Berita Terkini
Tak Perlu Sarjana! Jadi 'Tukang Parkir' Pesawat, Segini Gaji dan Syaratnya
/index.php
Saham News - Diposting pada 16 December 2025 Waktu baca 5 menit
Tiga tahun telah berlalu sejak OpenAI memicu ledakan besar kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) melalui peluncuran ChatGPT. Walaupun arus investasi ke sektor ini masih deras, kekhawatiran mengenai keberlanjutan masa keemasan AI kini semakin menguat.
Berbagai sinyal skeptisisme mulai bermunculan, mulai dari aksi jual besar-besaran saham Nvidia Corp., kejatuhan saham Oracle Corp. setelah laporan lonjakan belanja AI, hingga memburuknya sentimen terhadap perusahaan-perusahaan yang memiliki eksposur kuat ke OpenAI.
Menjelang 2026, investor dihadapkan pada dilema: apakah perlu mengurangi eksposur terhadap AI sebelum potensi gelembung pecah, atau justru meningkatkan posisi untuk menangkap peluang dari teknologi yang dinilai revolusioner ini.
“Kita sudah memasuki fase siklus di mana ujian sesungguhnya dimulai,” ujar Jim Morrow, CEO Callodine Capital Management. “Kisahnya sejauh ini memang menarik, namun kini modal dipertaruhkan untuk membuktikan apakah imbal hasilnya benar-benar sepadan.”
Kekhawatiran seputar perdagangan saham AI mencakup efektivitas pemanfaatan teknologi, membengkaknya biaya pengembangan, serta pertanyaan apakah konsumen pada akhirnya bersedia membayar layanan AI. Jawaban atas isu-isu tersebut akan sangat menentukan arah pasar saham ke depan.
Kenaikan nilai pasar S&P 500 sekitar US$30 triliun dalam tiga tahun terakhir sebagian besar didorong oleh raksasa teknologi seperti Alphabet dan Microsoft, serta perusahaan yang diuntungkan oleh belanja infrastruktur AI seperti Nvidia, Broadcom, dan penyedia energi seperti Constellation Energy. Jika pertumbuhan mereka melambat, tekanan terhadap indeks saham akan sulit dihindari.
“Saham-saham ini tidak turun karena pertumbuhan melambat, melainkan ketika laju pertumbuhan tidak lagi meningkat,” ujar Sameer Bhasin dari Value Point Capital.
Meski demikian, alasan untuk tetap optimistis masih cukup banyak. Perusahaan teknologi besar yang mendominasi investasi AI memiliki sumber daya finansial yang sangat kuat dan berkomitmen untuk terus menggelontorkan dana dalam beberapa tahun ke depan. Di sisi lain, pengembang AI seperti Google juga terus menghadirkan model baru, sehingga perdebatan mengenai arah sektor ini pun semakin mengemuka.
Beberapa tren utama perlu diperhatikan di tengah volatilitas pasar ini.
Akses Pendanaan
OpenAI, misalnya, berencana menghabiskan sekitar US$1,4 triliun dalam beberapa tahun ke depan, meskipun pendapatannya masih jauh di bawah biaya operasional. Startup AI paling bernilai di dunia tersebut diperkirakan menghabiskan US$115 miliar hingga 2029 sebelum mulai menghasilkan arus kas pada 2030.
Sejauh ini, OpenAI tidak kesulitan menggalang dana, termasuk berhasil menghimpun US$40 miliar dari SoftBank dan investor lain. Nvidia juga berkomitmen menanamkan hingga US$100 miliar, memicu kekhawatiran mengenai siklus pendanaan berputar di industri AI.
Namun, jika minat investor melemah, OpenAI dan perusahaan terkait seperti CoreWeave bisa terdampak signifikan. Ketergantungan pada utang juga menjadi tekanan tersendiri, sebagaimana terlihat pada Oracle yang sahamnya tertekan akibat lonjakan belanja modal dan tertundanya sejumlah proyek pusat data.
Belanja Besar Big Tech
Alphabet, Microsoft, Amazon, dan Meta diperkirakan akan menghabiskan lebih dari US$400 miliar dalam 12 bulan ke depan, terutama untuk pembangunan pusat data. Pertumbuhan pendapatan AI dari cloud dan iklan belum sebanding dengan besarnya belanja tersebut.
Pertumbuhan laba tujuh raksasa teknologi diproyeksikan hanya 18% pada 2026—terendah dalam empat tahun terakhir. Sementara itu, biaya depresiasi akibat ekspansi pusat data terus meningkat, yang berpotensi menekan buyback saham dan dividen.
Kekhawatiran terbesar adalah perubahan strategi Big Tech. Model bisnis yang sebelumnya mengandalkan pertumbuhan cepat dengan biaya rendah kini berbalik menjadi investasi masif dengan risiko tinggi.
Optimisme yang Lebih Rasional
Meski valuasi saham teknologi tergolong tinggi, levelnya masih jauh di bawah euforia era dot-com. Nasdaq 100 saat ini diperdagangkan sekitar 26 kali laba proyeksi, jauh dari puncak lebih dari 80 kali saat gelembung dot-com.
Beberapa saham AI memang memiliki valuasi ekstrem, seperti Palantir dan Snowflake. Namun, saham utama seperti Nvidia, Alphabet, dan Microsoft masih berada di bawah 30 kali laba, tergolong moderat di tengah antusiasme besar.
Kondisi ini membuat investor berada di persimpangan. Risiko jelas terlihat, tetapi valuasi secara umum belum mencapai titik kepanikan. Pertanyaannya kini adalah ke mana arah perdagangan saham AI selanjutnya.
“Pola pikir kolektif ini pada akhirnya akan berubah,” kata Bhasin. “Mungkin tidak runtuh seperti tahun 2000, tetapi pergeseran besar hampir pasti terjadi.”
Sumber: bloombergtechnoz.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.