Utang AS Tembus US$40 Triliun di Era Trump, Kok Bisa?

Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 22 August 2026 Waktu baca 5 menit

Utang AS Tembus US$40 Triliun di Era Trump, Kok Bisa?

Amerika Serikat resmi mencatat tonggak baru yang tidak terlalu membanggakan. Total utang pemerintah federal menembus US$40 triliun untuk pertama kalinya dalam sejarah.

 

Data Departemen Keuangan AS menunjukkan total utang pada Selasa, 18 Agustus 2026 mencapai US$40,047 triliun. Dengan kurs rupiah sekitar Rp17.843 per dolar pada periode tersebut, nilainya setara kurang lebih Rp714,6 kuadriliun.

Angka yang sangat besar itu langsung kembali memicu perdebatan mengenai kondisi fiskal Amerika, terutama karena defisit tahunan masih tinggi sementara biaya bunga terus membengkak.

 

Namun, ada satu konteks yang perlu dipahami sejak awal: US$40 triliun tersebut bukan utang yang seluruhnya muncul pada pemerintahan Donald Trump.

 

Apa Isi Utang US$40 Triliun?

Departemen Keuangan membagi utang federal tersebut menjadi dua kelompok utama.

Sekitar US$32,266 triliun merupakan debt held by the public, yakni kewajiban pemerintah kepada investor di luar pemerintah federal seperti individu, bank, dana pensiun, Federal Reserve, pemerintah asing, hingga investor institusi.

 

Sisanya, sekitar US$7,782 triliun, merupakan intragovernmental holdings atau utang antara pemerintah federal dan rekening serta lembaga pemerintah sendiri.

Bagi ekonom, debt held by the public sering dianggap indikator yang lebih relevan untuk mengukur tekanan ekonomi karena menunjukkan utang kepada pihak di luar pemerintah. Nilainya kini sekitar 100% PDB AS, sedangkan gross federal debt berada sekitar 126% PDB.

 

Jadi, headline US$40 triliun menggambarkan utang bruto pemerintah, bukan seluruhnya obligasi yang berada di tangan investor publik.

 

Utang Sudah Dua Kali Lipat Sejak Trump Pertama Menjabat

Ketika Donald Trump pertama kali memasuki Gedung Putih pada Januari 2017, total utang federal sekitar US$19,95 triliun.

Pada akhir masa jabatan pertamanya, nilainya telah naik sekitar US$7,8 triliun menjadi kurang lebih US$27,75 triliun.

 

Selama empat tahun pemerintahan Joe Biden, angka tersebut meningkat lagi sekitar US$8,4–US$8,5 triliun menjadi sekitar US$36,2 triliun. Setelah Trump kembali menjabat pada Januari 2025, utang bertambah sekitar US$3,8 triliun hingga melewati US$40 triliun pada Agustus 2026.

 

Secara aritmetika, kenaikan utang yang terjadi selama dua periode Trump mencapai sekitar US$11,6 triliun.

Tetapi angka itu tidak sama dengan mengatakan kebijakan Trump sendirilah yang “menciptakan” US$11,6 triliun utang.

 

Presiden mewarisi kewajiban, program belanja, pembayaran bunga, dan kebijakan dari pemerintahan sebelumnya. Kongres juga memiliki peran langsung dalam menetapkan pajak dan belanja federal.

 

Pandemi Membuat Utang Melonjak

Salah satu lonjakan terbesar terjadi ketika pandemi Covid-19 menghantam ekonomi.

Reuters mencatat sekitar sepertiga peningkatan utang sejak 2017 terjadi dalam periode dua tahun ketika pemerintah meminjam besar-besaran untuk membiayai respons pandemi di bawah pemerintahan Trump dan Biden.

 

Pada masa tersebut, pemerintah AS mengeluarkan stimulus kepada rumah tangga, memberikan dukungan kepada perusahaan, memperbesar tunjangan pengangguran, membiayai program kesehatan, dan menjalankan berbagai program darurat.

