Bos DCII: RI Bisa Jadi Hub AI Asia, Listrik Jadi Kunci Utama

Teknologi Terkini - Diposting pada 27 August 2026 Waktu baca 5 menit

Presiden Direktur PT DCI Indonesia Tbk. (DCII) Otto Toto Sugiri ditemui di Jakarta, Kamis (27/1/2023). Bisnis/Annisa Kurniasari Saumi.

Bos DCII: RI Bisa Jadi Hub AI Asia, Listrik Jadi Kunci Utama

Persaingan membangun pusat kecerdasan buatan atau artificial intelligence di Asia Tenggara semakin panas. Indonesia kini dinilai punya kesempatan besar untuk masuk dalam perlombaan tersebut.

Founder sekaligus Presiden Direktur PT DCI Indonesia Tbk. (DCII), Otto Toto Sugiri, menilai Indonesia memiliki sejumlah modal penting untuk berkembang menjadi AI hub regional, mulai dari besarnya pasar domestik, sumber daya energi hingga biaya listrik yang kompetitif.

Toto menyampaikan pandangan tersebut dalam Bali Annual Telkom International Conference atau BATIC 2026 di Nusa Dua, Bali, Kamis, 27 Agustus 2026. Situs resmi BATIC mengonfirmasi Toto sebagai salah satu pembicara dalam konferensi tersebut.

Menurut materi yang menjadi dasar artikel ini, Toto menilai Indonesia memiliki hampir seluruh faktor penting untuk menjadi pusat AI regional.

Namun, peluang besar tersebut tidak datang tanpa tantangan.

 

Populasi Besar Jadi Modal Pertama

AI membutuhkan komputasi. Komputasi membutuhkan pusat data. Tetapi investasi sebesar itu juga membutuhkan pasar yang cukup besar.

Di sinilah Indonesia memiliki keunggulan.

Dengan populasi lebih dari 280 juta orang dan basis pengguna digital yang besar, permintaan layanan cloud, aplikasi digital, pemrosesan data dan AI berpotensi terus meningkat.

Pemerintah bahkan menyebut Indonesia sebagai pasar AI potensial terbesar keempat di Asia setelah China, India dan Jepang, dengan potensi nilai sekitar US$70 miliar atau 6,4% dari pasar AI Asia.

Besarnya pasar memberikan alasan bagi penyedia infrastruktur AI untuk menempatkan kapasitas komputasinya lebih dekat dengan pengguna Indonesia.

Ada dua keuntungan sekaligus: latensi lebih rendah dan kebutuhan penyimpanan serta pemrosesan data lokal yang semakin besar.

 

CoreWeave Sudah Masuk Indonesia

Momentum tersebut mulai terlihat dari investasi nyata.

CoreWeave pada 4 Agustus 2026 mengumumkan ekspansi pertamanya ke kawasan Asia-Pasifik melalui Indonesia.

Perusahaan AI cloud asal Amerika Serikat tersebut akan membangun tiga fasilitas dengan total 360 MW contracted IT power, yang dijadwalkan mulai beroperasi pada 2028.

CoreWeave secara eksplisit menyebut kenaikan permintaan AI, kebutuhan komputasi yang dekat dengan pengguna, serta data locality sebagai faktor di balik ekspansi tersebut.

Masuknya CoreWeave menjadi sinyal bahwa Indonesia tidak lagi hanya dilihat sebagai pengguna teknologi.

Negara ini mulai dipertimbangkan sebagai lokasi tempat infrastruktur komputasi AI itu sendiri dibangun.

 

Batam Juga Mulai Menjadi Gerbang AI

Batam mendapat peran khusus dalam perkembangan tersebut.

Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menyebut Batam berkembang menjadi gerbang digital kedua Indonesia setelah Jakarta, didukung lokasi dekat Singapura, konektivitas kabel bawah laut dan peningkatan pasokan energi.

