10 Negara dengan Curah Hujan Paling Ekstrem di Dunia, Nomor 1 Tak Disangka!

Berita Terkini - Diposting pada 09 December 2025 Waktu baca 5 menit

Musim hujan terjadi di negara-negara yang berada di wilayah tropis dan subtropis, sehingga kawasan tersebut cenderung menerima curah hujan tinggi sepanjang tahun. Intensitas hujan yang ekstrem di beberapa negara dipengaruhi oleh kondisi geografis dan karakter iklim masing-masing. Wilayah yang berada di jalur angin muson atau memiliki bentang pegunungan biasanya mengalami hujan lebih intens dibanding negara lain. Menurut World Meteorological Organization, curah hujan ekstrem telah menyebabkan banjir besar di sejumlah negara Asia Selatan dan Asia Tenggara, menimbulkan ratusan korban jiwa, pengungsian massal, serta kerugian ekonomi yang signifikan.

 

Asia merupakan salah satu kawasan yang paling rentan terdampak banjir akibat perubahan iklim yang terus berlangsung. Naiknya suhu global membuat atmosfer mampu menampung lebih banyak uap air, sehingga hujan ekstrem lebih mudah terjadi. Berdasarkan World Atlas, berikut 10 negara dengan rata-rata curah hujan tertinggi di dunia:

  1. Kolombia: 3.240 mm

  2. Sao Tome & Principe: 3.200 mm

  3. Papua Nugini: 3.142 mm

  4. Kepulauan Solomon: 3.028 mm

  5. Panama: 2.928 mm

  6. Kosta Rika: 2.926 mm

  7. Samoa: 2.880 mm

  8. Malaysia: 2.875 mm

  9. Brunei: 2.772 mm

  10. Indonesia: 2.702 mm

 

Curah Hujan Tinggi di Indonesia
BMKG melaporkan bahwa hujan berintensitas tinggi hingga sangat tinggi berpotensi terjadi di wilayah selatan Indonesia, mencakup Jawa, Bali, NTB, NTT, Sulawesi Selatan, hingga Papua bagian selatan. Situasi ini menunjukkan bahwa sejumlah daerah perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap hujan lebat dan risiko bencana hidrometeorologi.

 

Pada periode Februari hingga April 2026, sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan akan mengalami curah hujan kategori menengah dan mulai kembali menuju kondisi normal. Namun pada November hingga Desember 2025, banyak wilayah masih berpotensi menerima hujan di atas normal, terutama Sumatera Utara, Kalimantan Utara, Sulawesi Utara, dan Maluku Utara. Faktor regional dan global, seperti La Niña lemah dan Dipole Mode negatif (-1,61), membuat atmosfer tetap labil sehingga memicu pembentukan awan konvektif di berbagai daerah. Kondisi ini meningkatkan potensi hujan lebat disertai angin kencang di daerah seperti Sumatera Utara, Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY, Jawa Timur, Banten, NTB, dan Sulawesi Selatan.

 

BMKG juga mengidentifikasi keberadaan Siklon Tropis Kalmaegi di Samudra Hindia sebelah barat daya Lampung serta sejumlah sirkulasi siklonik lain yang memengaruhi pola cuaca nasional. Dalam periode 3–9 November 2025, hujan sedang hingga lebat diperkirakan turun di pesisir barat Sumatera, sebagian Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Kalimantan, Maluku, dan Papua. BMKG bersama BNPB dan beberapa institusi lain juga telah melakukan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di wilayah rawan, antara lain:

  • Jawa Tengah (Posko Semarang & Solo) dengan dua pesawat—Cessna dan Grand Caravan—pada 25 Oktober–3 November 2025.

  • Jawa Barat (Posko Jakarta) dengan satu pesawat pada 23 Oktober–3 November 2025.

Sumber: bisnis.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.