Dengan demikian, sebagian kenaikan utang mencerminkan keputusan luar biasa pada masa krisis, bukan hanya kebijakan rutin.

Meski pandemi telah lewat, masalahnya adalah defisit besar tidak ikut menghilang.

 

AS Masih Defisit Hampir US$2 Triliun

Congressional Budget Office atau CBO memperkirakan defisit federal tahun fiskal 2026 berada sekitar US$1,9 triliun dalam baseline Februari. Defisit tersebut setara 5,8% PDB, jauh lebih besar dibanding rata-rata 50 tahun sekitar 3,8%.

Data aktual bahkan menunjukkan tekanan yang kuat.

Dalam sepuluh bulan pertama tahun fiskal 2026, pemerintah telah mencatat defisit US$1,799 triliun. Angka itu sudah melampaui defisit sepanjang tahun fiskal 2025 sebesar US$1,775 triliun, padahal tahun fiskal masih menyisakan dua bulan.

 

Artinya sederhana: pemerintah terus mengeluarkan uang lebih banyak daripada penerimaannya dan harus menutup selisih tersebut melalui pinjaman baru.

Selama kondisi ini berlangsung, utang akan terus bertambah.

 

Juli Saja Defisit US$432 Miliar

Tekanan tersebut terlihat jelas pada Juli 2026.

Departemen Keuangan melaporkan defisit anggaran US$432 miliar, rekor terbesar untuk bulan Juli dan defisit bulanan terbesar sejak Maret 2021.

Sebagian angka itu memang dipengaruhi pergeseran jadwal pembayaran sejumlah tunjangan dari Agustus ke Juli. Setelah disesuaikan, defisit Juli tetap sekitar US$333 miliar dan meningkat 18% dibanding setahun sebelumnya.

Penerimaan Juli turun 1% menjadi US$334 miliar, sementara pengeluaran mencapai US$766 miliar.

 

Perbedaannya menunjukkan mengapa utang dapat bertambah begitu cepat meskipun ekonomi AS tidak sedang berada dalam resesi besar.

 

Ada Masalah Baru dari Tarif Trump

Ada faktor yang cukup unik pada 2026: penerimaan bea masuk justru berubah negatif.

Pada Juli, pemerintah mengumpulkan bea masuk secara bruto tetapi harus mengembalikan tarif dalam jumlah besar setelah putusan pengadilan terkait kebijakan tarif sebelumnya.

 

Total tariff refunds pada Juli mencapai sekitar US$33,38 miliar, sehingga penerimaan bea masuk bersih berubah menjadi arus keluar US$8,55 miliar. Juli merupakan bulan ketiga berturut-turut ketika penerimaan bea masuk bersih negatif.

Dengan demikian, salah satu instrumen yang sebelumnya diharapkan meningkatkan penerimaan justru menambah tekanan fiskal dalam jangka pendek akibat pengembalian dana.

 

Bukan Cuma Soal Trump vs Biden

Persoalan fiskal AS lebih dalam daripada persaingan dua presiden.

CBO menunjukkan belanja federal 2026 diperkirakan mencapai sekitar 23,3% PDB, sedangkan penerimaan hanya sekitar 17,5% PDB. Selisih struktural tersebut menyebabkan defisit terus muncul.

Porsi besar belanja juga berasal dari program yang sulit dipangkas cepat, seperti Social Security, Medicare, Medicaid, serta berbagai kewajiban veteran.

CBO memperkirakan mandatory spending pada 2026 mencapai sekitar US$4,5 triliun. Kenaikannya terutama berasal dari Social Security dan Medicare, ditambah program lain seperti Medicaid dan tunjangan veteran.

 

Inilah alasan pemangkasan pada lembaga federal atau program discretionary saja sulit menyelesaikan masalah defisit secara keseluruhan.

