Michael Saylor Kirim Sinyal Borong Bitcoin Saat Harga Anjlok ke US$88.000, Ini Strateginya

Crypto News - Diposting pada 16 December 2025 Waktu baca 5 menit

Michael Saylor kembali mengisyaratkan aksi akumulasi Bitcoin di tengah tekanan pasar yang mendorong harga Bitcoin turun menembus level US$88.000 pada awal pekan ini.

 

Melalui unggahan di platform X pada Minggu (14/12/2025), Chairman Strategy tersebut membagikan sinyal potensi pembelian lanjutan dengan menuliskan kalimat “Back to More Orange Dots” disertai grafik kepemilikan Bitcoin perusahaannya.

 

Unggahan itu merujuk pada kebiasaan Saylor menggunakan simbol titik oranye untuk menandai setiap transaksi pembelian Bitcoin. Berdasarkan data dari SaylorTracker, akuisisi terakhir Strategy dilakukan pada 12 Desember dengan total 10.624 BTC, yang menjadi pembelian terbesar perusahaan sejak akhir Juli.

 

Saat ini, Strategy tercatat menguasai 660.624 BTC dengan nilai sekitar US$58,5 miliar atau setara Rp918 triliun berdasarkan harga pasar terkini. Rata-rata harga perolehan berada di kisaran US$74.696 per BTC, sehingga secara nominal kepemilikan Bitcoin perusahaan masih berada di atas harga beli.

 

Tekanan Pasar Dorong Bitcoin ke Titik Terendah Dua Pekan

Tekanan jual kembali membayangi perdagangan Senin, menyebabkan Bitcoin sempat menyentuh level terendah dalam dua pekan di sekitar US$88.000, menurut data CoinGecko. Pola penurunan tajam yang muncul pada akhir pekan ini tercatat berulang dalam beberapa pekan terakhir.

 

Level tersebut menjadi yang terendah sejak awal Desember, ketika Bitcoin sempat jatuh ke kisaran US$84.000 sebelum kembali menguat. Pada saat laporan ini disusun, harga Bitcoin telah kembali bergerak di atas US$89.500.

 

Sejumlah analis menilai tekanan jual terbaru tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan dengan ekspektasi kebijakan moneter Jepang. Bank sentral Jepang dijadwalkan segera mengumumkan keputusan suku bunga, yang dinilai berpotensi memicu volatilitas di pasar aset berisiko.

 

Analis NoLimit menilai pasar cenderung meremehkan dampak kebijakan Bank of Japan terhadap Bitcoin. Ia menyoroti bahwa kenaikan suku bunga di Jepang pada periode sebelumnya kerap diikuti oleh koreksi tajam harga Bitcoin. Selain itu, Jepang dikenal sebagai salah satu pemegang terbesar surat utang pemerintah AS, sehingga perubahan kebijakan moneternya dapat memengaruhi arus modal global.

 

Mengutip Cointelegraph, Justin d’Anethan, Head of Research di firma penasihat Arctic Digital, menilai penurunan ke area US$88.000 mencerminkan tekanan psikologis pasar, meskipun harga telah pulih dari titik terendah pada November.

 

Menurutnya, ekspektasi kenaikan suku bunga di Jepang memicu kekhawatiran akan terjadinya unwinding carry trade, yang berpotensi menekan aset berisiko seperti Bitcoin. Situasi ini mendorong sebagian pelaku pasar untuk mengurangi eksposur sambil menunggu kepastian arah pergerakan selanjutnya.

 

Dalam jangka pendek, d’Anethan memperkirakan Bitcoin masih bergerak dalam fase konsolidasi. Ia menilai rentang US$80.000 hingga US$100.000 berpotensi menjadi area pergerakan utama sambil menunggu katalis baru yang mampu mengubah arah tren secara signifikan.

 

Sumber: coinvestasi.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.