Berita Terkini
Tak Perlu Sarjana! Jadi 'Tukang Parkir' Pesawat, Segini Gaji dan Syaratnya
/index.php
Saham News - Diposting pada 23 December 2025 Waktu baca 5 menit
Saham PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) langsung terkoreksi hingga menyentuh batas penurunan harian atau auto rejection bawah (ARB) pada perdagangan pagi ini. Hingga pukul 09.10 WIB, saham bank yang berada di bawah naungan Grup Emtek tersebut turun 14,63% ke level Rp1.050 per saham.
Aktivitas perdagangan tercatat cukup tinggi dengan volume mencapai 276 juta saham, frekuensi transaksi sebanyak 101,3 ribu kali, dan nilai transaksi sekitar Rp316,8 miliar.
Bank digital ini baru saja resmi melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Rabu (17/12/2025), sehingga usia perdagangannya baru memasuki hari keempat. Pada hari pertama perdagangan, saham SUPA justru melonjak 24,4% dan langsung menyentuh batas auto rejection atas (ARA) di level Rp790, dengan antrean beli mencapai 12,49 juta lot.
Dalam aksi penawaran umum perdana (IPO), SUPA menetapkan harga penawaran Rp635 per saham dan melepas sebanyak 4,4 miliar saham baru. Jumlah tersebut merepresentasikan sekitar 13% dari modal ditempatkan dan disetor penuh pasca-IPO, dengan total dana yang berhasil dihimpun mencapai Rp2,79 triliun.
Pada pembukaan perdagangan hari ini, saham SUPA dibuka di harga Rp790 per lembar, mencatatkan kenaikan sebesar 24,41% pada awal sesi.
Presiden Direktur Superbank, Tigor Siahaan, menyatakan bahwa pencatatan saham di BEI menjadi tonggak penting dalam perjalanan Superbank sebagai bagian dari Grup Emtek. Menurutnya, dukungan pemegang saham serta kekuatan ekosistem digital menjadi modal utama untuk memperluas akses pembiayaan, mempercepat inovasi produk, dan menghadirkan layanan keuangan yang aman serta relevan bagi masyarakat luas. Dana hasil IPO, lanjut Tigor, akan menjadi fondasi bagi pertumbuhan jangka panjang perseroan.
Seluruh dana IPO, setelah dikurangi biaya emisi, akan dimanfaatkan untuk pengembangan bisnis. Sekitar 70% dialokasikan sebagai modal kerja guna memperkuat penyaluran kredit ke segmen underbanked, baik ritel maupun UMKM, yang menjadi fokus utama pertumbuhan Superbank. Sisanya, sekitar 30%, akan digunakan untuk belanja modal, termasuk pengembangan produk pendanaan dan pembiayaan, sistem pembayaran digital, infrastruktur teknologi informasi, penguatan sistem operasional, serta investasi jangka panjang di bidang kecerdasan buatan, analitik data, dan keamanan siber.
Sumber: cnbcindonesia.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.