China Bangun Pabrik Rp1,6 Triliun di Morowali, Begini Dampaknya untuk RI

Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 03 December 2025 Waktu baca 5 menit

Pemerintah terus mendorong perluasan program hilirisasi ke sektor-sektor di luar pertambangan untuk menciptakan nilai tambah bagi negara. Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Roeslani, menyampaikan bahwa fokus pengembangan saat ini telah mencakup sektor kelautan hingga perkebunan.

 

Salah satu inisiatif yang sedang dirancang adalah proyek hilirisasi kelapa di Morowali, Sulawesi Tengah, dengan nilai investasi sekitar US$100 juta atau setara kurang lebih Rp1,66 triliun (kurs Rp16.600).

 

“Hilirisasi tidak hanya terfokus pada mineral, tetapi juga merambah ke perkebunan, agrikultur, dan kelautan. Contohnya di bidang perkebunan, khususnya kelapa, kami sudah mulai bergerak. Di Morowali, hasil pengembangan ini mencapai sekitar US$100 juta,” ujar Rosan dalam rapat kerja bersama Komisi XII DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Selasa (2/12/2025).

 

Proyek tersebut diproyeksikan menciptakan lapangan kerja bagi 10 ribu orang dan ditargetkan mulai beroperasi pada pertengahan 2026. Selain itu, fasilitas tersebut diperkirakan mampu menyerap hingga 500 juta butir kelapa setiap tahun.

 

“Penciptaan lapangan kerjanya mencapai 10 ribu orang. Insyaallah pada pertengahan 2026 pabriknya sudah selesai dibangun di Morowali, dan fasilitas itu akan menyerap 500 juta butir kelapa setiap tahun,” jelas Rosan.

 

Sebelumnya, sebagian besar kelapa dari wilayah tersebut diekspor ke China. Rosan kemudian mendatangi China untuk meyakinkan para investor agar membangun pabrik langsung di Indonesia. Langkah ini dianggap lebih efisien karena mengurangi kebutuhan biaya logistik.

 

“Karena sebelumnya kami melihat kelapa dari daerah ini banyak diekspor ke China, maka kami terbang ke sana dan meyakinkan mereka untuk mendirikan pabrik di sini. Dengan begitu, harga kelapa meningkat di dalam negeri karena mereka tidak lagi terbebani oleh biaya logistik pengiriman kelapa dari Indonesia ke China,” pungkasnya.

Sumber: detik.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.