Berita Terkini
Tak Perlu Sarjana! Jadi 'Tukang Parkir' Pesawat, Segini Gaji dan Syaratnya
/index.php
Crypto News - Diposting pada 21 November 2025 Waktu baca 5 menit
Bitcoin (BTC), sebagai aset kripto dengan kapitalisasi terbesar di dunia, kembali mengalami penurunan tajam setelah merosot ke kisaran US$86.000 untuk pertama kalinya dalam tujuh bulan terakhir. Koreksi mendalam ini mencerminkan meningkatnya tekanan pasar di tengah memburuknya kondisi makroekonomi global.
Berdasarkan data CoinGecko pada Jumat pagi (21/11/2025), harga Bitcoin anjlok lebih dari 6% dalam 24 jam, turun dari sekitar US$92.000 menjadi US$86.100. Level tersebut merupakan titik terendah sejak April 2025, ketika pasar global sempat tertekan akibat kebijakan tarif impor Amerika Serikat yang memicu kekhawatiran investor.
Penurunan harga ini juga menyeret kapitalisasi pasar Bitcoin turun menjadi US$1,72 triliun, sementara total kapitalisasi pasar kripto global merosot ke US$2,97 triliun. Aset kripto utama lain turut mengalami koreksi, di antaranya Ethereum (ETH) yang turun ke US$2.800 dengan penurunan harian 6%. XRP, BNB, dan Solana (SOL) juga melemah antara 4% hingga 6% pada periode yang sama.
Di pasar derivatif, tekanan jual semakin intens dengan nilai likuidasi mencapai US$831 juta dalam 24 jam terakhir. Posisi long menjadi yang paling terpukul, dengan kerugian mencapai US$712 juta. BTC dan ETH menjadi dua aset yang paling terdampak oleh gelombang likuidasi tersebut.
Salah satu faktor utama yang memicu kejatuhan ini adalah perubahan sikap The Federal Reserve yang kembali menunjukkan pendekatan hawkish. Laporan Forbes (20/11/2025) menyebut pasar awalnya memprediksi adanya penurunan suku bunga dalam waktu dekat. Namun, pernyataan terbaru dari pejabat The Fed menegaskan bahwa inflasi masih berada pada level tinggi sehingga pemangkasan suku bunga kemungkinan ditunda.
Data CME FedWatch turut menguatkan pandangan tersebut. Hanya 37,6% pelaku pasar yang memperkirakan pemangkasan suku bunga 25 bps pada Desember, sementara lebih dari 62% memperkirakan tidak ada perubahan. Sebelumnya, peluang kedua skenario tersebut relatif seimbang.
Menurunnya ekspektasi pemangkasan suku bunga membuat investor mulai memangkas eksposur terhadap aset berisiko, termasuk Bitcoin. Ketidakpastian makro inilah yang memperbesar tekanan jual dan mempercepat penurunan BTC baik di pasar spot maupun derivatif.
Selain faktor makro, penurunan pasar kripto juga diperparah oleh aksi jual yang dilakukan investor ritel pada produk ETF Bitcoin dan Ethereum. Berdasarkan laporan The Block, analis JPMorgan menyampaikan bahwa para trader kripto yang memicu koreksi pada Oktober melalui proses deleveraging di pasar futures kini mulai stabil. Sebaliknya, tekanan terbesar pada November justru datang dari investor non-kripto—khususnya ritel—yang berinvestasi melalui ETF spot BTC dan ETH.
Sepanjang bulan ini, arus keluar dari ETF BTC dan ETH mencapai sekitar US$4 miliar, melampaui rekor outflow sebelumnya pada Februari. Kondisi ini berbanding terbalik dengan pasar saham, di mana investor ritel mencatat arus masuk sekitar US$96 miliar ke ETF saham sepanjang November, termasuk ETF dengan leverage. Jika pola ini bertahan hingga akhir bulan, total arus masuk dapat mencapai US$160 miliar.
JPMorgan menilai bahwa pola tersebut bukan peristiwa tunggal. Fenomena serupa terjadi pada Februari, Maret, dan kini November, menunjukkan bahwa investor ritel masih memandang pasar kripto dan pasar ekuitas sebagai dua kategori risiko yang terpisah meskipun keduanya sama-sama dianggap berisiko tinggi.
Laporan terbaru VanEck mengungkapkan bahwa tekanan jual tambahan berasal dari mid-cycle wallet, yakni dompet kripto yang terakhir berpindah kepemilikan dalam rentang satu hingga lima tahun. Kelompok ini mulai merealisasikan keuntungan dan menjual BTC dalam jumlah besar seiring meningkatnya volatilitas pasar.
Berbeda dengan mid-cycle wallet, pemegang jangka panjang atau long-term holder masih mempertahankan kepemilikannya dan tidak menunjukkan aksi distribusi besar. Aktivitas penjualan dari kelompok mid-cycle inilah yang menambah tekanan di pasar spot dan memperdalam koreksi BTC ke level terendah dalam tujuh bulan.
Saat ini, indeks Fear and Greed untuk pasar kripto masih berada di zona extreme fear, mencerminkan tingginya ketakutan investor dan rendahnya minat untuk masuk ke aset berisiko seperti Bitcoin.
Sumber: coinvestasi.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.