Berita Terkini
Tak Perlu Sarjana! Jadi 'Tukang Parkir' Pesawat, Segini Gaji dan Syaratnya
/index.php
Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 26 November 2025 Waktu baca 5 menit
Nilai tukar rupiah pada tahun 2026 diprediksi oleh Institute for Development of Economics & Finance (Indef) akan berada di kisaran Rp17.000 per US$, atau lebih lemah dibanding tahun ini yang berkisar antara Rp16.000–Rp16.700 per US$.
Dalam laporan berjudul Menata Ulang Arah Ekonomi Berkeadilan (2025), Indef menyebutkan bahwa proyeksi tersebut menggambarkan adanya persoalan struktural dalam perekonomian Indonesia serta tingginya kebutuhan dolar untuk kegiatan perdagangan.
“Perkiraan rupiah di level Rp17.000 per US$ tidak hanya menggambarkan tekanan jangka pendek, tetapi juga menandakan adanya masalah mendasar dalam struktur ekonomi Indonesia, seperti ketergantungan pada impor bahan baku, lemahnya diversifikasi ekspor, besarnya kebutuhan pembiayaan dalam dolar, serta belum optimalnya upaya memperkuat industri domestik.”
Indef menilai bahwa apabila tidak didukung oleh koordinasi kebijakan industri, fiskal, dan moneter yang tepat, tekanan terhadap rupiah pada 2026 berpotensi menjadi hambatan besar bagi stabilitas makro serta proses transformasi ekonomi jangka panjang Indonesia.
Ada dua kelompok faktor yang memperlemah rupiah, yaitu faktor eksternal dan internal.
“Dari sisi eksternal, melemahnya rupiah terutama dipicu oleh ketidakpastian kondisi ekonomi global. Ketidakpastian geopolitik dunia—mulai dari konflik di Timur Tengah, perlambatan ekonomi China, hingga fragmentasi perdagangan—meningkatkan sikap menghindari risiko para investor dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah,” tulis Indef.
Sementara itu, tekanan domestik bersumber dari defisit perdagangan non-komoditas (seperti barang modal), ketergantungan pada impor bahan baku industri manufaktur, impor bahan pangan strategis, serta kebutuhan pembiayaan utang pemerintah yang juga menambah beban pada rupiah.
“Tingginya kebutuhan impor energi akibat pola subsidi yang belum efisien juga menciptakan permintaan dolar secara struktural, sehingga semakin memperlemah posisi rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.”
Dari sisi positif, Indef menyebut nilai tukar dolar di level Rp17.000 per US$ dapat meningkatkan daya saing harga ekspor, terutama untuk industri manufaktur dan UMKM yang berorientasi ekspor.
Meski demikian, Indef menegaskan bahwa manfaat tersebut terbatas karena struktur ekspor Indonesia masih didominasi komoditas yang harganya ditentukan oleh pasar global, bukan oleh kondisi domestik.
Di sisi lain, dampak negatifnya jauh lebih luas dan dirasakan oleh masyarakat, pelaku industri, hingga pemerintah.
Pertama, inflasi impor akan meningkat karena biaya pengadaan bahan baku dan barang modal naik, sehingga mendorong harga barang konsumsi ikut terkerek.
Selain itu, Indef menilai akan ada tekanan pada sektor manufaktur, terutama yang bergantung pada bahan baku impor, karena kenaikan biaya produksi dapat menekan margin keuntungan dan berpotensi memperlambat proses industrialisasi.
Dampak negatif berikutnya adalah meningkatnya beban pembayaran utang pemerintah dan korporasi yang berdenominasi dolar, sehingga mempersempit ruang fiskal sekaligus meningkatkan risiko kredit.
“Lebih jauh lagi, jika Pemerintah dan Bank Sentral gagal menjaga stabilitas nilai tukar, dalam jangka panjang hal ini dapat memicu pengetatan kebijakan moneter melalui kenaikan suku bunga BI, yang pada akhirnya menekan investasi dan memperlambat pertumbuhan ekonomi.”
Sumber: cnbcindonesia.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.