Oracle bahkan telah memilih Batam sebagai Indonesia North Cloud Region. Daftar resmi region Oracle saat ini mencantumkan North Indonesia (Batam) sebagai region yang sudah aktif.

Di Nongsa, BW Digital memiliki NDP1 dengan kapasitas IT sekitar 120 MW, sedangkan DayOne bersama Indonesia Investment Authority mengembangkan kampus hyperscale dengan jalur pasokan listrik terkontrak hingga sekitar 450 MW.

Kombinasi Jakarta dan Batam membuat peta data center Indonesia mulai terbentuk dalam dua klaster besar.

 

Kapasitas Data Center Indonesia Bisa Melonjak

Di sinilah angka industrinya menjadi menarik.

Ketua Indonesia Data Center Provider Organization atau IDPRO Hendra Suryakusuma mengatakan kapasitas terpasang pusat data Indonesia pada semester I-2026 sekitar 600–650 MW.

IDPRO memperkirakan kapasitas tersebut berpotensi melonjak menjadi 1,7 GW pada akhir 2026.

Angka itu secara teoritis dapat melampaui kapasitas Singapura sekitar 1,4 GW dan mendekati perkembangan Johor yang disebut berada di rentang 1,7–3,8 GW.

Namun, estimasi industri tidak seragam.

BRI Danareksa Sekuritas memperkirakan kapasitas IT pusat data Indonesia sekitar 580 MW pada semester I-2026, dengan proyeksi mencapai sekitar 3,5 GW pada 2030.

Sementara Toto, berdasarkan materi BATIC yang menjadi dasar artikel ini, menggunakan angka sekitar 400 MW saat ini dan memperkirakan kapasitas dapat mencapai 1,4 GW pada akhir tahun.

Perbedaan angka tersebut kemungkinan berasal dari cakupan fasilitas, definisi kapasitas operasional versus pipeline, atau metodologi pengukuran yang berbeda.

Karena itu, angka kapasitas sebaiknya selalu disebut bersama sumbernya.

 

IDPRO Bahkan Melihat Potensi 11,7 GW

Dalam skenario yang jauh lebih agresif, IDPRO menilai Indonesia memiliki potensi pipeline hingga sekitar 11,7 GW pada 2030.

Proyeksi tersebut memperhitungkan rencana berbagai pemain seperti CoreWeave, Oracle, DAMAC Digital dan sejumlah proyek asing lain.

Namun, angka 11,7 GW sebaiknya tidak dibaca sebagai kapasitas yang sudah pasti akan dibangun.

Istilah yang lebih tepat adalah potensi atau pipeline berdasarkan rencana investasi yang berkembang saat ini.

Realisasinya akan sangat bergantung pada listrik, jaringan transmisi, perizinan, pembiayaan, air, konektivitas digital serta kepastian permintaan AI.

 

Masalah Besarnya: AI Sangat Haus Listrik

Di balik potensi tersebut terdapat satu masalah besar.

Data center AI membutuhkan listrik dalam skala yang jauh lebih besar dibanding fasilitas konvensional.

GPU untuk melatih dan menjalankan model AI memiliki densitas daya tinggi. Semakin besar cluster komputasi, semakin besar kebutuhan listrik dan sistem pendingin.

Hendra menyebut industri pusat data sebagai “power-hungry” dan “water-thirsty”.

Karena itu, persoalannya bukan sekadar:

Apakah Indonesia punya listrik?

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

Apakah listrik dalam jumlah besar bisa tersedia di lokasi yang dibutuhkan, dengan kualitas yang stabil dan dalam waktu yang cukup cepat?

Inilah konsep firm power dan time-to-power yang semakin menentukan keputusan investasi data center.

 

Indonesia Punya 108 GW Pembangkit

Dari sisi kapasitas pembangkit, Indonesia sebenarnya memiliki basis yang besar.

Data resmi Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM menunjukkan kapasitas terpasang pembangkit listrik nasional mencapai 108 GW per April 2026.

Namun, sekitar 85% atau 91,58 GW masih berasal dari energi fosil.

