China Tanam Pohon Gila-Gilaan, Seluruh Negeri Berubah Total! Ini Dampaknya

Berita Terkini - Diposting pada 09 December 2025 Waktu baca 5 menit

Sebuah studi terbaru mengungkap bahwa China telah lama melakukan program penghijauan besar-besaran, mulai dari penanaman pohon hingga pemulihan kawasan padang rumput. Program seperti Great Green Wall yang dimulai pada 1978 telah berhasil meningkatkan tutupan hutan negara itu hingga lebih dari 25%. Selain itu, inisiatif Grain for Green serta Natural Forest Protection turut mendorong alih fungsi lahan pertanian menjadi area hijau dan menghentikan praktik penebangan hutan.

 

Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Earth’s Future tersebut juga menunjukkan bahwa proyek penghijauan China ternyata berdampak pada perubahan distribusi air tawar. Para ilmuwan menemukan adanya perubahan tutupan vegetasi antara 2001–2020 yang berujung pada penurunan pasokan air di wilayah monsun timur dan bagian barat laut yang kering—zona yang mencakup 74% daratan China dan menjadi pusat pembangunan, pertanian, serta permukiman penduduk.

 

Sebaliknya, ketersediaan air justru meningkat di Dataran Tinggi Tibet. Hal ini disebabkan meningkatnya evapotranspirasi—proses gabungan antara penguapan dan transpirasi tanaman—akibat bertambahnya area hutan dan padang rumput di kawasan tersebut.

 

“China telah melakukan penghijauan dalam skala yang sangat besar selama beberapa dekade. Mereka secara aktif memulihkan ekosistem, terutama di Dataran Tinggi Loess, dan hal ini turut memicu kembali dinamika siklus air,” jelas Arie Staal, salah satu penulis studi, dikutip dari Live Science, Senin (8/12/2025).

 

Para peneliti menganalisis data resolusi tinggi mengenai evapotranspirasi, curah hujan, perubahan penggunaan lahan, serta model pergerakan uap air atmosfer. Hasilnya menunjukkan bahwa peningkatan evapotranspirasi lebih tinggi daripada kenaikan presipitasi, sehingga sebagian besar air justru hilang ke atmosfer.

 

Namun tren tersebut tidak terjadi merata di seluruh China, karena angin mampu membawa uap air hingga jarak 7.000 kilometer dari daerah asalnya.

 

Peningkatan evapotranspirasi terutama ditemukan di area hutan baru di wilayah monsun timur dan kawasan padang rumput yang direstorasi. Di sisi lain, peningkatan curah hujan hanya terjadi di Dataran Tinggi Tibet, yang berarti wilayah lain mengalami penurunan ketersediaan air.

 

“Meski siklus air menjadi lebih aktif, pada tingkat lokal justru makin banyak air yang hilang dibanding sebelumnya,” tambah Staal.

 

Selain itu, distribusi air di China memang sudah tidak merata. Misalnya, wilayah yang dihuni 46% populasi dan mencakup 60% lahan hanya mendapatkan 20% pasokan air. Pemerintah berusaha mengatasi masalah ini, namun upaya tersebut berpotensi tidak efektif karena dampak redistribusi air akibat penghijauan belum diperhitungkan secara memadai.

Sumber: cnbcindonesia.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.