Asing Masuk Rp974 Miliar, BBRI Diborong Rp628 Miliar

Saham News - Diposting pada 22 August 2026 Waktu baca 5 menit

Asing Masuk Rp974 Miliar, BBRI Diborong Rp628 Miliar

Investor asing kembali meningkatkan eksposurnya ke pasar saham Indonesia pada akhir perdagangan pekan ini.

Pada Jumat, 21 Agustus 2026, investor asing mencatat pembelian bersih atau net buy hampir Rp1 triliun. Yang paling mencolok, sebagian besar perhatian investor asing tertuju pada saham-saham perbankan berkapitalisasi besar.

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BBRI menjadi saham yang paling banyak diborong, dengan net buy sekitar Rp628,49 miliar.

Aksi tersebut berjalan beriringan dengan kenaikan harga BBRI sebesar 2,87% atau 90 poin menjadi Rp3.230 per saham. Sepanjang sesi, BBRI bergerak pada rentang Rp3.160–Rp3.250.

 

Dana Asing Masuk Hampir Rp1 Triliun

Berdasarkan data seluruh pasar dalam materi yang menjadi dasar artikel ini, nilai pembelian investor asing mencapai sekitar Rp5,891 triliun, sedangkan penjualan sekitar Rp4,916 triliun.

Selisihnya menghasilkan net buy kurang lebih Rp974,6 miliar.

Angka seluruh pasar tersebut sejalan dengan laporan yang mencatat foreign net buy sekitar Rp974,5 miliar pada hari yang sama.

Namun, investor perlu membedakannya dengan transaksi di Pasar Reguler.

BRI Danareksa Sekuritas mencatat pembelian asing di Pasar Reguler sekitar Rp4,67 triliun dan penjualan sekitar Rp3,68 triliun, sehingga menghasilkan net buy sekitar Rp992,62 miliar. IDNFinancials mencatat angka sangat dekat, yakni Rp992,64 miliar.

Jadi, angka Rp974 miliar dan Rp992 miliar tidak saling bertentangan. Keduanya menggunakan cakupan transaksi yang berbeda.

 

BBRI Jadi Target Utama Asing

Dari berbagai saham yang diperdagangkan, BBRI berdiri cukup jauh di posisi teratas.

Net buy Rp628,49 miliar berarti pembelian bersih investor asing pada BBRI lebih dari dua kali net buy BBCA, yang berada di sekitar Rp269,09 miliar.

Menariknya, aksi akumulasi terhadap BBRI tidak hanya muncul pada Jumat.

Data pekanan hingga 21 Agustus menunjukkan net buy asing pada BBRI mencapai sekitar Rp745,32 miliar, sementara harga sahamnya naik 3,53% sepanjang pekan menjadi Rp3.230.

Dengan kata lain, pembelian Rp628 miliar pada Jumat merupakan bagian terbesar dari akumulasi asing BBRI sepanjang pekan tersebut.

 

Empat Big Banks Diborong Bersamaan

BBRI bukan satu-satunya bank yang masuk radar.

Data Pasar Reguler menunjukkan BBCA mencatat net buy sekitar Rp269,09 miliar, BMRI Rp140,01 miliar, dan BBNI Rp113,14 miliar.

Jika dijumlahkan:

BBRI + BBCA + BMRI + BBNI = sekitar Rp1,15 triliun net buy asing.

Jumlah itu bahkan lebih besar daripada net buy asing Pasar Reguler secara keseluruhan.

Hal tersebut bukan kesalahan matematika. Artinya, pembelian besar pada empat bank tersebut sebagian dikompensasi oleh aksi jual bersih asing pada saham lain.

Data yang sama menunjukkan ISAT menjadi salah satu saham yang paling banyak dijual asing dengan net sell Rp52,87 miliar, disusul ASII sekitar Rp48,91 miliar, BUMI Rp48,19 miliar, AMMN Rp33,49 miliar, dan BRMS Rp30,33 miliar.

Ini memperkuat kesimpulan bahwa perdagangan Jumat bukan hanya cerita mengenai dana asing masuk ke Indonesia, tetapi juga rotasi modal ke saham tertentu—terutama big banks.