 

DOGE Tidak Menyentuh Bagian Terbesar Anggaran

Trump pada periode keduanya memang mendorong efisiensi melalui Department of Government Efficiency atau DOGE, termasuk pemangkasan pegawai dan pengeluaran di sejumlah lembaga.

Tetapi sebagian besar target penghematan berada di belanja discretionary.

Padahal pengeluaran mandatory seperti Social Security dan Medicare bersama pembayaran bunga memiliki porsi yang sangat besar dalam APBN federal.

 

Reuters mencatat sekitar 60% dari belanja pemerintah AS yang mendekati US$7 triliun per tahun berasal dari program mandatory.

Dengan demikian, bahkan pemotongan yang besar pada lembaga pemerintah belum tentu cukup mengubah lintasan utang apabila program mandatory, penerimaan pajak, dan biaya bunga tidak ikut dibenahi.

 

Beban Bunga Sudah Jadi Masalah Besar

Ini mungkin bagian yang paling mengkhawatirkan.

CBO memperkirakan pembayaran bunga bersih pemerintah naik dari sekitar US$970 miliar pada 2025 menjadi lebih dari US$1 triliun pada 2026. Pada 2036, nilainya diproyeksikan mencapai sekitar US$2,1 triliun per tahun.

Reuters juga melaporkan pembayaran bunga telah menjadi pos pengeluaran federal terbesar kedua setelah Social Security, melampaui Medicare.

 

Ini penting karena bunga utang berbeda dengan belanja infrastruktur atau pendidikan.

Bunga merupakan biaya untuk memenuhi kewajiban pinjaman sebelumnya.

Semakin banyak anggaran yang terserap untuk membayar bunga, semakin sempit ruang yang tersedia untuk program baru atau respons terhadap krisis.

 

One Big Beautiful Bill Ikut Menambah Tekanan

Kebijakan fiskal periode kedua Trump juga menjadi bagian dari proyeksi kenaikan utang ke depan.

CBO memperkirakan 2025 reconciliation act, yang kerap disebut One Big Beautiful Bill Act, akan menambah kumulatif defisit sekitar US$4,7 triliun sepanjang 2026–2035 setelah memperhitungkan dampak ekonomi dan tambahan biaya bunga.

 

Penyebabnya tidak hanya satu.

Perpanjangan permanen sejumlah pemotongan pajak 2017 meningkatkan defisit, begitu pula tambahan belanja pertahanan dan keamanan dalam negeri. Beberapa pengurangan belanja pada Medicaid dan SNAP mengurangi sebagian biaya tersebut, tetapi secara keseluruhan efek bersihnya masih memperbesar defisit.

Di sisi lain, CBO juga memperkirakan tarif yang lebih tinggi dapat menurunkan defisit sekitar US$3 triliun pada baseline tersebut, meskipun perubahan kebijakan, putusan hukum, dan pengembalian tarif membuat realisasi akhirnya tidak pasti.

 

Apakah Utang US$40 Triliun Berarti AS Akan Bangkrut?

Tidak otomatis.

AS memiliki salah satu ekonomi terbesar di dunia, menerbitkan utang dalam mata uangnya sendiri, dan Treasury AS masih menjadi salah satu aset paling penting dalam sistem keuangan global.

 

Tetapi CBO secara eksplisit menyebut lintasan fiskal saat ini tidak berkelanjutan dalam jangka panjang.

Utang yang dipegang publik diperkirakan naik dari sekitar 101% PDB pada 2026 menjadi 120% PDB pada 2036, melampaui rekor setelah Perang Dunia II. Jika kebijakan tidak berubah, rasio tersebut diperkirakan terus meningkat dalam dekade berikutnya.

 

Jadi, kekhawatirannya bukan AS tiba-tiba kehabisan uang besok.

Risikonya adalah biaya fiskal yang semakin besar dan semakin sulit dikendalikan.

