Berita Terkini
Tak Perlu Sarjana! Jadi 'Tukang Parkir' Pesawat, Segini Gaji dan Syaratnya
/index.php
Edukasi - Diposting pada 01 December 2025 Waktu baca 5 menit
Bitcoin Dinilai Lebih Tahan di Fase Markdown, namun Sejumlah Altcoin Tunjukkan Ketahanan Relatif
Memasuki fase penurunan berkepanjangan atau markdown, pasar kripto kembali dihadapkan pada pertanyaan klasik: apakah Bitcoin tetap menjadi aset paling tahan banting, atau justru beberapa altcoin mampu bertahan lebih baik? Analisis pelaku pasar dan data on-chain terkini memberikan gambaran bahwa jawabannya tidak sepenuhnya tegas, namun sejumlah pola konsisten kini mulai terlihat.
Gambaran Umum: Perbandingan Kinerja Saat Pasar Turun
Secara historis, Bitcoin dipandang sebagai aset kripto paling stabil berkat likuiditas tinggi, dominasi kapitalisasi pasar, serta adopsi institusional yang luas. Dalam periode koreksi tajam, Bitcoin tetap mengalami penurunan, tetapi umumnya relatif lebih terkendali dibanding altcoin yang memiliki likuiditas lebih tipis dan volatilitas lebih ekstrem.
Namun, beberapa analisa terbaru mengungkap bahwa sejumlah altcoin sesekali menunjukkan ketahanan jangka pendek atau decoupling dari pergerakan Bitcoin, terutama pada momen tertentu yang dipicu oleh sentimen spesifik proyek.
Mengapa Bitcoin Lebih Stabil? (Fundamental & Struktur Pasar)
1. Likuiditas Mendalam dan Penyebaran Bursa Lebih Luas
Bitcoin diperdagangkan di hampir seluruh bursa utama dengan order book yang jauh lebih dalam. Kondisi ini membuat pergerakan ekstrem lebih sulit terjadi dibandingkan dengan altcoin berkapitalisasi kecil. Akibatnya, penurunan Bitcoin dalam persentase sering kali lebih landai dibandingkan altcoin.
2. Dukungan Institusional dan Produk Keuangan
Selain memperoleh dukungan ETF dan produk investasi terstruktur, Bitcoin juga menjadi instrumen pilihan bagi modal institusional. Arus modal besar ini menciptakan bantalan tertentu yang membantu menahan tekanan likuidasi, sehingga volatilitasnya cenderung lebih mudah dikendalikan dibandingkan aset kripto lain.
3. Persepsi Sebagai “Safe-Haven” di Ekosistem Kripto
Bagi sebagian investor, Bitcoin berfungsi sebagai aset pelindung dalam pasar kripto. Ketika ketidakpastian meningkat, rotasi modal kerap mengalir ke Bitcoin, memperlambat tekanan jual besar yang biasanya menghantam altcoin.
Mengapa Altcoin Lebih Rentan — dan Kapan Mereka Bisa Tahan?
1. Volatilitas Tinggi dan Likuiditas Terbatas
Banyak altcoin memiliki kapitalisasi pasar yang kecil dan volume dagang yang tipis. Hal ini membuat mereka lebih mudah terpengaruh oleh order jual besar, sehingga penurunannya dapat berlangsung jauh lebih dalam di saat panic selling terjadi.
2. Korelasi Menguat saat Tekanan Pasar, tetapi Ada Peluang Decoupling
Umumnya, korelasi altcoin terhadap Bitcoin meningkat ketika pasar berada dalam kondisi stres. Namun beberapa altcoin tertentu — terutama yang memiliki utilitas kuat seperti Ethereum — sesekali memperlihatkan ketahanan atau pola pergerakan yang tidak sepenuhnya mengikuti Bitcoin. Fenomena ini dapat muncul ketika ada berita fundamental, pembaruan jaringan, atau akumulasi besar oleh pelaku pasar utama (whales).
3. Risiko Fundamental dan Ketahanan Ekosistem
Altcoin dengan model bisnis lemah atau bergantung pada hype tokenomics biasanya menjadi yang pertama tertekan. Sebaliknya, altcoin besar dengan ekosistem berkembang dan likuiditas stabil seperti Ethereum kadang dapat bertahan lebih baik dalam fase markdown.
Bukti Empiris Terbaru: Tren Pasar & Data On-Chain
1. Aktivitas Long-Term Holder BTC Mulai Meningkat
Laporan pasar pekan lalu menunjukkan bahwa pemegang jangka panjang Bitcoin mulai melepas sebagian asetnya, menambah tekanan jual makro. Meski tidak kebal terhadap guncangan sistemik, dampaknya pada Bitcoin tetap berbeda dibandingkan altcoin yang likuiditasnya lebih terbatas.
2. Potensi Decoupling Beberapa Altcoin
Sejumlah riset pasar menemukan bahwa beberapa altcoin memperlihatkan ketahanan relatif di tengah volatilitas Bitcoin, mengindikasikan adanya rotasi modal internal atau akumulasi terhadap proyek tertentu. Namun, efek ini bersifat temporal dan tidak terjadi secara merata di seluruh altcoin.
Strategi Investor Saat Fase Markdown: Memilih BTC, Altcoin, atau Campuran
1. Prioritaskan Likuiditas dan Blue-Chip
Untuk mengurangi risiko penurunan tajam, investor umumnya lebih memilih Bitcoin atau altcoin besar seperti Ethereum. Aset berkapitalisasi kecil cenderung lebih mudah tergerus oleh tekanan pasar.
2. Terapkan Diversifikasi “Core-Satellite”
Model ini menempatkan Bitcoin dan aset large-cap sebagai portofolio inti (core) untuk stabilitas, sementara altcoin dengan potensi tinggi ditempatkan sebagai komponen satelit (satellite). Pendekatan ini memberikan peluang imbal hasil dari altcoin tanpa mengorbankan struktur portofolio secara keseluruhan.
3. Atur Ukuran Posisi & Manajemen Risiko
Mengurangi posisi pada altcoin berisiko dan menerapkan batas penurunan (max drawdown) per aset dapat membantu meminimalkan kerugian. Penggunaan leverage yang berlebihan sebaiknya dihindari.
4. Manfaatkan Stablecoin untuk Buffer
Menyisihkan sebagian modal dalam stablecoin dapat memberi fleksibilitas membeli saat harga aset terkoreksi dalam, sekaligus menjadi perlindungan jangka pendek.
5. Lakukan Riset Mendalam (DYOR)
Investasikan pada altcoin dengan fundamental kuat, tim jelas, likuiditas memadai, serta roadmap teknis yang terukur. Altcoin dengan ekosistem aktif memiliki peluang lebih besar untuk bertahan pada fase-downturn.
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.