 

Saham Bank Kompak Menguat

Arus dana tersebut juga tercermin pada harga.

BBRI menguat 2,87% ke Rp3.230.

BBNI bahkan naik sekitar 3,90% ke Rp3.730, BMRI menguat 1,69% ke Rp4.220, sedangkan BBCA naik 0,78% ke Rp6.450.

Dengan kapitalisasi pasar yang besar, pergerakan saham-saham tersebut turut membantu menopang IHSG.

IHSG akhirnya menutup perdagangan Jumat di 6.525,69, naik sekitar 0,37%. Sepanjang sesi, indeks bertahan di zona positif dan bergerak di kisaran 6.507–6.551.

Ini berarti pembelian asing berlangsung bersamaan dengan penguatan pasar secara lebih luas, bukan ketika IHSG sedang mengalami tekanan tajam.

 

Kenapa Big Banks Menarik bagi Investor Asing?

Ada alasan struktural mengapa saham bank besar sering mendominasi transaksi asing.

BBRI, BBCA, BMRI, dan BBNI memiliki kapitalisasi pasar besar, likuiditas tinggi, dan bobot signifikan dalam indeks utama.

Karakter tersebut memudahkan investor institusi global untuk meningkatkan atau mengurangi eksposur mereka terhadap Indonesia dalam jumlah besar.

Jika fund manager global ingin menambah posisi Indonesia tanpa mengambil risiko likuiditas terlalu tinggi pada saham kecil, big banks menjadi salah satu pintu yang paling mudah.

Hal serupa berlaku ketika asing ingin keluar: saham bank besar juga sering menjadi sumber likuiditas utama.

Karena itu, foreign flow pada big banks dapat berubah cepat dari net sell menjadi net buy, tergantung sentimen global, rupiah, suku bunga, valuasi, dan ekspektasi ekonomi.

 

Ada Faktor Likuiditas dari Pemerintah

Ada pula konteks domestik yang relevan terhadap sektor perbankan.

Pemerintah sebelumnya memutuskan memperpanjang penempatan dana sebesar Rp200 triliun di bank-bank BUMN hingga Juli 2027, yang semula direncanakan berakhir tahun ini.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan langkah tersebut bertujuan memberi likuiditas kepada perbankan agar kredit dapat tumbuh dan mendukung percepatan ekonomi. Pemerintah juga berencana meningkatkan keseluruhan dana yang ditempatkan di bank pemerintah hingga hampir Rp400 triliun, meski tidak semuanya diperpanjang hingga 2027.

Kebijakan tersebut relevan untuk BBRI, BMRI dan BBNI karena ketiganya merupakan bank milik negara.

Likuiditas yang lebih longgar berpotensi mengurangi tekanan biaya dana dan memberikan ruang lebih besar untuk ekspansi kredit.

Namun, keberhasilan akhirnya tetap bergantung pada apakah permintaan kredit masyarakat dan dunia usaha cukup kuat serta apakah kualitas aset tetap terjaga.

 

Kondisi Global Juga Sedikit Mendukung Emerging Market

Arus dana global pada pekan tersebut juga menunjukkan peningkatan minat terhadap aset berisiko.

Reuters mencatat dana saham emerging market menerima inflow sekitar US$1,57 miliar pada periode terbaru, sementara dana saham Asia secara keseluruhan menarik sekitar US$2,96 miliar.

Pada saat yang sama, dolar AS berada di bawah tekanan akibat kekhawatiran terhadap kebijakan buyback obligasi Treasury AS dan kondisi fiskal negara tersebut. Indeks dolar berada di sekitar 98,8 pada Jumat, sedangkan dolar melemah ke level terendah tiga bulan terhadap euro.

Dolar yang lebih lemah secara teori dapat memberikan ruang bagi mata uang dan aset emerging market, termasuk Indonesia, karena mengurangi sebagian tekanan dari sisi nilai tukar.

Namun, arah tersebut belum tentu bertahan lama karena yield obligasi AS dan harga minyak masih tinggi.