 

Apa Dampaknya ke Masyarakat?

Utang pemerintah yang sangat tinggi dapat memengaruhi ekonomi melalui berbagai jalur.

Ketika pemerintah harus menerbitkan Treasury dalam jumlah besar, pemerintah bersaing dengan rumah tangga dan perusahaan untuk mendapatkan modal. Dalam kondisi tertentu, hal tersebut dapat ikut mempertahankan suku bunga jangka panjang pada level tinggi.

 

Reuters melaporkan yield Treasury jangka panjang mengalami tekanan pada pekan ketika utang menembus US$40 triliun, sementara term premium obligasi 10 tahun mencapai level tertinggi dalam lebih dari 12 tahun.

Biaya pinjaman yang lebih mahal dapat ikut diteruskan ke bunga hipotek, kredit bisnis, dan pembiayaan investasi.

Maya MacGuineas dari Committee for a Responsible Federal Budget juga memperingatkan bahwa utang besar mengurangi fleksibilitas pemerintah ketika menghadapi perang, resesi, pandemi baru, atau keadaan darurat lainnya.

 

Dari US$1 Triliun ke US$40 Triliun

Skala pertumbuhannya terlihat lebih jelas jika melihat sejarah.

AS membutuhkan hampir dua abad untuk pertama kali mencapai utang US$1 triliun pada 1981.

Kini utang telah mencapai US$40 triliun dan naik dari US$39 triliun menjadi US$40 triliun hanya dalam waktu kurang dari lima bulan. Dalam kurang dari 20 tahun, gross debt AS telah meningkat sekitar empat kali lipat.

 

Percepatan tersebut menunjukkan bahwa persoalan fiskal bukan lagi isu jangka sangat panjang.

Bahkan tambahan satu triliun dolar sekarang dapat terjadi hanya dalam hitungan beberapa bulan.

 

Jadi, Siapa yang Bertanggung Jawab?

Tidak tepat menyalahkan satu presiden saja.

Trump memang memimpin ketika utang bertambah sekitar US$7,8 triliun pada periode pertamanya dan sekitar US$3,8 triliun lagi sejak Januari 2025.

Biden juga memimpin ketika utang meningkat sekitar US$8,4 triliun.

 

Sebagian lonjakan berasal dari pandemi. Sebagian lain berasal dari pemotongan pajak, stimulus, pembangunan infrastruktur, energi bersih, program sosial, belanja pertahanan, serta bunga dari utang yang sudah ada sebelumnya. Di atas semuanya terdapat ketidakseimbangan struktural antara penerimaan dan pengeluaran yang telah berkembang selama beberapa dekade.

 

Karena itu, judul yang paling akurat bukan “Trump membuat utang AS US$40 triliun”.

Yang lebih tepat adalah: utang AS menembus US$40 triliun ketika Trump kembali menjabat, setelah bertahun-tahun akumulasi kebijakan lintas pemerintahan.

 

Kesimpulan

Utang pemerintah AS resmi mencapai US$40,047 triliun pada 18 Agustus 2026, terdiri dari US$32,266 triliun utang yang dipegang publik dan US$7,782 triliun kewajiban antarinstansi pemerintah.

Nominal tersebut sekitar dua kali lipat dari US$19,95 triliun ketika Donald Trump pertama kali menjadi presiden pada Januari 2017.

 

Namun, lonjakannya terjadi di bawah dua pemerintahan Trump dan satu pemerintahan Biden, serta dipengaruhi pandemi, pemotongan pajak, belanja pemerintah, program mandatory, dan pembayaran bunga yang semakin besar.

Ancaman utama ke depan bukan sekadar angka US$40 triliun itu sendiri.

 

Yang lebih penting adalah AS terus menghasilkan defisit besar ketika pembayaran bunga sudah melampaui US$1 triliun per tahun dan utang terhadap PDB diproyeksikan terus naik.

Sumber: beritasatu.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.