Batu bara sendiri menyumbang 60,53 GW atau sekitar 56%, sedangkan energi baru terbarukan baru sekitar 16,26 GW atau 15%.

Fakta tersebut menghasilkan dua sisi bagi industri AI.

Indonesia memiliki sumber listrik dalam jumlah besar, tetapi perusahaan teknologi global semakin meminta pasokan energi rendah karbon.

Jadi, sekadar memiliki pembangkit belum cukup.

 

Energi Bersih Bisa Jadi Pembeda

Indonesia juga memiliki modal energi terbarukan yang besar.

RUPTL 2025–2034 menargetkan penambahan kapasitas pembangkit 69,5 GW, dengan sekitar 76% berasal dari energi terbarukan dan penyimpanan energi.

Jika proyek-proyek tersebut terealisasi, ketersediaan energi bersih dapat menjadi nilai jual untuk hyperscaler dan penyedia AI global yang memiliki target pengurangan emisi.

Ini juga menjelaskan mengapa akses data center terhadap listrik terbarukan menjadi isu semakin penting.

IDPRO menilai sumber daya listrik dan energi terbarukan Indonesia memang tersedia, tetapi belum semuanya dapat disalurkan ke lokasi data center dengan cepat karena keterbatasan regulasi dan jaringan.

 

Harga Listrik Jadi Salah Satu Keunggulan

Toto sebelumnya juga berulang kali menyoroti biaya listrik Indonesia.

Pada Februari 2025, ia menyebut biaya listrik untuk industri data center Indonesia sekitar US$0,07 per kWh, dibanding Malaysia sekitar US$0,12 dan Singapura sekitar US$0,30 pada perbandingan yang ia gunakan saat itu.

Dalam materi BATIC 2026, ia kembali menilai harga listrik sebagai salah satu keunggulan kompetitif Indonesia.

Namun, klaim “termurah di kawasan” tetap perlu dibaca sesuai jenis pelanggan, kontrak dan skema pasokan listrik. Tarif industri besar tidak selalu dapat dibandingkan secara langsung antarnegara hanya melalui satu angka.

Yang lebih penting bagi data center adalah kombinasi:

harga + keandalan + kapasitas + energi bersih + kecepatan sambungan.

 

Geopolitik Bisa Bawa Permintaan ke Indonesia

Ada faktor lain yang tidak sepenuhnya berada dalam kendali Indonesia: geopolitik.

Menurut Toto, rivalitas Amerika Serikat dan China berpotensi mendorong kebutuhan komputasi dan pelatihan AI ke negara-negara Asia Tenggara.

Perusahaan global membutuhkan lokasi yang secara geopolitik dapat diterima, dekat dengan pasar besar dan memiliki cukup energi.

Indonesia dapat mengambil keuntungan dari kondisi tersebut.

Namun Toto juga mengingatkan bahwa permintaan yang muncul karena geopolitik bisa bersifat sementara.

Artinya, Indonesia tidak boleh hanya mengandalkan ketegangan negara lain.

Negara ini perlu membangun keunggulan yang tetap menarik bahkan jika hubungan geopolitik berubah.

 

Indonesia Masih Bersaing dengan Malaysia dan Singapura

Peluang Indonesia juga tidak berlangsung dalam ruang kosong.

Malaysia, terutama Johor, berkembang sangat agresif sebagai pusat data center regional.

Singapura memiliki keunggulan berupa konektivitas, kualitas infrastruktur, ekosistem cloud dan kepastian bisnis.

Riset terbaru mengenai persaingan AI Asia Tenggara menilai keputusan investor tidak lagi hanya bergantung pada tanah atau harga listrik.

Faktor yang dinilai antara lain pasokan listrik besar, energi rendah karbon, kabel bawah laut, kecepatan perizinan, ekosistem semikonduktor dan kualitas talenta digital.

Inilah salah satu tantangan terbesar Indonesia.

Indonesia mungkin memiliki sumber daya yang lebih besar, tetapi kecepatan eksekusi bisa menjadi faktor penentu pemenang.

