Trump Minta 'Harta Karun' Mineral RI, Apa Dampaknya bagi Indonesia?

Bisnis | Ekonomi - Diposting pada 24 December 2025 Waktu baca 5 menit

Foto: Presiden AS Donald Trump (REUTERS/Carlos Barria)

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memaparkan hasil lanjutan negosiasi perdagangan antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS) yang telah mencapai kesepakatan bersama. Menurut Airlangga, pemerintah AS menyetujui pembebasan tarif ekspor untuk sejumlah komoditas unggulan Indonesia, seperti minyak kelapa sawit, kopi, kakao, dan teh. Keputusan ini menjadi angin segar bagi sektor industri yang sebelumnya terdampak kebijakan tarif resiprokal sebesar 19%.

 

Dalam konferensi pers yang disampaikan secara virtual dari Washington pada Selasa lalu, Airlangga menyebutkan bahwa AS memberikan pengecualian tarif bagi produk-produk andalan Indonesia, termasuk sawit, kopi, dan teh.

 

Namun demikian, AS juga mengajukan permintaan imbal balik, yakni akses terhadap mineral kritis yang dimiliki Indonesia. Airlangga menegaskan bahwa pihak AS sangat berharap dapat memperoleh akses ke komoditas mineral strategis tersebut.

 

Sebagai catatan, mineral kritis merupakan sumber daya yang memiliki peran vital bagi perekonomian nasional serta sektor pertahanan dan keamanan. Komoditas ini memiliki risiko tinggi terhadap gangguan pasokan dan belum memiliki alternatif pengganti yang layak secara teknis maupun ekonomis.

 

Klasifikasi mineral kritis tersebut diatur dalam Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Nomor 296.K/MB.01/MEM.B/2023 mengenai penetapan jenis komoditas yang termasuk dalam kategori mineral kritis. Beberapa contoh mineral yang masuk dalam kategori ini antara lain aluminium, nikel, litium, dan unsur tanah jarang.

 

Prabowo–Trump Direncanakan Bertemu Januari 2026

Kesepakatan yang dicapai kedua negara disebut memiliki nilai komersial dan strategis, karena dinilai memberikan manfaat ekonomi yang seimbang bagi Indonesia dan Amerika Serikat. Perjanjian ini merupakan kelanjutan dari pernyataan bersama sebelumnya yang menetapkan penurunan tarif resiprokal bagi Indonesia dari 32% menjadi 19%.

 

Berdasarkan hasil pertemuan antara Airlangga dan Duta Besar United States Trade Representative (USTR), Jamieson Greer, kedua pihak sepakat menetapkan batas waktu penyelesaian aspek teknis dokumen perdagangan. Direncanakan sebelum akhir Januari 2026, Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump akan bertemu untuk menandatangani dokumen Agreement on Reciprocal Trade (ART).

 

Airlangga menjelaskan bahwa pada pekan kedua Januari 2026, tim teknis dari Indonesia dan AS akan kembali menggelar pertemuan guna melakukan legal scrubbing serta penyempurnaan dokumen. Proses tersebut ditargetkan rampung dalam waktu satu minggu, dengan rentang penyelesaian antara 12 hingga 19 Januari. Setelah seluruh tahapan teknis selesai, dokumen diharapkan siap untuk ditandatangani secara resmi oleh kedua kepala negara sebelum akhir Januari.

 

Ia menambahkan bahwa pihak AS saat ini masih mengatur jadwal yang paling tepat untuk pertemuan antara Presiden Prabowo dan Presiden Trump.

Sumber: detik.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.

TAG :