besar.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pasar Asia pada 2026 tidak bergerak dalam satu arah.

Investor semakin selektif berdasarkan tema pertumbuhan dan karakter fundamental masing-masing negara.

 

Apakah India Jadi Tidak Menarik untuk Investasi?

Tidak sesederhana itu.

Survei BofA menggambarkan posisi dan sentimen pengelola dana pada satu periode tertentu, bukan rekomendasi bahwa semua investor harus menjual saham India.

Ada beberapa faktor positif yang justru mulai muncul:

  • laba Nifty 50 tumbuh 18%;
  • investor asing kembali mencatat pembelian pada kuartal berjalan;
  • cadangan devisa India naik menjadi US$716,9 miliar per 14 Agustus, mendekati rekor tertinggi; dan
  • konsumsi serta kredit domestik masih memberikan dukungan bagi sejumlah sektor.

Di sisi lain, valuasi, minyak, yield global, serta kurangnya eksposur AI tetap membuat manajer dana berhati-hati.

Karena itu, survei ini lebih mencerminkan relative preference daripada penilaian bahwa ekonomi India sedang runtuh.

 

Kesimpulan

India resmi menggantikan Indonesia sebagai pasar saham yang paling tidak disukai pengelola dana Asia dalam survei BofA Agustus 2026.

Sebanyak 32% responden secara neto underweight terhadap saham India, terutama akibat terbatasnya eksposur AI, kekhawatiran terhadap pertumbuhan, valuasi tinggi, dan reformasi yang dinilai belum cukup.

Ironisnya, kondisi fundamental korporasi mulai membaik. Laba Nifty 50 tumbuh 18% dan dana global telah membeli lebih dari US$4 miliar saham India pada kuartal berjalan.

Sementara itu, Indonesia menunjukkan perbaikan sentimen: net underweight turun dari 32% menjadi 27% setelah IHSG bangkit lebih dari 20% dari posisi terendah Juni.

Cerita terbesarnya bukan sekadar “India kalah dari Indonesia.”

Yang terjadi adalah investor global semakin selektif: mereka mencari pasar yang menawarkan kombinasi pertumbuhan, valuasi yang menarik, kestabilan makro, serta eksposur langsung terhadap tema AI dan teknologi global.

Sumber: cnbcindonesia.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.