Berita Terkini
Prabowo Turun Langsung ke Kalimantan, TNI-Polri Dikerahkan ke 4 Provinsi
/index.php
Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 22 August 2026 Waktu baca 5 menit
Pemerintah mulai mengubah cara memandang perdagangan bebas.
Jika selama ini pembahasan Free Trade Agreement atau FTA kerap berpusat pada ancaman impor dan tekanan terhadap industri lokal, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa ingin pemerintah mengambil pendekatan yang lebih agresif: mencari industri yang masih bisa dipertahankan, memperkuat sektor yang kompetitif, dan membangun sumber pertumbuhan baru.
Strategi itu menjadi bagian dari upaya pemerintah mempercepat ekonomi Indonesia hingga setidaknya mencapai laju 6% pada akhir 2026.
Dalam seminar Free Trade Agreements on Indonesia Industrialization and Economic Performance di Kementerian Keuangan pada 20 Agustus, Purbaya mengatakan Kemenkeu akan mulai mengubah pendekatannya sejak September dengan memanfaatkan data dan pemodelan ekonomi untuk membaca dampak FTA secara lebih rinci.
Kementerian Keuangan dalam keterangan resminya bahkan menyebut seluruh instrumen fiskal akan dioptimalkan untuk mendukung target pertumbuhan ekonomi nasional di kisaran 6%–8%.
Ide utamanya sederhana.
Tidak semua industri Indonesia akan memperoleh dampak yang sama ketika tarif perdagangan semakin rendah dan kompetisi global semakin terbuka.
Ada industri yang mungkin sudah kehilangan keunggulan ekonominya. Ada yang masih mampu bertahan. Ada pula yang sebenarnya masih memiliki peluang besar tetapi membutuhkan dukungan agar kembali kompetitif.
Menurut Purbaya, pemerintah perlu memetakan kondisi tersebut secara lebih presisi sebelum memutuskan kebijakan fiskal, insentif, perlindungan, maupun bentuk intervensi lain.
Pendekatan tersebut berbeda dari pola yang hanya menghitung berapa besar industri domestik dirugikan akibat produk impor.
FTA juga harus dilihat dari sisi sebaliknya: pasar baru apa yang terbuka bagi Indonesia, investasi apa yang bisa masuk, dan sektor apa yang dapat berkembang karena akses perdagangan menjadi lebih luas.
Dalam paparannya, Purbaya menggambarkan beberapa kemungkinan nasib sektor industri.
Sebagian industri mungkin sudah tidak ekonomis untuk terus dipertahankan. Sektor lain masih bisa bertahan tetapi tumbuh terbatas. Kelompok berikutnya masih mempunyai prospek dan dapat memperoleh perlindungan atau insentif agar kembali berkembang.
Namun, strategi pemerintah tidak berhenti pada industri lama.
Ada kategori tambahan yang dianggap sama pentingnya: industri yang saat ini belum menjadi kekuatan Indonesia tetapi memiliki prospek pertumbuhan tinggi pada masa depan.
Salah satu sektor yang secara khusus disebut Purbaya adalah data center.
Indonesia dinilai memiliki peluang menarik investasi pusat data dalam jumlah lebih besar.
Purbaya melihat sektor ini sebagai contoh industri baru yang dapat tumbuh cepat apabila lingkungan investasinya mendukung.
Tetapi ada syarat penting: energi.
Data center membutuhkan pasokan listrik dalam jumlah besar, stabil, dan berlangsung 24 jam. Karena itu, ketersediaan energi menjadi bagian penting dari daya saing Indonesia ketika bersaing memperebutkan investasi infrastruktur digital.
Artinya, strategi menarik investasi digital tidak dapat berdiri sendiri.
Kebijakan perdagangan, investasi, energi, infrastruktur, dan fiskal harus berjalan bersama.
Tanpa listrik yang mencukupi dan kompetitif, kesempatan menarik investasi pusat data bisa beralih ke negara lain di kawasan.
Target pertumbuhan menjadi alasan utama perubahan strategi tersebut.
Purbaya mengatakan mulai September Kemenkeu akan lebih aktif menggali potensi ekonomi, termasuk dari perdagangan bebas, dengan sasaran agar pertumbuhan dapat melaju minimal 6% pada akhir 2026.
Namun, angka tersebut perlu dibaca dengan konteks.
