Berita Terkini
Tak Perlu Sarjana! Jadi 'Tukang Parkir' Pesawat, Segini Gaji dan Syaratnya
/index.php
Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 15 May 2025 Waktu baca 5 menit
Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok mencapai kesepakatan damai dengan memutuskan pengurangan tarif impor secara sementara selama 90 hari. Keputusan ini diambil setelah delegasi dari kedua negara bertemu di Jenewa, Swiss, guna meredakan ketegangan dalam hubungan dagang yang telah berlangsung dalam beberapa waktu terakhir.
Dalam pertemuan tersebut, disepakati bahwa produk-produk asal Amerika Serikat yang masuk ke Tiongkok akan dikenai tarif sebesar 10%, turun drastis dari tarif sebelumnya sebesar 125%. Sementara itu, barang-barang buatan Tiongkok yang masuk ke pasar Amerika akan dikenai tarif 30%, turun dari sebelumnya 145%.
“Kami telah berhasil menyepakati masa jeda selama 90 hari dan melakukan pemangkasan tarif secara signifikan. Kedua negara telah sepakat untuk menurunkan tarif sebesar total 115%,” ujar Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, seperti dikutip dari CNBC, Rabu (14/5/2025).
Periode jeda selama 90 hari itu dimulai pada Rabu (14/5). Baik Tiongkok maupun Amerika Serikat menyatakan bahwa selama masa ini mereka akan melanjutkan perundingan mengenai kebijakan ekonomi dan perdagangan.
Berita ini disambut gembira oleh para pelaku pasar. Di Amerika Serikat, indeks berjangka Nasdaq mengalami kenaikan sebesar 3,7%, indeks berjangka S&P 500 naik 2,7%, dan indeks Dow Jones melonjak lebih dari 840 poin atau sekitar 2%.
Harga minyak mentah juga mengalami kenaikan. Minyak mentah jenis Brent untuk pengiriman Juli diperdagangkan dengan harga 2,7% lebih tinggi di angka US$ 65,66 per barel, sementara minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) asal AS naik 2,9% dan berada pada level US$ 62,81 per barel pada sesi perdagangan tersebut.
Mark Williams, Kepala Ekonom Asia di Capital Economics, menyebut bahwa kesepakatan gencatan senjata perdagangan ini merupakan bentuk de-eskalasi yang signifikan. Namun demikian, ia menekankan bahwa kesepakatan ini belum tentu berlanjut menjadi perdamaian jangka panjang.
“Dalam situasi seperti ini, tidak ada jaminan bahwa masa jeda 90 hari ini akan membawa pada gencatan senjata yang bersifat permanen,” ujarnya.
Sementara itu, Tai Hui, Kepala Strategi Pasar APAC di J.P. Morgan Asset Management, menyatakan bahwa pengurangan tarif antara AS dan Tiongkok tersebut jauh melebihi ekspektasi awal. Menurutnya, hal ini menunjukkan bahwa kedua negara sadar bahwa tarif perdagangan bisa menghambat pertumbuhan ekonomi global dan bahwa negosiasi adalah jalan terbaik ke depannya.
“Meski periode 90 hari ini mungkin tidak cukup untuk menyusun perjanjian yang sangat rinci, langkah ini tetap memberi tekanan terhadap proses negosiasi,” jelas Hui dalam sebuah catatan riset.
Hui juga menambahkan bahwa para investor masih menanti informasi lebih lanjut mengenai ketentuan-ketentuan perdagangan lainnya, termasuk kemungkinan Tiongkok akan melonggarkan pembatasan ekspor logam tanah jarang.
Sumber: detik.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.