Berita Terkini
Tak Perlu Sarjana! Jadi 'Tukang Parkir' Pesawat, Segini Gaji dan Syaratnya
/index.php
Edukasi - Diposting pada 26 December 2025 Waktu baca 5 menit
Warren Buffett dikenal luas sebagai salah satu individu terkaya di dunia dengan total kekayaan bersih melampaui 147 miliar dolar AS atau sekitar Rp 2.466 triliun. Meski demikian, kehidupan pribadinya jauh dari gaya hidup glamor.
Hingga kini, Buffett masih menempati rumah sederhana di Omaha yang dibelinya pada tahun 1958 dengan harga 31.500 dolar AS atau sekitar Rp 528,6 juta. Ia terbiasa menyetir mobil sendiri, tidak tertarik pada barang bermerek mahal, dan kerap memilih sarapan sederhana di McDonald’s.
Kebiasaan tersebut mencerminkan keyakinan Buffett bahwa membangun kekayaan tidak hanya bergantung pada peningkatan pendapatan, tetapi lebih pada kemampuan menghindari kesalahan finansial yang kerap menjebak kelas menengah dan menghambat akumulasi modal.
Pandangan Buffett mengenai uang menyoroti sejumlah pola konsumsi yang dianggap tidak efisien dan justru menghambat pertumbuhan kekayaan. Mengutip New Trader U, Senin (22/12/2025), terdapat lima bentuk pengeluaran yang menurut Buffett sering menguras keuangan kelas menengah.
Pertama, pembelian mobil baru dan aset yang cepat terdepresiasi. Buffett pernah menyebutkan bahwa jarak tempuh mengemudinya hanya sekitar 3.500 mil per tahun, sehingga ia jarang mengganti kendaraan. Bahkan, ia baru mengganti mobil lamanya setelah didorong oleh putrinya. Sebaliknya, kelas menengah menghabiskan miliaran dolar untuk mobil baru yang langsung kehilangan sekitar 20 persen nilainya saat keluar dari dealer dan dapat terdepresiasi hingga 60 persen dalam lima tahun. Mobil senilai 40.000 dolar AS atau Rp 671,24 juta, misalnya, bisa turun menjadi sekitar 16.000 dolar AS atau Rp 268,5 juta, meski cicilan dan bunga masih harus dibayar. Buffett sendiri menggunakan Cadillac DTS keluaran 2006 selama bertahun-tahun sebelum beralih ke model 2014. Ia menilai mobil berusia beberapa tahun tetap memberikan fungsi serupa dengan harga jauh lebih murah, sementara selisih dana dapat dialihkan ke investasi produktif. Alasan garansi dan keandalan, menurutnya, tidak sebanding dengan kerugian akibat depresiasi.
Kedua, bunga kartu kredit dan utang konsumtif. Charlie Munger, mitra lama Buffett, pernah menyebut utang berbunga tinggi sebagai perangkap yang sulit dilepaskan. Buffett sepakat bahwa banyak kegagalan finansial terjadi akibat penggunaan utang yang tidak bijak. Menyimpan saldo kartu kredit dengan bunga 18–20 persen dinilainya sebagai cara paling cepat menggerus kekayaan. Rata-rata rumah tangga kelas menengah memiliki saldo kartu kredit sekitar 6.501 dolar AS atau Rp 109,09 juta, yang menghabiskan sekitar 1.300 dolar AS atau Rp 21,8 juta per tahun hanya untuk bunga. Buffett menilai tidak masuk akal membayar bunga tinggi sambil berharap hasil investasi yang lebih rendah. Dalam jangka panjang, beban bunga tersebut dapat menghilangkan potensi kekayaan ratusan ribu dolar. Menurutnya, utang seharusnya hanya digunakan untuk aset produktif, bukan konsumsi.
Ketiga, pengeluaran untuk merek dan simbol status. Buffett membedakan secara tegas antara harga dan nilai, namun kelas menengah kerap menyamakan keduanya. Produk bermerek seperti pakaian desainer atau tas mewah sering dijual beberapa kali lipat lebih mahal tanpa manfaat tambahan. Tas seharga 1.500 dolar AS, misalnya, tidak memberikan fungsi lebih dibanding tas seharga 150 dolar AS. Buffett sendiri mengenakan pakaian sederhana dan menilai kebahagiaan tidak ditentukan oleh label merek. Ia juga menekankan bahwa terlalu memikirkan penilaian orang lain justru menghambat kesuksesan finansial.
Keempat, produk keuangan yang tidak dipahami. Buffett terkenal dengan prinsip hanya berinvestasi pada hal yang dimengerti. Namun, banyak orang kelas menengah melanggar prinsip ini dengan membeli produk keuangan kompleks seperti asuransi whole life, anuitas berbiaya tinggi, atau reksadana aktif dengan biaya besar. Biaya tahunan 1,5 persen pada portofolio 100.000 dolar AS selama 30 tahun dapat menggerus ratusan ribu dolar. Buffett secara konsisten merekomendasikan reksadana indeks berbiaya rendah, pandangan yang terbukti lewat taruhannya pada 2007 ketika indeks S&P 500 mengungguli hedge fund dalam satu dekade.
Kelima, mengejar kepuasan instan dibanding hasil jangka panjang. Buffett kerap menekankan pentingnya kesabaran, dengan analogi bahwa keteduhan hari ini berasal dari pohon yang ditanam bertahun-tahun lalu. Kelas menengah sering menghabiskan uang untuk kesenangan sesaat seperti makan di luar dan hiburan. Di Amerika Serikat, rata-rata rumah tangga menghabiskan sekitar 3.500 dolar AS atau Rp 58,7 juta per tahun untuk makan di luar. Jika dana tersebut diinvestasikan dengan imbal hasil 8 persen, nilainya bisa berkembang menjadi lebih dari 400.000 dolar AS dalam 30 tahun.
Buffett tetap menjalani hidup sederhana meski kekayaannya terus bertumbuh. Pilihan ini memungkinkan alokasi dana yang lebih besar ke investasi jangka panjang. Filosofinya menunjukkan bahwa kesulitan finansial kelas menengah lebih sering bersumber dari kebiasaan belanja, bukan semata keterbatasan penghasilan. Menurut Buffett, kesenjangan antara kelas menengah dan orang kaya ditentukan oleh prioritas pengeluaran, bukan hanya besarnya pendapatan.
Sumber: kompas.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.