Saham News
IHSG Hari Ini Rawan Koreksi, 4 Saham Ini Jadi Pilihan Analis
/index.php
Saham News - Diposting pada 27 August 2026 Waktu baca 5 menit
Indeks Harga Saham Gabungan berhasil bangkit pada paruh pertama perdagangan Kamis, 27 Agustus 2026, setelah sehari sebelumnya mengalami tekanan cukup dalam.
IHSG menutup sesi I dengan kenaikan 44,59 poin atau 0,70% ke level 6.450,28. Penguatan tersebut membawa indeks kembali melewati level psikologis 6.400.
Yang menarik, reli pasar terjadi ketika investor asing justru masih mencatat aksi jual bersih.
IDNFinancials mencatat foreign net sell Rp264,31 miliar pada sesi pertama. Dengan kata lain, kenaikan IHSG kali ini tidak sepenuhnya ditopang arus dana asing.
Perdagangan tidak langsung berjalan mulus.
IHSG membuka sesi di sekitar 6.390,35, lebih rendah daripada penutupan Rabu di 6.405,69.
Indeks bahkan sempat turun hingga 6.376,65 sebelum berbalik naik dan menyentuh level tertinggi sesi I di 6.456,75.
Pergerakan tersebut menunjukkan adanya aksi beli yang muncul setelah tekanan pada awal perdagangan.
Pada Rabu, 26 Agustus, IHSG sebelumnya ditutup anjlok 1,48% ke 6.405,69, tertekan oleh saham-saham berkapitalisasi besar seperti BBRI, BRPT, dan AMMN.
Dengan demikian, kenaikan Kamis siang lebih tepat dibaca sebagai rebound setelah koreksi tajam sehari sebelumnya.
Breadth pasar juga menunjukkan kondisi yang relatif positif.
Berdasarkan snapshot IDNFinancials pada 12.26 WIB, sebanyak:
Volume perdagangan mencapai 18,22 miliar saham, dengan nilai transaksi sekitar Rp6,38 triliun.
Katadata juga mencatat volume sekitar 18,22 miliar saham, frekuensi 1,05 juta transaksi, dan nilai transaksi sekitar Rp6,38 triliun pada sesi I.
Angka tersebut berbeda dari sebagian feed lain yang mencatat 17,47 miliar saham dan 484 saham menguat. Karena snapshot intraday dapat berbeda berdasarkan waktu penarikan dan klasifikasi instrumen, artikel ini menggunakan satu basis data secara konsisten.
Penguatan tidak hanya terjadi pada beberapa saham besar.
IDNFinancials mencatat seluruh indeks sektoral berada di zona hijau, dengan sektor barang konsumen non-primer atau consumer cyclicals memimpin kenaikan sekitar 2,19%.
Katadata juga melaporkan seluruh sektor BEI ditutup hijau pada akhir sesi pertama.
Ini menjadi perubahan cukup tajam dibanding perdagangan Rabu, ketika seluruh 11 sektor justru kompak melemah.
Artinya, rebound Kamis tidak hanya bergantung pada satu atau dua emiten.
Penguatan pasar mempunyai cakupan yang relatif luas.
Meski investor asing secara keseluruhan masih melakukan jual bersih, mereka tetap melakukan pembelian selektif pada sejumlah saham.
BRMS menjadi saham dengan net buy asing terbesar pada sesi pertama, sekitar Rp28,42 miliar.
Berikutnya terdapat:
TINS — Rp21,18 miliar
ICBP — Rp11,42 miliar
INET — Rp11,37 miliar
PSAB — Rp10,56 miliar.
BRMS sendiri ditutup di sekitar Rp750 pada sesi I atau menguat sekitar 4,17% berdasarkan data transaksi reguler.
Hal tersebut memperlihatkan bahwa istilah “asing net sell” tidak berarti investor luar negeri menjual seluruh saham Indonesia.
Yang terjadi adalah kombinasi antara aksi jual besar pada sejumlah saham dan pembelian selektif pada saham lainnya.
Di sisi sebaliknya, saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk atau BBRI menjadi target jual asing terbesar.
Foreign net sell BBRI mencapai sekitar Rp145,98 miliar pada sesi I.
Setelah BBRI, tekanan asing terbesar terjadi pada:
GOTO — Rp127,57 miliar
TLKM — Rp67,21 miliar
BBNI — Rp24,94 miliar
TPIA — Rp24,87 miliar.
BBRI sendiri berada di sekitar Rp3.120 atau melemah tipis 0,32% pada siang hari.
Tekanan pada BBRI menjadi salah satu alasan mengapa sektor keuangan tidak bergerak seagresif beberapa sektor lain.
Kondisi seperti ini sebenarnya bukan sesuatu yang aneh.