 

11,7 GW Bukan Berarti 10,8% Listrik RI Akan Langsung Dipakai Data Center

Ada satu perbandingan dalam materi awal yang perlu diberi konteks.

Secara matematis:

11,7 GW ÷ 108 GW ≈ 10,83%.

Namun, ini tidak berarti pusat data pasti akan menggunakan 10,83% seluruh listrik Indonesia pada 2030.

Mengapa?

Karena 108 GW adalah kapasitas pembangkit terpasang per April 2026, sedangkan 11,7 GW adalah skenario potensi kapasitas pusat data 2030.

Pada 2030, kapasitas pembangkit nasional tentu juga dapat berubah.

Selain itu, kapasitas pembangkit dalam GW berbeda dengan konsumsi energi aktual dalam GWh atau TWh. Utilisasi pusat data, cadangan sistem, faktor kapasitas pembangkit dan waktu operasi juga memengaruhi kebutuhan riil.

Jadi, perbandingan 10,83% hanya berguna sebagai ilustrasi skala, bukan proyeksi konsumsi listrik nasional.

 

Apa Artinya bagi DCII?

DCI Indonesia menjadi salah satu emiten dengan eksposur langsung terhadap pertumbuhan industri tersebut.

BRI Danareksa memasukkan DCII bersama TLKM, ISAT dan DSSA sebagai saham yang memiliki eksposur langsung relatif besar terhadap tema pusat data Indonesia.

Namun, prospek industri tidak otomatis berarti harga saham DCII akan bergerak naik.

Investor tetap perlu memperhatikan valuasi, utilisasi kapasitas, investasi baru, kebutuhan belanja modal, struktur kepemilikan saham, kompetisi, serta realisasi kontrak pelanggan.

Dengan kata lain:

AI boom adalah tema industri, bukan jaminan return saham tertentu.

 

Kesimpulan

Indonesia memang memiliki modal besar untuk menjadi salah satu hub AI di Asia Tenggara.

Pasarnya besar, kebutuhan komputasi meningkat, sumber daya energi melimpah dan pemain global mulai masuk. CoreWeave bahkan telah memilih Indonesia sebagai lokasi pertama ekspansinya di Asia-Pasifik dengan proyek 360 MW.

IDPRO memperkirakan kapasitas pusat data nasional dapat mencapai sekitar 1,7 GW pada akhir 2026, sementara potensi pipeline jangka panjang disebut bisa mencapai 11,7 GW pada 2030.

Tetapi perlombaan AI tidak akan dimenangkan hanya dengan memiliki lahan dan populasi besar.

Faktor penentunya justru adalah seberapa cepat Indonesia menyediakan listrik yang besar, stabil, kompetitif dan semakin bersih ketika perusahaan teknologi global datang membawa kebutuhan komputasi dalam skala ratusan megawatt.

Jadi, pertanyaan terbesarnya bukan lagi:

“Apakah Indonesia punya potensi menjadi pusat AI?”

Melainkan:

“Bisakah Indonesia membangun listrik dan infrastrukturnya secepat pertumbuhan permintaan AI?”

Disclaimer: Informasi mengenai DCII dalam artikel ini bersifat informatif dan bukan rekomendasi personal untuk membeli atau menjual saham.

Sumber: bisnis.com

Bagaimana pendapat Anda tentang topik ini? Sampaikan pendapat Anda kepada kami. Jangan lupa follow akun Instagram, TikTok, Youtube Digivestasi agar Anda tetap update dengan informasi terkini seputar ekonomi, keuangan, teknologi digital dan investasi aset digital

 

DISCLAIMER

Seluruh informasi yang terkandung dalam situs kami rangkum dari sumber terpercaya dan dipublikasikan dengan niat baik dan bertujuan memberikan informasi umum semata. Tindakan apa pun yang dilakukan oleh para pembaca atas informasi dari situs ini adalah merupakan tanggung jawab mereka pribadi.