Berita Terkini
Tak Perlu Sarjana! Jadi 'Tukang Parkir' Pesawat, Segini Gaji dan Syaratnya
/index.php
Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 09 December 2025 Waktu baca 5 menit
Kebijakan penempatan dana pemerintah oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa belum memberikan dorongan nyata bagi perekonomian. Penyaluran kredit perbankan dan pertumbuhan uang primer masih menunjukkan perlambatan. Alhasil, proyeksi ekonomi Indonesia pada 2025 kemungkinan meleset dari harapan. Padahal, ketika menempatkan dana Rp275 triliun, Purbaya cukup yakin langkah tersebut akan menggerakkan aktivitas ekonomi. Namun hingga November, tanda-tanda perbaikan belum terlihat.
Bank Indonesia melaporkan bahwa uang primer (M0) adjusted pada November 2025 hanya tumbuh 13,3% secara tahunan, lebih rendah dibandingkan 14,4% pada bulan sebelumnya, sehingga totalnya menjadi Rp2.136,2 triliun. Direktur Eksekutif Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa perlambatan ini dipengaruhi oleh pertumbuhan giro bank umum di BI adjusted sebesar 24,2% YoY serta kenaikan uang kartal 13,1% YoY. Ia menambahkan bahwa angka uang primer adjusted telah memperhitungkan dampak insentif likuiditas dan kebijakan moneter.
Dilihat dari tren tahunan, uang primer adjusted relatif stabil dari posisi Desember 2024 sebesar Rp2.027,33 triliun, hanya naik 5,37% hingga November 2025. Uang primer sendiri mencakup uang kartal di masyarakat dan giro bank umum di BI, sementara versi adjusted menghilangkan pengaruh penurunan giro akibat insentif likuiditas. Per September 2025, uang primer terdiri dari Rp1.200 triliun uang kartal, Rp923,1 triliun giro bank umum adjusted, Rp3,86 triliun giro sektor swasta, dan Rp25,3 triliun surat berharga BI seperti SRBI, SUVBI, dan SVBI.
Dari sisi kredit, BI mencatat pertumbuhan kredit Oktober 2025 sebesar 7,36% YoY, turun dari 7,7% bulan sebelumnya, dengan undisbursed loan mencapai Rp2.450,7 triliun. Gubernur BI Perry Warjiyo mengatakan penyaluran kredit masih lemah akibat pelaku usaha memilih menahan ekspansi. Ia juga mengungkapkan bahwa penurunan suku bunga kredit lebih lambat daripada pemangkasan BI rate, sebagian dipengaruhi special rate untuk deposan yang mencapai 27% dari DPK. BI memperkirakan pertumbuhan kredit 2025 berada pada batas bawah 8–11% dan meningkat pada 2026.
Sementara itu, Menteri Keuangan Purbaya tetap optimistis ekonomi dapat tumbuh 5,2% tahun ini, dengan BLTS sebagai pendorong konsumsi di akhir tahun. BLTS senilai Rp900.000 diberikan untuk 35 juta keluarga sepanjang Oktober–Desember 2025, ditambah diskon tiket berbagai moda transportasi pada periode Natal dan Tahun Baru. Ia memproyeksikan pertumbuhan kuartal IV/2025 dapat mencapai 5,7%. Purbaya juga menilai kenaikan IHSG yang menembus 8.600 menjadi tanda pulihnya kepercayaan investor.
Dari sisi politik, Purbaya memaparkan bahwa Indeks Keyakinan Konsumen kembali membaik setelah sempat melemah pada pertengahan tahun. Injeksi likuiditas Rp200 triliun ditambah Rp70 triliun diklaim berhasil memulihkan sentimen, sehingga indeks mencapai 118 pada November. Dengan kondisi tersebut, ia memperkirakan stabilitas sosial membaik dan program pemerintah dapat dijalankan lebih fokus. Purbaya menutup pernyataannya dengan optimisme bahwa ekonomi Indonesia berpeluang tumbuh 6% pada 2026 bila momentum positif dijaga.
Sumber: bisnis.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.