Berita Terkini
Tak Perlu Sarjana! Jadi 'Tukang Parkir' Pesawat, Segini Gaji dan Syaratnya
/index.php
Saham News - Diposting pada 26 November 2025 Waktu baca 5 menit
PT Super Bank Indonesia atau Superbank tengah mempersiapkan proses penawaran umum perdana (IPO) atau pencatatan saham untuk pertama kalinya. Lalu bagaimana kondisi kinerja keuangan Superbank dalam beberapa tahun ke belakang? Jika ditelusuri, Superbank merupakan nama baru dari PT Bank Fama International yang diperkenalkan pada Februari 2023. Pergantian identitas ini dilakukan untuk menegaskan komitmen perusahaan dalam memperluas akses layanan keuangan bagi masyarakat Indonesia. Manajemen juga menyatakan bahwa perubahan nama tersebut sekaligus menegaskan transformasi resmi perusahaan menjadi bank berbasis layanan digital. Dari sisi performa, sepanjang 2023 Superbank memang masih mencatat rugi bersih, namun sejumlah indikator menunjukkan adanya peningkatan aktivitas usaha, terutama dari pendapatan bunga dan pertumbuhan aset.
Mengacu pada laporan keuangan, rugi bersih Superbank pada 2023 mencapai Rp385,10 miliar, atau naik 148% dibandingkan kerugian Rp155,19 miliar pada 2022. Pendapatan bunga tumbuh signifikan, meningkat 90,8% dari Rp169,34 miliar pada 2022 menjadi Rp323,22 miliar pada 2023. Meski pendapatan bunga bertambah, beban bunga juga ikut naik—meski peningkatannya jauh lebih kecil—yakni 25,6% dari Rp17,60 miliar pada 2022 menjadi Rp22,12 miliar pada 2023. Dari sisi neraca, total aset melonjak 39,05%, dari Rp3,99 triliun menjadi Rp5,56 triliun pada 2023. Secara triwulanan, kerugian pada kuartal I/2023 tercatat Rp34,56 miliar, meningkat menjadi Rp112,93 miliar pada semester I/2023, dan mencapai Rp254,74 miliar pada kuartal III/2023. Setahun berselang, kerugian Superbank berkurang meskipun beban bunga naik tajam akibat ekspansi bisnis dan meningkatnya dana pihak ketiga. Sepanjang 2024 bank ini mencatat rugi bersih Rp366,37 miliar, turun 4,9% dari Rp385,10 miliar pada 2023, yang menandakan perbaikan performa meski bank masih berada pada fase investasi dan penguatan fondasi bisnis.
Pada 2024, pendapatan bunga meningkat pesat hingga 130,2% menjadi Rp743,98 miliar dari Rp323,22 miliar pada 2023. Peningkatan lebih dari dua kali lipat ini mencerminkan pertumbuhan penyaluran kredit serta bertambahnya jumlah nasabah. Namun, beban bunga juga melonjak signifikan sebesar 507,9% menjadi Rp134,48 miliar, seiring meningkatnya biaya dana dan strategi penghimpunan dana yang lebih agresif. Dari sisi fundamental, total aset juga tumbuh kuat dari Rp5,56 triliun pada 2023 menjadi Rp11,40 triliun pada 2024, atau naik 105%. Secara triwulan, rugi kuartal I/2024 tercatat Rp105,06 miliar, naik hampir tiga kali lipat dari periode yang sama tahun sebelumnya. Pada semester I/2024, rugi meningkat menjadi Rp188,46 miliar, atau 66,9% lebih tinggi dari semester I/2023. Kemudian, kerugian kuartal III/2024 mencapai Rp285,74 miliar, naik 12,17% secara tahunan.