Proyeksi resmi pemerintah untuk pertumbuhan ekonomi sepanjang 2026 sebelumnya berada di kisaran 5,6%–6,0%.
Jadi, pernyataan “minimal 6% di akhir 2026” lebih tepat dibaca sebagai ambisi mempercepat momentum pertumbuhan menuju akhir tahun, bukan jaminan bahwa pertumbuhan tahunan sudah pasti berada di atas 6%.
Sementara itu, kebijakan jangka lebih panjang pemerintah memang diarahkan untuk membawa pertumbuhan ke kisaran lebih tinggi, termasuk target 6% pada 2027 dan aspirasi 6%–8% yang berulang kali disampaikan dalam strategi ekonomi pemerintah.
Salah satu peluang yang menjadi perhatian pemerintah adalah kerja sama dagang dengan Uni Eropa melalui Indonesia-European Union Comprehensive Economic Partnership Agreement atau IEU-CEPA.
Negosiasi perjanjian tersebut selesai pada 23 September 2025. Namun, CEPA belum efektif berlaku pada Agustus 2026 karena masih menjalani prosedur penandatanganan dan ratifikasi. Uni Eropa pada Juni telah membawa proposal perjanjian ke Dewan Uni Eropa, sementara Indonesia menargetkan implementasi pada awal 2027.
Jika berlaku, skalanya cukup besar.
Kesepakatan tersebut akan menghapus tarif pada lebih dari 98% pos tarif, dengan sekitar 80% perdagangan diliberalisasi sejak perjanjian mulai berlaku dan sekitar 96% setelah periode lima tahun.
Bagi Indonesia, sektor yang diperkirakan memperoleh manfaat antara lain tekstil dan alas kaki, selain sawit serta sejumlah komoditas lainnya.
Inilah salah satu alasan Purbaya melihat FTA bukan hanya sebagai ancaman masuknya produk luar negeri.
Akses pasar juga dapat menjadi senjata ekspor apabila industri Indonesia cukup kompetitif.
Tekstil dan alas kaki merupakan dua contoh yang disoroti.
Kedua sektor telah lama menjadi basis manufaktur padat karya Indonesia, tetapi menghadapi kompetisi ketat dari negara lain, perubahan permintaan global, serta peningkatan tuntutan lingkungan.
IEU-CEPA berpotensi memperbaiki akses produk Indonesia ke pasar Eropa.
Dokumen resmi pemerintah sebelumnya memasukkan garmen, kain, aksesori, sepatu kulit, sepatu olahraga, dan sandal sebagai kelompok ekspor Indonesia yang berpotensi memperoleh tarif nol melalui CEPA.
Tetapi akses tarif saja belum cukup.
Pasar Eropa juga semakin menuntut proses produksi yang dapat menunjukkan kinerja lingkungan lebih baik.
Uni Eropa telah memperkuat metodologi penilaian jejak lingkungan untuk pakaian dan alas kaki, mencakup seluruh siklus hidup produk dari bahan baku hingga penggunaan dan pembuangan.
Karena itu, penggunaan energi bersih dapat berubah dari sekadar isu lingkungan menjadi keunggulan kompetitif ekspor.
Purbaya kemudian menghubungkan peluang ekspor tersebut dengan kapasitas panas bumi Indonesia.
Ia membuka kemungkinan memperbesar investasi melalui PT Geo Dipa Energi untuk menyediakan energi geothermal bagi kawasan industri, termasuk tekstil, sehingga produk Indonesia memiliki profil energi yang lebih hijau ketika memasuki pasar Eropa.
Secara nasional, potensi panas bumi Indonesia memang sangat besar.
Kementerian ESDM mencatat potensi sumber daya panas bumi sekitar 23,7 GW, sementara kapasitas terpasang pada 2025 baru sekitar 2,74 GW.
Artinya, baru sebagian kecil potensi tersebut yang telah dimanfaatkan.
Geo Dipa sendiri mengoperasikan PLTP di Dieng dan Patuha. Laporan perusahaan mencatat masing-masing lokasi memiliki unit sekitar 60 MW dan sedang dikembangkan melalui unit tambahan.
Jika energi geothermal dapat semakin banyak dipasangkan dengan kawasan manufaktur, manfaatnya tidak hanya berupa penambahan listrik bersih.
Energi tersebut juga dapat menjadi bagian dari strategi perdagangan.
Di sinilah strategi baru Purbaya menjadi menarik.
