Bitcoin Menjauh dari US$90.000, Peluang Rebound atau Sinyal Turun Lebih Dalam Minggu Ini?

Crypto News - Diposting pada 16 December 2025 Waktu baca 5 menit

Bitcoin kembali berada dalam tekanan dengan penurunan sekitar 6,6% dalam sebulan terakhir dan sementara bergerak di level US$89.748,41 hingga pukul 11.55 WIB, Senin (15/12/2025).

 

Menjelang akhir 2025, Bitcoin masih belum mampu kembali ke rekor tertingginya di US$126.000 yang tercapai pada Oktober. Bahkan, dalam 24 jam terakhir, harga BTC masih mencatat koreksi sekitar 0,6%.

 

Trader kripto Ted Pillows memperkirakan pergerakan Bitcoin masih akan berkutat di sekitar US$90.000, dengan peluang penguatan menuju kisaran US$92.000–US$94.000. Namun di sisi lain, risiko penurunan yang berkepanjangan tetap terbuka jika harga bergerak di bawah area US$88.000–US$89.000.

 

Aset kripto terbesar dunia ini sebenarnya sedikit membaik dibandingkan posisi Senin pagi ketika sempat jatuh ke US$87.892,10. Pergerakannya masih sangat dipengaruhi oleh ekspektasi pasar terhadap perubahan kebijakan suku bunga bank sentral global.

 

Perhatian pelaku pasar tertuju pada Bank Sentral Jepang (BoJ) menjelang keputusan suku bunga pada 19 Desember. Polymarket mencatat probabilitas 98% bahwa BoJ akan menaikkan suku bunga sebesar 5 basis poin untuk menekan inflasi domestik.

 

Jika skenario tersebut terwujud, ditambah dengan pemangkasan Fed Fund Rate sebesar 25 bps oleh The Fed, kondisi ini berpotensi memicu unwinding carry trade yang telah berlangsung selama puluhan tahun.

 

Bitcoin Dinilai Sebagai Aset Koleksi Spekulatif

Di tengah meningkatnya antusiasme terhadap Bitcoin, Vanguard tetap konsisten pada pandangannya bahwa Bitcoin merupakan aset koleksi yang bersifat sangat spekulatif. Pandangan ini disampaikan oleh John Ameriks, Kepala Global Ekuitas Kuantitatif Vanguard, meski perusahaan tersebut memfasilitasi transaksi ETF spot Bitcoin bagi nasabahnya.

 

Ameriks mengibaratkan kripto seperti versi digital Labubu, boneka populer yang tengah digandrungi. Menurutnya, Bitcoin tidak memiliki karakteristik pendapatan, akumulasi nilai, maupun arus kas yang biasanya menjadi dasar investasi jangka panjang.

 

Tanpa bukti kuat bahwa teknologi dasarnya mampu menciptakan nilai ekonomi berkelanjutan, Ameriks menilai sulit melihat Bitcoin sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar “mainan digital,” sebagaimana dikutip Bloomberg News.

 

Volatilitas harga yang ekstrem membuat manajemen Vanguard kembali menyoroti sejarah gejolak Bitcoin. Sifat spekulatif BTC dinilai semakin menonjol, terutama ketika harganya berada di bawah tekanan.

 

Vanguard sendiri mulai membuka akses perdagangan ETF aset digital tertentu sejak peluncuran reksa dana berbasis Bitcoin pada Januari 2024. Menurut Ameriks, langkah ini bertujuan memastikan produk tersebut benar-benar bekerja sesuai dengan deskripsi dan fungsinya.

 

“Kami menyediakan akses bagi investor yang ingin membeli ETF ini, namun keputusan sepenuhnya ada di tangan mereka,” ujarnya. Vanguard menegaskan tidak memberikan rekomendasi beli atau jual aset kripto tertentu.

 

Meski demikian, Vanguard tetap optimistis terhadap potensi teknologi blockchain dalam meningkatkan efisiensi dan struktur pasar keuangan.

Sumber: bloombergtechnoz.com/

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.