Mulai Mencetak Laba di 2025
Memasuki tahun berjalan hingga kuartal III/2025, Superbank berhasil mencatat laba. Pada kuartal I/2025, bank ini menorehkan laba bersih sebesar Rp251 juta, berbalik dari rugi Rp105,06 miliar pada kuartal I/2024 dan menjadi laba pertama sejak aplikasi perbankan Superbank dirilis secara luas pada Juni 2024. Manajemen menyatakan capaian ini merupakan hasil strategi pertumbuhan yang berfokus pada perluasan nasabah digital, efisiensi operasional, dan penyaluran kredit yang lebih selektif. Laba tersebut didorong oleh pendapatan bunga bersih yang naik 135,9% YoY dari Rp111,94 miliar menjadi Rp264,06 miliar, meskipun beban pencadangan meningkat 63,20% YoY menjadi Rp55,9 miliar.
Dari sisi intermediasi, kredit yang disalurkan tumbuh 144,53% YoY dari Rp3,11 triliun menjadi Rp7,6 triliun pada Maret 2025. Total aset juga meningkat 125% menjadi Rp14,04 triliun dari Rp6,24 triliun. Pada semester I/2025, Superbank kembali mencetak laba bersih sebesar Rp20,1 miliar, dengan penyaluran kredit mencapai Rp8,4 triliun atau tumbuh 123% YoY. Pertumbuhan ini turut mendorong lonjakan total aset menjadi Rp15 triliun, atau meningkat 122% secara tahunan. Pada kuartal III/2025, Superbank mencatat laba bersih Rp60,12 miliar, membalikkan rugi Rp285,73 miliar pada kuartal III tahun sebelumnya.
Peningkatan laba ini diikuti oleh pendapatan bunga sebesar Rp1,49 triliun, naik 69,63% YoY dari Rp455,02 miliar. Beban bunga juga meningkat 85,90% menjadi Rp397,09 miliar. Dengan pencapaian tersebut, pendapatan bunga bersih mencapai Rp1,10 triliun, tumbuh 63,76% YoY dari Rp399,01 miliar. Untuk beban operasional lainnya, terjadi kenaikan 32,35% YoY menjadi Rp1,01 triliun dari Rp689,74 miliar, sementara beban lainnya naik 46,30% YoY menjadi Rp445,95 miliar.
IPO Menargetkan Dana Rp3,06 Triliun
Superbank kini bersiap melantai di Bursa Efek Indonesia melalui IPO, dengan target meraih dana hingga Rp3,06 triliun. Berdasarkan prospektus (25/11/2025), perusahaan berencana melepas maksimal 4,40 miliar saham baru atau 13% dari modal ditempatkan dan disetor penuh pasca-IPO. Saham memiliki nominal Rp100, dengan kisaran harga penawaran awal Rp525–Rp695 per saham. Dengan demikian, potensi dana yang diraih berada di kisaran Rp2,31 triliun hingga Rp3,06 triliun.
Sebanyak 70% dana hasil IPO akan digunakan sebagai modal kerja untuk penyaluran kredit, sementara 30% sisanya dialokasikan untuk belanja modal, termasuk pengembangan produk dan teknologi informasi yang mendukung pertumbuhan bisnis. Jika proses berjalan sesuai jadwal, Superbank akan resmi tercatat di BEI pada 17 Desember 2025 dengan kode saham SUPA.
Superbank sendiri adalah bank digital yang awalnya bernama PT Bank Fama International, berdiri di Bandung pada 1993. Pada awal 2023, bank ini mengganti nama menjadi Superbank dan memindahkan kantor pusat ke Jakarta, dengan kantor cabang di Jakarta dan Bandung. Transformasi perusahaan semakin kuat ketika masuk dalam ekosistem Emtek Group pada 2021, diikuti masuknya Grab dan Singtel pada 2022, serta KakaoBank pada 2023 sebagai anggota konsorsium. Memasuki 2024, Superbank memperkuat posisinya di industri bank digital dengan meluncurkan berbagai produk tabungan dan kredit seperti Saku by Superbank, Celengan by Superbank, serta deposito dengan bunga kompetitif dan tenor mulai 7 hari.
Sumber: bisnis.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.