Biasanya FTA dianggap sebagai isu tarif: pajak impor turun, barang masuk lebih murah, kompetisi meningkat.
Namun, strategi terbaru mencoba menghubungkannya dengan faktor lain.
Perusahaan tekstil yang mendapatkan listrik lebih bersih dapat memiliki posisi lebih baik di pasar Eropa. Pusat data dengan listrik yang andal dapat menarik investasi teknologi. Industri yang masih kompetitif dapat memperoleh insentif. Sedangkan industri yang tidak lagi ekonomis dapat dievaluasi daripada terus dilindungi tanpa batas.
Dengan demikian, perdagangan bebas mulai dipandang sebagai alat seleksi dan transformasi industri, bukan hanya perjanjian pengurangan tarif.
Peluang dari pasar Eropa juga datang bersama kewajiban.
IEU-CEPA memiliki komitmen mengenai lingkungan, iklim, hak tenaga kerja, Kesepakatan Paris, serta transisi menuju ekonomi rendah karbon.
Artinya, hilangnya tarif belum tentu otomatis membuat seluruh eksportir Indonesia lebih kompetitif.
Perusahaan tetap harus memenuhi spesifikasi produk, standar keberlanjutan, aturan ketenagakerjaan, ketertelusuran, dan berbagai persyaratan teknis lain.
Bagi industri yang mampu beradaptasi, CEPA bisa menjadi peluang.
Bagi perusahaan yang tertinggal dalam efisiensi dan standar produksi, perdagangan yang lebih terbuka justru bisa memperbesar tekanan.
Inilah alasan pemetaan industri menjadi penting.
Insentif yang diberikan secara luas tanpa melihat produktivitas dapat membuat anggaran negara digunakan mempertahankan bisnis yang secara struktural sudah sulit bersaing.
Sebaliknya, tidak memberi dukungan kepada industri dengan peluang ekspor dan kemampuan menyerap tenaga kerja juga dapat membuat Indonesia kehilangan kesempatan.
Strategi yang disampaikan Purbaya mengarah pada kebijakan yang lebih selektif: mengetahui sektor yang layak ditolong, memahami bentuk dukungan yang diperlukan, dan mencari industri baru sebelum negara pesaing mendominasi pasar tersebut.
Hal ini juga perlu digarisbawahi.
FTA merupakan salah satu instrumen untuk memperbesar perdagangan dan investasi, tetapi pertumbuhan ekonomi 6% membutuhkan mesin yang jauh lebih luas.
Konsumsi rumah tangga, investasi domestik, kredit, produktivitas pekerja, belanja pemerintah, stabilitas rupiah, inflasi, ekspor, dan kondisi ekonomi dunia tetap memainkan peranan besar.
IEU-CEPA sendiri juga belum berlaku, sehingga manfaat tarifnya belum dapat menjadi pendorong penuh bagi pertumbuhan 2026.
Karena itu, strategi FTA lebih tepat dilihat sebagai bagian dari agenda industrialisasi dan pertumbuhan jangka menengah, bukan satu-satunya resep untuk mencapai 6%.
Purbaya sedang mencoba mengubah cara pemerintah membaca perdagangan bebas.
FTA tidak lagi hanya dianalisis dari sisi industri yang terancam, tetapi juga dipakai untuk menentukan sektor mana yang masih layak diperkuat dan industri baru apa yang harus mulai dibangun.
Data center menjadi salah satu kandidat industri masa depan, sementara tekstil dan alas kaki berpotensi memperoleh peluang lebih besar dari pasar Eropa. Energi panas bumi melalui perusahaan seperti Geo Dipa dapat menjadi salah satu instrumen untuk meningkatkan daya saing industri yang membutuhkan energi hijau.
IEU-CEPA juga menawarkan peluang konkret karena lebih dari 98% pos tarif pada akhirnya akan diliberalisasi, termasuk akses yang lebih baik bagi tekstil dan alas kaki Indonesia. Namun, perjanjian tersebut belum berlaku efektif dan masih harus menyelesaikan proses ratifikasi.
Jadi, perubahan terbesar dalam strategi Purbaya bukan sekadar mendukung perdagangan bebas.
Yang berubah adalah pertanyaannya.
Bukan lagi hanya “industri apa yang kalah karena FTA?”
Melainkan “industri apa yang bisa dibuat menang karena FTA?”
Sumber: cnbcindonesia.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.