Investor asing hanya merupakan salah satu kelompok pelaku pasar.
Jika investor domestik melakukan pembelian dalam jumlah lebih besar daripada tekanan jual asing, indeks masih dapat naik.
Selain itu, IHSG merupakan indeks berbobot kapitalisasi.
Artinya, kenaikan saham dengan kapitalisasi besar dapat memberikan dampak cukup kuat terhadap indeks, bahkan ketika beberapa saham lain mengalami aksi jual.
Jadi:
foreign net sell ≠ IHSG pasti turun.
Foreign flow lebih tepat digunakan sebagai indikator tambahan untuk membaca sentimen dan rotasi modal.
Aktivitas transaksi juga cukup tinggi pada sejumlah saham di luar sektor perbankan.
IDNFinancials mencatat DSSA dan INET menjadi dua saham dengan nilai transaksi terbesar, masing-masing sekitar Rp274 miliar dan Rp268 miliar.
Harga DSSA naik sekitar 4,21%, sedangkan INET melesat sekitar 5,88%.
Katadata juga mencatat DSSA sebagai salah satu saham yang paling aktif berdasarkan nilai transaksi.
Ini menunjukkan aktivitas perdagangan pada sesi pertama cukup tersebar, tidak hanya berpusat pada saham big banks.
Sentimen regional turut memberikan dukungan.
Data FactSet yang dihimpun pada Kamis menunjukkan KOSPI Korea Selatan menguat sekitar 1,5%, Shanghai Composite naik sekitar 0,6%, dan SET Thailand menguat sekitar 0,5%.
Di sisi lain, Hang Seng Hong Kong turun sekitar 0,42% dan Nikkei Jepang bergerak relatif datar hingga sedikit negatif pada siang hari.
Dengan demikian, suasana pasar Asia secara umum bersifat campuran, tetapi beberapa indeks utama tetap berada di zona positif.
Meskipun IHSG rebound, investor masih menghadapi beberapa sumber ketidakpastian.
Wall Street pada perdagangan Rabu malam ditutup sedikit melemah. Dow Jones turun 0,21%, S&P 500 terkoreksi 0,02%, dan Nasdaq kehilangan 0,08%.
Pasar global juga masih mencermati inflasi Amerika Serikat dan arah kebijakan Federal Reserve.
BRI Danareksa mencatat PCE AS Juli masih berada di level 3,7% secara tahunan, di atas ekspektasi pasar 3,6%. Data inflasi yang tetap tinggi dapat membuat investor kembali berhati-hati terhadap prospek suku bunga AS.
Hal tersebut penting bagi Indonesia karena perubahan yield dan suku bunga AS dapat memengaruhi nilai tukar rupiah serta aliran modal asing.
Secara teknikal, posisi IHSG juga sudah mendekati area resistance yang sebelumnya dipantau analis.
BRI Danareksa sebelum perdagangan memperkirakan resistance IHSG berada di sekitar 6.455–6.550, sedangkan support berada pada kisaran 6.340–6.300.
Sesi I ditutup di 6.450,28 dan sempat mencapai 6.456,75.
Artinya, IHSG sudah menguji batas bawah area resistance tersebut.
Jika indeks mampu bertahan di atas level tersebut sampai penutupan, momentum rebound dapat terlihat lebih kuat.
Sebaliknya, kegagalan bertahan dapat membuka ruang profit taking kembali pada sesi kedua.
IHSG berhasil bangkit pada sesi pertama perdagangan Kamis, 27 Agustus 2026.
Indeks naik 0,70% atau 44,59 poin ke 6.450,28, setelah sehari sebelumnya jatuh 1,48%.
Mayoritas saham menguat dan seluruh sektor tercatat berada di zona hijau berdasarkan snapshot IDNFinancials. Namun, investor asing justru masih mencatat net sell Rp264,31 miliar, dengan BBRI, GOTO, dan TLKM menjadi saham yang paling banyak dilepas.
Di sisi pembelian asing, BRMS menjadi salah satu pilihan utama.
Jadi, cerita penting sesi I bukan hanya “IHSG kembali hijau.”
Yang lebih menarik adalah bahwa pasar mampu rebound meski dana asing masih keluar, menunjukkan investor domestik dan rotasi ke sektor tertentu cukup kuat menahan tekanan.
Karena perdagangan Kamis belum selesai, hasil sesi I belum menjamin IHSG akan mempertahankan seluruh kenaikannya sampai penutupan.
Disclaimer: Informasi dalam artikel ini bersifat informatif dan bukan rekomendasi personal untuk membeli atau menjual saham tertentu.
Sumber: cnbcindonesia.com
Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital
DISCLAIMER
Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.