 

Bagaimana dengan APIC Rp297,1 Miliar?

Materi yang Anda berikan mencantumkan APIC sebagai saham kedua dengan net buy asing sekitar Rp297,1 miliar.

Angka itu tidak muncul dalam daftar utama net buy Pasar Reguler yang diterbitkan IDNFinancials dan BRI Danareksa, sehingga besar kemungkinan berasal dari penghitungan seluruh pasar, termasuk Pasar Negosiasi atau transaksi di luar Pasar Reguler.

Karena saya belum menemukan publikasi primer BEI yang terindeks yang merinci transaksi APIC Rp297,1 miliar tersebut, angka itu sebaiknya ditulis sebagai:

“berdasarkan data seluruh pasar dalam materi perdagangan, APIC mencatat net buy sekitar Rp297,1 miliar.”

Statusnya [PERLU VERIFIKASI] jika artikel memerlukan presisi data primer BEI.

Hal yang sama berlaku untuk angka ANTM Rp99 miliar, DSSA Rp89,4 miliar, CUAN Rp48,5 miliar, dan BRPT Rp27,6 miliar dalam daftar seluruh pasar yang Anda berikan.

 

Daftar Saham yang Paling Banyak Dibeli Asing

Berdasarkan materi seluruh pasar, urutannya adalah BBRI Rp628,5 miliar; APIC Rp297,1 miliar; BBCA Rp269,1 miliar; BMRI Rp140 miliar; TPIA Rp137,3 miliar; BBNI Rp113,1 miliar; ANTM Rp99 miliar; DSSA Rp89,4 miliar; CUAN Rp48,5 miliar; dan BRPT Rp27,6 miliar.

Untuk data Pasar Reguler yang berhasil diverifikasi, lima posisi teratas adalah BBRI, BBCA, BMRI, TPIA, dan BBNI dengan masing-masing net buy Rp628,49 miliar, Rp269,09 miliar, Rp140,01 miliar, Rp137,30 miliar, dan Rp113,14 miliar.

Perbedaan urutan tersebut kembali menunjukkan pentingnya mencantumkan apakah data berasal dari seluruh pasar atau Pasar Reguler.

 

Apakah Net Buy Asing Berarti BBRI Pasti Naik Lagi?

Tidak.

Foreign flow memberikan informasi mengenai arah transaksi investor luar negeri pada periode tertentu, tetapi bukan jaminan kinerja harga setelahnya.

Investor asing bisa melakukan pembelian karena valuasi, rebalancing indeks, kebutuhan portofolio, pandangan makro, atau sekadar transaksi jangka pendek.

Demikian pula harga saham dapat tetap turun di kemudian hari meskipun sebelumnya mencatat net buy asing besar.

BBRI sendiri sudah menguat 2,87% pada Jumat. Investor yang mengevaluasi saham tersebut tetap perlu melihat fundamental perusahaan, pertumbuhan kredit, kualitas aset, margin bunga, laba, valuasi, serta kondisi ekonomi.

Foreign flow sebaiknya menjadi salah satu data, bukan satu-satunya alasan mengambil keputusan investasi.

 

Kesimpulan

Investor asing kembali menunjukkan minat kuat terhadap saham Indonesia pada Jumat, 21 Agustus 2026.

Net buy seluruh pasar berada sekitar Rp974,5–Rp974,6 miliar, sementara Pasar Reguler mencatat sekitar Rp992,6 miliar. BBRI menjadi saham dengan pembelian asing terbesar mencapai Rp628,49 miliar.

BBRI juga ditutup menguat 2,87% menjadi Rp3.230, sementara BBCA, BMRI dan BBNI ikut mendapat aliran dana asing besar. Empat big banks tersebut secara kolektif mencatat net buy sekitar Rp1,15 triliun di Pasar Reguler.

Jadi, cerita perdagangan Jumat bukan hanya “asing kembali masuk ke saham Indonesia”.

Yang lebih menarik adalah ke mana uang asing tersebut bergerak: sebagian besar mengalir ke saham perbankan besar, dengan BBRI menjadi sasaran paling agresif.

Sumber: cnbcindonesia.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.