Terungkap! Alasan Prabowo Ingin Papua Ditanami Sawit, Ini Tujuan dan Dampaknya

Berita Terkini - Diposting pada 18 December 2025 Waktu baca 5 menit

Presiden RI Prabowo Subianto memimpin rapat terkait perecepatan pembangunan Papua yang digelar di Istana, Jakarta, Selasa (16/12/2025), bersama para kepala daerah se-Papua.(Sekretariat Presiden RI)

Presiden Prabowo Subianto menyampaikan gagasannya agar Papua dikembangkan sebagai wilayah penanaman kelapa sawit saat memberikan arahan dalam rapat percepatan pembangunan Papua di Istana Negara, Jakarta, Selasa (16/12/2025).

 

Prabowo menjelaskan bahwa penanaman sawit di Papua diharapkan dapat mendukung produksi bahan bakar minyak (BBM) dalam negeri.

 

Menurutnya, langkah tersebut merupakan bagian dari strategi besar Indonesia untuk mencapai swasembada energi dalam lima tahun ke depan, sejalan dengan target kemandirian pangan nasional.

 

Ia menargetkan setiap daerah di Indonesia ke depan mampu memenuhi kebutuhan energinya sendiri. Papua dinilai memiliki potensi sumber daya energi yang sangat besar, sehingga perlu dimanfaatkan secara optimal melalui perencanaan yang matang dan terukur.

 

Prabowo menegaskan bahwa pemerintah ingin masyarakat Papua memperoleh manfaat langsung dari kekayaan energi yang dihasilkan di wilayahnya, sebagaimana telah dirancang oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

 

Namun demikian, kelapa sawit bukan satu-satunya komoditas yang direncanakan. Kepala Negara juga mendorong pengembangan berbagai tanaman lain yang dapat diolah menjadi sumber energi alternatif.

 

Ia mencontohkan tebu dan singkong yang dapat diproses menjadi etanol. Dengan kombinasi tersebut, pemerintah menargetkan dalam lima tahun seluruh daerah mampu mandiri dalam pemenuhan pangan dan energi.

 

Selain energi berbasis tanaman, Prabowo juga mendorong peralihan dari bahan bakar fosil ke energi terbarukan seperti tenaga surya dan tenaga air yang tersedia di masing-masing wilayah.

 

Menurutnya, teknologi energi surya kini semakin terjangkau dan mampu menjangkau wilayah terpencil. Begitu pula pembangkit listrik tenaga air skala kecil yang dinilai cocok untuk daerah-daerah terisolasi, demi mendorong kemandirian daerah.

 

Prabowo meyakini bahwa kebijakan ini berpotensi menghemat anggaran negara hingga ratusan triliun rupiah setiap tahun, terutama dari pengurangan subsidi energi.

 

Ia menjelaskan bahwa selama ini Indonesia masih mengeluarkan dana sangat besar untuk impor BBM. Jika swasembada energi tercapai melalui pengembangan sawit, singkong, serta pemanfaatan energi surya dan air, penghematan besar dapat direalisasikan.

 

Saat ini, nilai impor BBM Indonesia disebut mencapai sekitar Rp520 triliun per tahun. Prabowo menilai, jika impor tersebut dapat dikurangi setengahnya saja, negara sudah bisa menghemat sekitar Rp250 triliun.

 

Bahkan, jika penghematan mencapai Rp500 triliun, setiap kabupaten berpotensi memperoleh alokasi dana hingga Rp1 triliun. Menurutnya, hal ini mencerminkan besarnya potensi Indonesia sebagai negara kaya yang mampu membangun kemandirian energi secara nyata.

Sumber: kompas.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.