Berita Terkini
Tak Perlu Sarjana! Jadi 'Tukang Parkir' Pesawat, Segini Gaji dan Syaratnya
/index.php
Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 26 November 2025 Waktu baca 5 menit
Harga minyak global terpantau turun lebih dari 1% setelah Ukraina memberi isyarat bahwa upaya diplomatik intensif yang dilakukan Amerika Serikat untuk mengakhiri perang Rusia–Ukraina mulai menunjukkan perkembangan positif. Peluang berakhirnya konflik tersebut membuka kemungkinan pencabutan sanksi negara-negara Barat terhadap perdagangan energi Rusia, yang berpotensi menambah pasokan minyak pada saat pasar komoditas sudah tertekan oleh perkiraan kelebihan suplai pada tahun mendatang.
Menurut laporan Reuters pada Rabu (26/11/2025), harga minyak berjangka Brent merosot US$1,03 atau 1,6% menjadi US$62,34 per barel. Sementara itu, minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) turun 99 sen atau 1,7% ke level US$57,85 per barel.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky dikabarkan akan melakukan kunjungan ke Amerika Serikat dalam beberapa hari ke depan untuk menyelesaikan kesepakatan dengan Presiden AS Donald Trump terkait penghentian perang, menurut Kepala Keamanan Nasional Ukraina, Rustem Umerov. Namun Rusia menegaskan tidak akan menyetujui kesepakatan apa pun yang bertentangan dengan tujuan strategisnya.
Sikap Rusia tersebut membantu menahan penurunan harga minyak karena menimbulkan keraguan apakah kesepakatan damai benar-benar dapat diwujudkan, ujar analis Onyx Capital Group, Ed Hayden-Briffett. Keraguan semakin menguat menyusul serangan rudal Rusia ke Kyiv pada Selasa yang menewaskan enam orang, melukai 13 warga lainnya, serta mengganggu sistem listrik dan pemanas kota.
“Butuh kesediaan dari kedua pihak, dan sampai sekarang belum ada kejelasan apakah Rusia juga sepakat,” kata analis UBS, Giovanni Staunovo.
Sejumlah analis memperkirakan bahwa pertumbuhan pasokan minyak pada 2026 akan melampaui permintaan. Deutsche Bank memproyeksikan adanya surplus minimal 2 juta barel per hari pada tahun depan dan menilai tidak ada tanda-tanda terjadinya defisit hingga 2027.
Jika perjanjian damai tercapai, produksi minyak Rusia bisa meningkat kembali ke level kesepakatan OPEC+, menurut analis Commerzbank Research.
Sanksi terhadap perusahaan energi besar Rusia seperti Rosneft dan Lukoil, serta larangan impor produk minyak olahan Rusia di Eropa, telah membuat sejumlah kilang India mengurangi pembelian. Akibatnya, ekspor minyak Rusia menurun dan volume minyak yang disimpan di kapal tanker meningkat—yang kemungkinan kembali dilepas ke pasar jika sanksi dicabut.
Rusia juga sedang membahas kemungkinan memperluas ekspor minyak ke Tiongkok, kata Wakil Perdana Menteri Rusia, Alexander Novak, pada Selasa.
Sumber: bisnis.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.